KEGIATAN BELAJAR 1
PENGERTIAN ALKITAB.
Kita mulai pengantar Kitab
Suci, khusus Perjanjian Lama ini dengan suatu pertanyaan apakah Alkitab itu?
Pertanyaan ini penting sebelum kita mengambil langkah lebih lanjut untuk
mempelajari Kitab Suci. Di bawah ini akan dijelaskan apa sebenarnya Alkitab
itu.
1.
Alkitab
Adalah Kitab Suci Orang Kristen
Kata Alkitab berasal dari bahasa Arab dan
secara harafiah berarti buku “Kitab Suci“, ahal Alkitab artinya umat yang
memmiliki Kitab Suci.
2.
Alkitab
adalah suatu buku yang unik
Alkitab adala suatu buku dan sebagai buku
dapat ditempatkan di antara atau di samping buku yang lain unmtuk menyadari
ciri-ciri yang khas.
Alkitab adalah buku yang unik, keunikan ini nampak:
1. Judul Alkitab kita ambil dari bahasa Arab.
Dalam bahasa Yunani Alkitab disebut Bibla
artinya kitab-kitab (bdk 2 Tim 4:13).
Nama latin ini kemudian diambil oleh banyak bahasa Eropa lainnya seperti
Inggris (Bible), Belanda (Bijbel), Jerman (Bibel), dan Italia (Bibblia). Jumlah
buku yang membentuk Alkitab ada 73 buah. Dengan demikian kita dapat menyebut
Alkitab sebagai suatu perpustakaan kecil.
2. Alkitab kita adalah suatu terjemahan. Dalam
bahasa asliya, Alkitab sebenarnya ditulis dalam tiga bahasa, yakni Ibrani, Aram
dan Yunani. Bahkan ada buku yang ditulis dalam dua bahasa, misalnya Ester dalam
bahasa Ibrani dan Yunani
3. Sebagai atau satu buku Alkitab tidak
mencantumkan penulisnya, namun Alkitab tidak jatuh atau turun dari langit.
Alkitab benar-benar ditulis oleh manusia. Nama penulis yang disebut hanya
terdapat dalam sejumlah kecil kitab. Sebagian besar tidak mencantumkan nama
penulisnya. Dari data-data singkat yang diberikan kita dapat melihat bahwa
penulis-penulis ini tidak hidup dalam satu zaman dan juga tidak pada satu
tempat atau daerah. Jarak waktu yang memisahkan pengarang-pengarang ini satu
sama lain bisa sampai 10 abad
4. Karena ada penulis, maka dengan sendirinya
buku-buku ini ditulis dalam aneka ragam bahasa. Jenis kesustraannya pun ada
bermcam-macam. Ada prosa, puisi, cerita, hukum, pidato, kotbah, surat,
nyanyian, otobiografi dan sebgainya.
5. Alkitab adalah buku gereja, buku imannya.
Buku yang unik tidak dapat dipisahkan dari Gereja. Alkitab adalah buku
Gereja, buku iman.
Alkitab tidak dapat dipisahkan dari Gereja, dari suatu umat yang percaya.
Gereja ada lebih dahulu dari Alkitab. Gereja yang sekarang adalah pewaris,
penerus dan pengaku iman yang tidak terputus dari suatu umat yang menerima dan
mengaku bahwa Allah telah menyatakan diri kepada mereka. Umat perdana atau
Gereja para Rasul telah mengalami pernyataan diri Allah, kemudian memberi
kesaksian, dan akhirnya menulis pengalaman-pengalaman dan kesaksian-kesaksian
itu. Latar belakang, alsan dan tujuan penulis itu dapat dirumuskan
bermacam-macam. Bagaimanapun juga mereka yang telah menulis itu mau membagikan
pengalaman imannya dan pengalaman iman umat untuk mengundang orang lain masuk
dalam persekutuan iman dengan mereka. Penulis merupakan bukti dan jaminan yang
sukar dibantah dari segala kebenaran yang disaksikan.
Alkitab kita dari Gereja. Gerejalah yang menyaksiakan bahwa buku ini
adalah Kitab Sucinya. Tanpa Gereja kita tidak mungkin mengatakan bahwa buku ini
adalah Kitab Suci.
3.
Alkitab
adalah buku kesaksian tentang Allah dan jawaban manusia.
Alkitab adalah buku iman Gereja dan hal yang
paling mendasar dari pengakuan iman ini ialah bahwa Allah telah menyatakan
dirNya kepada manusia dalam sejarah. Seluruh Alkitab menyaksikan hal ini.
Perjanjian lamaadalah kesaksian tentang karya
Allah dalam sejarah Israel. Yang memberikan kesaksian ini ialah Israel. Allah
telah hidup dan bergaul dengan mereka dan sejarahnya yang panjang dan penuh
gejolak itu adalah sejarah Allah. Sejarah ini dimulai dengan janji yang
diberikan Allah kepada nenek moyang mereka yakni untuk memberikan tanah Kanaan
kepada mereka sebagai milik pusaka. Sebelum diberikan, nenek moyang mereka
hidup di Mesir sebagai budak. Sejarah hidup mereka di tanah perjanjian yang
berlangsung kurang lebih 7 abad adalah sejarah yang penuh pergolakan dan
tantangan di tengah-tengah bangsa lain.
Perjajian Baru adalah kesaksian tentang karya
Allah dengan umat manusia dalam diri Yesus Kristus. Seluruh kesaksian
Perjanjian Baru bepusat pada Kristus. Seluruh kesaksian Perjanjian Baru
berpusat pada Kristus. “Setelah jaman dahulu Allah berulangkali telah berbagai
cara berbicara kepada nenek moyang Kits dengan perantara para Nabi, maka pada
jaman akhir ini ia telah berbicara kepada kita dengan perantara Putera-Nya.”
(Ibr. 1:1-2a). dalam Yesus Kristus Allah telah berbicara secara definitif
kepada manusia: “Oleh Dialah Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah
cahaya kemulian Allah dan gambar wujud Allah. Ia penopang segala yang ada
dengan firman-Nya yang penuh kuasa. Dan setelah ia selesai mengadakan penyucian
dosa.
4.
Alkitab
adalah sabda Allah dalam bahasa manusia. Kita perlu mengerti pengakuan Iman ini
dengan baik karena kerapkali orang mengalami kesukaran bahkan keragu-raguan
apabila membaca teks-teks tertentu dan menanyakan apakah ini sabda Allah atau
tidak. Sebagian besar teks Kitab suci berbentuk cerita dan kerapkali orang
menjadi bingung dan menanyakan apa yang disebabkan Allah dalam cerita tersebut
berbicara langung pada pembaca atau pendengar sekarang. Alkitab adalah Sabda
Allah, karena Dia memberikan Kesaksian tentang Allah dan jenis karya-Nya dan
sabda-Nya Kesaksian apa yang diberikan tentang Allah dan jenis kesaksian itu
telah kita lihat diatas. Puncak dari kesaksiannya tentang Allah ialah: tentang
Yesus yang adalah Sabda Allah sendiri dalam daging atau kelemahan tentang Yesus
yang adalah Sabda Allah sendiri dan daging atau kelemahan wujud manusia (Yoh.
1:1-18)
Perjanjian Baru diresapi seluruhnya oleh Sang
Sabda, oleh pribadi-Nya, kehadiran dan Sabda-Nya. Mendengar bacaan-bacaan
Perjanjian Baru membawa pendengar langsung berkontak dengan Kristus, dengan
Allah Bapa-Nya. Hal yang lama berlaku pula untuk Perjanjian Lama. Meskipun
tidak sama kekutannya di mana-mana. Membaca Perjanjian Lama terus menerus
membawa kita untuk berkotak dengan pikiran dan perasaan Allah, menghadapi kita
dengan kehadiran-Nya. Mengapa Kitab Suci bersifat demikian? Pertanyaan ini
membawa kita pada alas an kedua, yakni karena Kitab Suci ditulis atas dorongan,
hembusan dan ilham Roh Kudus. Kita dengarkan kesaksian 2 Ptr. 1:2 Gereja-21:
“Yang terutama kamu harus ketahui ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak
boeh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan
oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara
atas nama Allah”. Karena Roh Allahlah yang menjiwai segala yang disampaikan,
maka “Firman Allah itu hidup dan kuat dan lebih tajam dari pedang bermata dua
manapun; Ia masuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan
sumsum. Dia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibr. 4:12).
Kitab Suci bukan hanya memberi kesaksian tentang Allah tetapi sanggup
mengundang dan memasuki hati setiap orang yang percaya untuk menjawab sabda
tersebut, bergaul dengan Allah dan memasukki hidup Allah.
Kitab Suci berisikan Sabda Allah yang ditulis
dan bahasa manusia. Allha berbicara dengan manusia lewat perantara penulis yang
menulis Sabda Allah itu dengan cara dan bahasa yang dipakai manusia.
Dari keterangan diatas kita sekarang dapat
melihat bahwa Kitab Suci adalah Sabda Allah, Dia adalah tanda dan peringatan
yang hidup bahwa sampai hari ini Allah masih berbicara dengan manusia dan
mengundang Dia untuk menjawab Sabda-Nya. Tuhan hadir dan berbicara melalui
pengalaman dan perjuangan manusia yang disaksikan di dalamnya, melalui sejarah
manusia. Kehadiran Allah ini adalah kehadiran yang hidup. Dia berbicara dan
menyatakan diri-Nya dalam hidup. Sabda-Nya bukan pertama-tama kata-kata untuk
dipelajari tetapi untuk dihayati, “Suatu hidup untuk dibagi bersama, panggilan
untuk diikuti dan pengalaman untuk dicoba”.
Sabda Allah ini menjadi pribadi dalam diri
Yesus Kristus. Karena itu Ia merupakan suatu undangan untuk suatu pertemuan,
dengan Bapa dan Putera-Nya Yesus Kristus dalam Persaudaraan Iman. (bdk. 1 Yoh
1:1-4)
5.
Alkitab
disebut juga ‘Perjanjian’
Alkitab disebut “Perjanjian” oleh karena
berisikan “Perjanjian Allah dengan manusia”. Dalam Alkitab diceritakan dan
dipikirkan segala sesuatu yang berkaitan dengan perjanjian itu, yaitu Allah dan
manusia, setia dan/tidak setia pada perjanjian itu; bagaiman perjanjian itu
terlaksana atau tidak terlaksana.
Kata “Perjanjian” dipakai untuk mengatakan
bahwa antara Allah dan manusia terjalin hubungan istimewa, bukan hubungan
alamiah saja. Hubungan itu sekaligus juga berbeda dengan hubungan antar manusia
yang terjalin melalui sebuah perjanjian. Kata asli perjanjian dalam bahasa
Ibrani adalah “Berit” yang dalam Perjanjian Lama berarti perjanjian dua pihak
yang tidak sederajat; jadi dibuat menurut pola perjanjian antara raja penakluk
dan raja yang ditaklukkan yang harus membayar upeti. Pihak yang kuat mewajibkan
dirinya melindungi yang lemah; sebagai balasan, pihak yang lemah menyatakan
kesediaan untuk mengabdi (bdk 2 Sam 3:12) kepada yang kuat, disaksikan Tuhan (1
Sam 20:8). Dengan bersumpah, kedua pihak menjamin pelaksanaan kewajiban mereka
masing-masing. Dalam rangka hubungan manusia dengan Allah, maka pihak Allah
akan selalu setia dalam janji-janji-Nya, namun kesetian Allah tidak pernah
tergantung dari ketidaksetiaan manusia. Sedangkan bangsa Israel/manusia
berjanji akan melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Rumusan perjanjian berakhir
dengan berkat-berkat ataupun kutukan yang sepenuh-penuhnya tergantung dari
pelaksana perjanjian dalam kenyataan (Kel 19:5.8). landasan setiap perjanjian
adalah prakarsa Tuhan semata-mata. Manusia tidak boleh lupa sesaat pun, bahwa
melalui perjanjian-perjanjian itu Allah sendiri yang bertindak.
KEGIATAN BELAJAR 2
PENTINGNYA STUDI KITAB SUCI BAGI
HIDUP GEREJA
1.
Alkitab
adalah buku yang sukar
Kerapkali kita mendengar keluh kesah umat
bahwa mereka tidak mengerti apa yang dibaca. Memang kadang-kadang pembacaan itu
dapat menghibur dan menguatkan iman mereka, tetapi sebagian besar isi Kitab
Suci tidak mudah ditangkap maksudnya. Harus kita akui bahwa Alkitab adalah buku
yang sukar, tidak mudah dicernakan,. Kesukaran ini sudah dialami sejak Gereja
Para Rasul. Penulis surat kedua Petrus sudah memperingatkan para pendengar di
jamannya untuk tidak menafsirkan Kitab Suci seturut kehendaknya (bdk 2 Ptr
1:20-21). Tentang surat-surat Paulus dia mengatakan ada hal-hal yang sukar
dipahami (2 Ptr 3:16). Sida-sida dari Etiophia yang gemar membaca Kitab Suci
mengalami kesulitan untuk mengerti kitab Yesaya (Kis 8:26-40). Kedua murid dari
Emaus ditegur oleh Yesus sebagai orang bodoh yang sangat lamban hatinya
sehingga tidak mengerti apa yang ditulis oleh para nabi (bdk Luk 24:25). Para
pemimpin Yahudi kerap dikecam oleh Yesus karena tidak mengerti Kitab Suci dan
bagaimana harus membacanya (bdk Mat 22:23-24.41-46; Yoh 5:39-40). Jika Alkitab
sudah sukar dimengerti oleh orang-orang pada jaman Yesus hidup dan para Rasul
yang masih berasal dari latar belakang kebudayaan yang sama, apalagi kita.
Mengapa Alkitab itu adalah suatu buku yang sukar?
Pertama karena cirri sejarah dan pernyataan
diri Allah. Allah tidak menyatakan dirinya kepada manusia dari jaman dan tempat
tertentu. Dia berbicara kepada manusia dan dengan cara manusia. Dari sebab itu
bahasa Wahyu Allah dengan sendirinya terikat kepada jaman dan kebudayaan di
mana Allah manyatakan diri-Nya. Kebudayaan mereka dalam banyak hal berbeda
dengan kebudayaan kita. Di samping itu jarak waktu yang memisahkan kita dengan
mereka juga amat besar. Sifat kesejarahan ini dipersulit lagi karena Allah
telah menyatakan diri-Nya bukan dalam satu dua tahun tetapi dalam kurun waktu
lebih kurang 2000 tahun, yakni dihitung mulai dari panggilan Abraham yang tidak
diketahui dengan pasti kapan peristiwa besar itu terjadi.
Kedua karena Alkitab terdiri dari banyak buku, ditulis
oleh banyak orang dalam jaman dan tempat yang berbeda-beda dan dalam aneka
ragam bentuk kesusasteraan. Untuk mendalami Alkitab secara lebih baik
bagaimanapun juga kita harus memiliki rasa kesusasteraan, mengenal bagaimana
bahasa bekerja. Tidak sedikit bagian Kitab Suci yang tertulis dalam bentuk
puisi.
Ketiga karena isinya yakni tinggi dan
dalamnya, panjang dan lebarnya rahasia Allah dan karya-Nya yang disampaikan
kepada kita. Beberapa surat Rasul Paulus misalnya tidak mudah dibaca.
2.
Keharusan
dan Tujuan Ilmu-ilmu Alkitabiah
Mengingat kenyataan-kenyataan tersebut di
atas, maka dibutuhkan studi dan ilmu-ilmu Alkitabiah untuk membuka kekayaan
Rohani yang terkandung di dalamnya bagi hidup Gereja. Dibutuhkan beberapa
cabang ilmu Alkitabiah sesuai dengan hakekat dan sifat-sifat Alkitab itu
sendiri. Kami berikan di sini satu dua catatan tentang cabang-cabang Ilmu Alkitab
itu. Aslinya Alkitab itu tertulis dalam bahasa Ibrani, Aram dan Yunani. Dengan
sendirinya untuk mengerti Alkitab dengan lebih mendalam dibutuhkan ilmu bahasa
dengan segala cabangnya. Betapa indahnya kalau kita dapat membaca Alkitab dalam
bahasa-bahasa aslinya karena setiap bahasa mempunyai sifat dan kekayaan
sendiri-sendiri dan hal ini kerap sukar dialihkan kedalam bahasa lain. Bahasa
adalah ungkapan pikiran, pengalaman dan perasaan. Tata bahasanya menunjukkan
bentuk pikiran. Satu contoh untuk menunjukkan betapa pentingnya mengenal bahasa
ialah pernyataan nama Allah di Gunung Horep (Kel 31:14). Dalam bahasa aslinya
berbunyi Ehyeh Esyer Ehyeh artinya secara harafiah “Saya ada Yang Saya ada”.
Apa artinya pernyataan ini? Karena Tuhan telah berbicara melalui manusia pada
jaman dan tempat tertentu, sangat
dibutuhkan geografi dan sejarah Alkitabiah. Tanpa kedua pengetahuan yang
mendasar ini kita sukar sekali mengerti banyak dari pernyataan diri Allah yang
dalam bahasanya sangat terikat kepada tempat dan waktu. Juga kerana sejarah dan
kebudayaan bangsa-bangsa disekitarnya dan seluruh Timur Tengah Purba, maka juga
sangat dibutuhkan ilmu kebudayaan, keagamaan dan sejarah bangsa-bangsa Timur
Tengah Purba. Baru dalam latar belakang ini tampak keunikan Israel dalam
hubungannya dengan bangsa-bangsa lain. Masih ada pendekatan lain
seperti dari sudut sosiologi, dan psikologi.
Semua ilmu cabang
diatas membantu kita untuk mengerti Alkitab dengan lebih baik. Namun dengan itu
kita belum mencapai tujuan terakhir segala karya ilmiah atas Alkitab yakni
penafsiran isi dan amanatnya bagi hidup Gereja. Hal ini dilakukan dalam
eksegese dan teologi Alkitabiah. Akan tetapi kedua cabang ilmu Alkitabiah ini
tidak mencapai tujuannya apabila tidak ada cabangcabang ilmu pembantu di atas.
3.
Keharusan, Tujuan dan Metode Ilmu Pengantar Kitab Suci
Kebutuahan akan adanya suatu pengantar ke
suatu dokumen tertentu dirasakan terutama apabila sudah ada jarak waktu yang
cukup jauh antara dokumen tersebut dan pembaca. Bentuk pengantar dan
macam-macam. Ada yang berupa catatan geografis, sejarah, latar belakang
kebudayaan dengan segala aspeknya dan lain sebagainya. Bagaimanapun juga
tujuannya tidaklah lain daripada untuk memudahkan pembaca mengerti dokumen
tersebut.
Kebutuhan akan adanya
pengantar sudah dirasakan oleh penerbit buku Kitab Suci. Perjanjian Lama
memuat catatan-catatan pengantar semacam itu, misalnya. Lihat semua Kitab Para
Nabi (mis. Yes. 1:1; Yer. 1:1-3; Am. 1:1) dan dalam beberapa Mazmur (Mzm.
18 :51; 52:56; 57:59-60).
Catatan pendahuluan
semacam itu kemudia diperluas sudah sejak permulaan Gereja. Banyak Bapak
Gereja, terutama St. Agustinus dan St. Hironimus, telah menulis catatan
pengantar. Akan tetapi langkah-langkah pertama ke arah suatu pengantar ilmiah
baru muncul pada abad ke 16. Sejak saat itu pengantar Kitab Suci berkembang
menjadi salah satu cabang ilmu Alkitabiah.
Ilmu pengantar
Kitab Suci ingin mendekati dan menerangkan Alkitab secara menyeluruh. Ada
cabang-cabang ilmu Alkitabiah yang mendekati Kitab Suci dari sudut tertentu
yakni sejarah Alkitabiah dan pengantar Kitab Suci. Ilmu pengantar Kitab Suci
dapat merangkum suatu bidang bahan-bahan yang tidak terbatas, artinya apa saja
yang dianggap perlu dan berguna untuk mengerti Alkitab secara keseluruhan. Berdasarkan
pengalaman masing-masing ahli yang tidak jarang dan dalam banyak hal ditentukan
oleh para pendengarnya dan konteks kebudayaan dan kemasyarakatannya telah
ditulis aneka ragam bentuk pengantar Kitab Suci. Secara tradisional para ahli
pada umumnya berpendapat bahwa ilmu pengantar Kitab Suci harus membicarakan
tiga persoalan berikut, yakni sejarah terjadinya Kitab Suci, sejarah Kanon dan
sejarah teks. Dalam pengantar ini kita mau mendekati Alkitab sebagai buku
sejarah, buku kesusasteraan dan buku iman. Itulah ciri-ciri utama Kitab Suci.
Ketiga ciri ini harus dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Kitab Suci adalah kesaksian tentang karya Allah dalam sejarah, yang ditulis
oleh manusia, dan dengan bahasa manusia serta yang menyampaikan kepada kita
rahasia Allah yang tak terduga dan rencana keselamatannya bagi kita manusia. Perlu
diperhatikan bahwa ilmu ini namanya “pengantar”.
Tugasnya ialah seperti memperkenalkan Kitab ini secara menyeluruh dan cukup
mendalam agar para pembaca melihat, mengerti dan mencintai buku ini.
Pengantar ini dibagi dalam dua bagian pokok,
yaitu:
a. Pengantar umum Kitab Suci dengan tekanan pada
Perjanjian Lama.
Pengantar umum
hanya membicarakan tiga hal yang terjadinya Kanon Perjanjian Lama, beberapa
bentuk sastra yang penting dalam Perjanjian Lama; Geografi Alkitabiah dan Garis
Besar Sejarah Israel.
b. Pengantar ke masing-masing bagian Perjanjian
Lama yaitu Pentateukh, Kitab-kitab Sejarah, Kitab-kitab Kebijaksanaan dan
Nyanyian dan akhirnya Kitab-kitab Kenabian.
4.
Pentingnya Studi Kitab Suci Bagi Hidup Gereja.
Di atas telah dikatakan bahwa
tujuan terakhir dari segala karya ilmia atas Kitab Suci ialah mengalami isi dan
amanatnya bagi hidup Gereja. Sekarang dalam bab ini kita mau melihat tempat
studi Alkitab dalam hidup gereja pentingnya studi Alkitab dapat dilihat dari
beberapa sudut:
a. Alitab adalah buku Gereja,
buku imannya.
Dia
adalah sabda Allah dalam bahasa manusia. Gereja melihatnya sebagai suci dan
ilahi karena didalamnya terdapa Sabda Allah. Dari Sabda itu, Alkitab, bersama
tradisi, nerupakan “hukum dan kaidah tertinggi dari Iman Gereja”
Alkitab
sebagai Sabda Allah adlah santapan kehidupan gereja dan gereja selalu
menghormati Alkitab seperti dia menghormati Tubuh Tuhan. Hal ini tampak jelas
sekali dalam Liturgi terutama dalam liturgi Ekaristi. Hanya ada satu meja
santapan kehidupan Gereja dan meja itu terdiri dari Sabda Allah dan Tubuh
Kristus. Karena Sabda Allah adalah santapan kehidupan Gereja, Gereja tidak
mungkin bertumbuh, berkembang dan diperbaharui tanpa Sabda Allah.
Karena Alkitab mempunyai tempat yang begitu vital dalam
kehidupan Gereja, maka Alkitab harus terbuka lebar-lebar bagi semua orang
beriman. Adalah hak setiap orang beriman untuk memiliki Alkitab dan menerima
santapan kehidupan daripadanya. Dari sebab itu, menjadi kewajiban para Uskup
untuk mengajar umat beriman bagaimana menggunakan buku ini teristimewa
Perjanjian Baru dan terutama Injil secara tepat.
Studi Alkitab secara
mendalam disertai doa tuntut secara istimewa dari para Imam, Calon Imam,
Diakon, Katekis Dan Guru-Guru Agama. Tugas utama seorang Katekis ialah
mewartakan Sabda Allah baik kepada kaum beriman maupun yang belum beriman
kepada Kristus. Melalui pelayananlah, Sabda Allah menjadi santapan kehidupan
umat. Kitab Suci harus menjadi buku renungan mereka setiap hari agar mereka
dapat belajar “Keunggulan pengenalan akan Kristus melampaui segala sesuatu”
(Flp. 3:8). Studi Alkitab terutama dalam mempersiapkan khotbah dan pendalaman
Iman haruslah dilihat sebagai salah satu tugas Pastoral yang utama. Bagi Guru
Agama sendiri Studi Alkitab amat penting. Tugas utama Guru agama adalah
menyampaikan dan mewartakan Sabda Tuhan kepada anak didiknya. Untuk itu Guru
Agama sendiri harus mendalami Sabda Tuhan dalam Kitab Suci, hal ini hanya
mungkin jika Guru Agama sendiri dengan tekun mempelajari dan merenungkan Sabda
Tuhan.
Studi Alkitab masih mempunyai fungsi lain bagi hidup Gereja
yakni agar Gereja berkembang dan selalu menjadi lebih dewasa dalam pengertian
tentang Imannya. Studi adalah salah satu jalan dari perkembangan ini.
b. Salah satu persoalan utama
yang dihadapi Gereja sekarang ialah inkulturasi dan tantangan kemajuan
teknologi modern deangan segala buahnya dan dampaknya. Injil harus meragi
seluruh kekayaan kebudayaan bangsa-bangsa dan zaman serta menjadi jiwanya.
Untuk mencapai maksud ini, salah satu tugas utama Gereja ialah mendalami
kembali Wahyu Ilahi seperti yang disaksikan oleh Alkitab dan dijelaskan oleh
para Bapa Gereja dan Magesterium. Tanpa studi yang mendalam atas Kitab Suci
orang akan kehilangan jalan, arah dan sarana untuk menjadikan Injil jiwa
seluruh kekayaan bangsa dan zaman.
c. Salah satu panggilan utama
Gereja sekarang di tanah-tanah misi ialah memajukan persatuan dan kesatuan
kemabali antara seluruh umat Kristen. Panggilan ini benar-benar merupakan suatu
tugas Injili (Yoh. 17). Gereja Katolik mengakui bahwa “Cinta serta perhormatan
bahkan seperti ibadah kepada Kitab Suci membuat saudara-saudara kita tekun dan
rajin mempelajari Kitab ini.” Jadi dalam Gereja Katolik, dia merupakan “alat
istimewa dalam tangan Allah Yang Maha Kuasa untuk mencapai kesatuan yang
ditawarkan Sang Penyelamat kepada semua manusia.
5.
Cara Mengutip Kitab Suci
Kitab Suci sekarang terbagi
atas bab-bab dan ayat-ayat. Pembagian ini tidak asli karena baru dibuat para
ahli sekitar Tahun 1500 Masehi. Tujuannya memudahkan orang mengutip Kitab Suci
dan menolong pembaca untuk menemukannya kembali dalam Alkitab.
Cara mengutipnya adalah
sebagai berikut :
Kej 5:9 artinya Kitab Kejadian bab
5, ayat 9
Kej 5:9-20 artinya Kitab Kejadian bab 5,
ayat 9-20
Kej 5:9.11-15 artinya Kitab Kejadian 5, ayat 9
dilanjutkan ayat 11-15
Kej 5-6 artinya Kitab Kejadian bab 5
sampai dengan bab 6
Kej 5:1-6:10 artinya Kitab Kejadian bab 5 ayat 1
sampai bab 6 ayat 10
Kej 5:4; 7:4 artinya Kitab Kejadian bab 5, ayat
4 dan bab 7, ayat 4
Kej 5:4: Kel 4:5 artinya Kitab Kejadian bab 5, ayat 4 dan
Kitab Keluaran bab 4 ayat 5
Kutipan-kutipan Alkitab dibuat
kependekan. Kependekan yang lazim dipakai di Indonesia dan yang disepakati oleh
pihak Katolik dan Protestan adalah sebagai berikut :
-
Kej Kejadian
-
Kel
Keluaran
-
Im
Imamat
-
Bil
Bilangan
-
Ul
Ulangan
-
Yos Yosua
-
Hak Hakim-hakim
-
Rut
Rut
-
1 Sam 1
Samuel
-
2 Sam 2 Samuel
-
1 Raj 1
Raja-raja
-
2 Raj 2
Raja-raja
|
-
1 Taw
1 Tawarikh
-
2 Taw
2 Tawarikh
-
Ezr
Ezra
-
Neh
Nehemia
-
Rat
Ratapan
-
Bar
Barukh
-
Yeh
Yehezkiel
-
Dan
Daniel
-
Hos
Hosea
-
Yl Yoel
-
Am
Amos
-
Ob
Obaja
-
Yun
Yunus
-
Tob
Tobit
-
Ydt
Yudit
-
Est
Ester
-
1 Mak
1 Makabe
-
2 Mak
2 Makabe
-
Ayb
Ayub
-
Mzm
Mazmur
|
-
Ams Amsal
-
Pkh Pengkotbah
-
Kid Kidung Agung
-
Keb Kebijaksanaan
Salomo
-
Sir Yesus bin Sirakh
-
Yes Yesaya
-
Yer Yeremia
-
Mi Mikha
-
Nah Nahum
-
Hab Habakuk
-
Zef Zefanya
-
Hag Hagai
-
Za Zakharia
-
Mal Maleakhi
|
6.
Bahasa-bahasa Asli Kitab Suci
Alkitab yang kita miliki
adalah sebuah terjemahan yang dibuat atas dasar Alkitab asli yang ditulis dalam
bahasa-bahasa lain. Bahasa-bahasa asli Kitab Suci ada tiga yaitu Bahasa Ibrani,
Aram dan Yunani. Perjanjian Baru seluruhnya ditulis dalam bahasa Yunani.
Sebagian besar Perjanjian Lama
ditulis dalam bahasa Ibrani. Bahasa ini termasuk rumpun bahasa-bahasa yang
disebut “bahasa Semit” yang dipakai bangsa-bangsa yang berkediaman di kawasan
Timur Tengah (kecuali Turki). Bahasa Ibrani cukup berdekatan dengan bahasa Aram
dan Arab. Bahasa Ibrani Kitab Suci ialah bahasa Ibrani Kuno.
Hanya sebagian kecil
Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Aram, yaitu Ezra (4:8-6:18’ 7:12-26) dan
sebagian kitab Daniel (2:4b-7:28). Bahasa Aram serumpun dengan bahasa Ibrani.
Bahasa Aram inilah yang dipakai sebagai bahasa sehari-hari pada zaman Yesus
Kristus. Akan tetapi dewas ini bahasa Aram tidak dipakai lagi, kecuali oleh
beberapa kelompok kecil orang Kristen di Palestina dan Libanon. Orang Yahudi
sendiri dewasa ini menggunakan bahasa Ibrani. Bahasa Aram aslinya berasal dari
bangsa Aram yang berkediaman di kawasan sungai Efrat dan Tigris serta negeri
Siria. Tetapi sekitar tahun 800 sebelum Masehi bahasa Aram telah menjadi bahasa
Internasional. Pada waktu bangsa Israel dibuang, umat Israel mengganti bahasa
Ibrani dengan bahasa Arama, sehingga kemudian mejadi bahasa sehari-hari.
Hanya dua Kitab Perjanjian
Lama yang langsung ditulis dalam bahasa Yunani, yaitu 2 Makabe dan
Kebijaksanaan Salomo. Tetapi ada beberapa kitab yang aslinya ditulis dalam
bahasa Ibrani atau Aram, diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Dan akhirnya
yang terpelihara tinggallah yang berbahasa Yunani. Kitab-kitab ini adalah
Yudit, Tobit, 1 Makabe, Tambahan Kitab Daniel, Tambahan Kitab Ester, Sirakh,
aslinya bahasa Yunani dari negeri Yunani. Tetapi semenjak Alexander Agung (sekitar
tahun 330 sebelum Masehi) merebut seluruh kawasan Timur Tengah, bahasa Yunani
menjadi bahasa Internasional
KEGIATAN BELAJAR
1
KANON DAN PROSES
TERBENTUKNYA PERJANJIAN LAMA
1.
Kanon Kitab Suci
Kata kanon adalah sebuah kata Yunani yang berasal dari bahasa Ibrani qane yang berarti tongkat luru atau tongkat pengukur (bdk Yeh 40:3). Dalam bahasa
Yunani kata kanon digunakan dalam
arti kaidah atau patokan (bdk 2 Kor 10:13; Gal 6:6). Dalam kaitan dengan Kitab Suci,
kata Kanon diarikan daftar resmi dari kitab-kitab yang menjadi
ukuran, pedoman atau kaidah iman gereja. Dengan kata lain kanon berarti daftar kitab-kitab yang
diterima Gereja sebagai Kitab Suci atau Kanonik.
2.
Istilah Perjanjian Lama
Istilah “Perjanjian Lama”
kemungkinan berasal dari St. Paulus (2 Kor 3:14). Istilah ini mungkon dibentuk
berdasarkan pandangan Yeremia (Yer 31:34). Perjanjian Lama adalah perjanjian
yang diikat Tuhan dan umat Israel di Sinai (Kel 19:24). Sedangkan Perjanjian
Baru adalah perjanjian yang diikat Tuhan dengan seluruh umat manusia dengan
Kristus (Luk 22:20). Kata perjanjian dipakai untuk menunjukkan jalinan istimewa
antara Allah dengan manusia.
Sejak tahun 1975 ketika
diterbitkan Alkitab lengkap dalam bahasa Indonesia sebagai hasil usaha Ekunemis
antara sejumlah besar Gereja Protestan dan Gereja Katolik, kita melihat bebeapa
perbedaan yang antara lain.
-
Pada kulit Kitab Suci yang diterbitkan untuk umat Katolik tertulis
“ALKITAB DEUTEROKANONIKA”. Sedabgkan untuk umat Protestan tidak ada tulisan
DEUTEROKANONIKA .
-
Apabila kitamelihat daftar isinya ternyata juag terdapat perbedaan dalam
jumlah buku yang diterima sebagai kanonik. Umat Katolik memiliki 46 buku
Perjanjian Lama, sedangkan umat Protestan hanya memiliki 39 buku.
3.
Kanon Kitab Suci dalam agama Yahudi
Mengapa ada perbedaan jumlah
kitab Perjanjian Lama antara Gereja Katolik dengan Gereja Protestan? Hal ini
berkaitan dengan kononisasi Kitab Suci. Kanon Kitab Suci Gereja Protestan
berdasarkan pada Kanon Kitab Suci orang Yahudi, sehingga Kitab Suci Perjanjian Lama
Yahudi sama dengan Kanon Kitab Suci orang Protestan. Proses terjadinya Kanon
Kitab Suci orang Yahudi sangat panjang dan runit. Hal ini disebabkan oleh
karena Kitab Suci tidak terjadi dalam satu atau dua tahun, tetapi penulisan
Kitab Suci Perjanjian Lama memakan waktu kurang lebih 10 abad.
Kanon Kitab Suci dalam agam
Yahudi dibagi dalam 3 kelompok, yaitu :
a. Kelompok Pertama ialah Taurat
(Ibraninya Torah) atau Kitab Taurat
Musa yang meliputi : Kejadian, Keluaran, Bilangan, Imamat, dan Ulangan. Kitab
Taurat termasuk bagian Kitab Suci agama Yahudi yang pertama-pertama dibuktikan
dan diakui sebagai kanonik. Hal ini mungkin terjadi sekitar abad kelima atau
keempat sebelum Masehi.
b. Kelompok Kedua ialah
kitab-kitab para Nabi (Ibraninya Nebi’im),
yang meliputi :
1) Nabi-nabi awal : Yosua,
Hakim-hakim, 1,2 Samuel, 1,2 Raja-raja
2) Nabi-nabi kemudian : Yesaya,
Yerimia, Yehezkhiel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk,
Zefanya, Hagai, Meleakhi dan Zakaria.
Jadi
tidak termasuk dalam kelompok ini adalah Ratapan dan Daniel. Kelompok ini sudah
diterima sebagai Kitab Suci sebelum permulaan abad kedua sebelum Masehi.
3) Kelompok Ketiga yang disebut Ketubin artinya Kitab-kitab atau tulisan-tulisan
(lain), yang meliputi :
a. Mazmur, Ayub, Amsal (ketiganya
disebut tulisan-tulisan besar)
b. Rut, Kidung Agung, Pengkotbah,
Ratapan, Ester (kelimanya disebut lima gulungan)
c. Daniel, Ezra, Nehemia, 1,2
Tawarikh.
Jumlah kitab yang termasuk kelompok ini masih terbuka samapai
dengan zaman Kristus dan abad pertama Kekristenan
Pada
umumnya dapat dikatakan bahwa dasar pengurutan dan pengelompokkan kitab-kitab
ini kedalam tiga bagian ialah menurut waktu pengakuan kitab-kitab itu sebagai
kanonik.
4.
Terjadinya Kanon Perjanjian Lama
Kitab Suci Yesus dan para
Rasul adalah Perjanjian Lama. Pada zaman Gereja Purba belum ada keseragamaan
jemaat-jemaat mengenai kanon Kitab Suci. Gereja para Rasul menggunakan Kitab
Suci dalam Bahasa Yunani yang disebut Septuaginta
(disingkat LXX). Kitab ini bukan melulu terjemahan Yunani dari Kitab Suci
dalam dalam bahasa Ibrani, sebab Septuaginta memuat lebih banyak kitab daripada
yang terdapat dalam kanon Yahudi (Kanon Yamnia).
Kitab yang terdapat pada
Septuaginta tetapi tidak terdapat dalam kanon Yamnia adalah :
-
Tobit
-
Yudith
-
Barukh
-
Tambahan kitab Ester
-
Doa Manase
-
Kebijaksanaan Salomo
-
Yesus bin Sirakh
-
Mazmur Salomo
-
Tambahan Kitab Daniel
-
1,2 Makabe
-
Surat Yeremia
-
1,2 Ezra
Perbedaan yang
terdapat pada Septuaginta dengan kanon Yamnia bukan melulu terletak pada
banyaknya buku. Ada perbedaan yang lebih dalam yakni bahwa ada beberapa kitab
dalam Siptuaginta mencerminkan pengaruh kebudayaan Yunani atau reaksi terhadap
kebudayaan itu.
Sejarah terjadinya kanon
Perjanjian Lama panjang dan rumit. Pada mu.lanya masing-masing Gereja setempat
(Suriah, Palestina, Asia Kecil, Yunani, Roma, dan lain-lain) mempunyai
kitab-kitab “kanonik”nya sendiri-sendiri. Tentu saja ada persamaan besar antara
mereka meskipun ada juga perbedaannya.
Di bagian Barat
dunia Kekristenan waktu itu Gereja merupakan terjemahan Alkitab dalam bahasa
Latin yang disebut Vetus Latina. Terjemahan itu diambil dari Septuaginta. Pada Abad ke
4, diadakan Konsili dai Kartago (diberi nama Konsili Kartago) untuk menetapkan
kitab-kitab yang tidak terdapat dalam kanon Yahudi.
Pada waktu itu terdapat banyak
terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin, tetapi tidak seragam. Maka pada tahun
382, St. Hirenimus diperintahkan oleh Paus Damasus untuk menterjemahkan Kitab
Suci secara lebih kritis. Terjemahan baru ini adalah terjemahan langsung dari
bahasa Ibrani kedalam bahasa Latin. Terjemahan ini pada permulaannya belum
banyak yang menggunakannya, namun lama kelamaan terjemahan St. Hirenimus
diterima dan dipakai bersama Vetus Latina. Sejak abad ke 16 terjemahan St.
Hirenimus dengan gabungan beberapa bagian dari Vetus Latina disebut Vulgata, dan menjadi terjemahan resmi
Gereja Katolik.
Kanon Perjanjian
Lama ditetapkan secara definitip oleh Konsili Trente dalam sidangnya pada
tanggal 8 April 1546. Konsili mengambil sikap ini karena orang Protestan
menolak semua kitab yang tidak terdapat dalam kanon Yahudi (Kanon Yamnia).
Konsili memutuskan menerima 46 kitab Perjanjian Lama sebagai kanonik. Protestan
hanya mengakui dan menerima 39 kitab Kanonik Perjanjian lama. Kitab-kitab yang
diakui sebagai kanonik oleh Gereja Katolik melalui Konsili Trente tetapi
ditolak oleh Gereja Protestan adalah :
-
Yudith
-
Tobit
-
Kitab Barukh
-
Kebijaksanaan Salomo
-
Yeus bin Sirakh
-
1,2 Makabe
-
Tambahan Kitab Ester
-
Tanbahan Kitab Daniel
-
Surat Yeremia
Catatan : kesepuluh tambahan
ini dihitung tujuh, karena, Surat Yeremia digabung dengan Barukh (Barukh bab
6). Tambahan kitab Ester dijadikan satu dengan kitab Ester, tambahan kitab
Daniel dijadikan satu dengan kitab Daniel.
Kitab-kitab ini sejak abad ke
16 disebut Deuterokononika artinya kitab-kitab yang diterima kedua sebagai
kanon. Kitab-kitab lain disebut protokononika
arinya kitab-kitab yang pertama
diterima sebagai kanon.
Adapunmenjadi
dasar atau kriteria penetapan kanon Perjanjian Lama oleh Konsili Trente adalah
penggunaan kitab tersebut secara terus menerus dalam Gereja, baik dalam
teologi, ibadat maupun dalam katekese. Kitab-kitab menjadi santapan kehidupan
Gereja dan merupakan ungkapan imannya. Penetapan Konsili Trente bersifat
definitip artinya kanon Kitab Suci Perjanjian Lama maupun Kitab Suci Perjanjian
Baru sudah Final.
1.5. Pembagian perjanjian lama
Urutan dan pengelompokan
kitab-kitab dalam Septuaginta berbeda yang terdapat dalam kanon Yamnia. Urutan
dan pengelompokan itu tidak dibuat menurut sejarah terjadinya dan penerimaan
sebagai kanonik, tetapi menurut jenis kesusasteraan dan isinya.
Berikut ini dapat dilihat
secara lengkap urutan dan pengelompokan kitab-kitab Perjanjian Lama menurut
tradisi Kristen (Gereja Katolik)
A. Kelompok Pentateukh
Termasuk
kelompok ini adalah : Kejadian (Genesis); Keluaran (Eksodus); Imamat
(Lavesitikus); Bilangan (Numeri); Ulangan (Deuteronomium).
B. Kelompok kitab-kitab Sejarah
Termasuk
dalam kelompok ini adalah : Yosua; Hakim-hakim; Rut; 1,2 Samuel; 1,2 Raja-raja;
1,2 Tawarikh; Ezra; Nehemia; Ester; Tobit; Yudith; 1,2 Makabe.
Kitab-kitab
sejarah pada dasarnya menceritakan apa yang lampau yakni karya Allah kepada
bangasa Israel dan reaksi atau bagaimana bangsa Israel menghayati panggilannya.
C. Kelompok kitab-kitab
Kebijaksanaan dan Nyanyian
Temaasuk
dalam kelompok ini adalah : Ayub; Mazmur; Amsal; Pengkotbah; Kidung Agung;
Kebijaksanaan Salomo; Yesus bib Sirakh.
Kitab-kitab
ini pada dasarnya merefleksikan hidup ini, yakni bagaiman menghayati hidup
secara benar. Jadi kitab-kitab ini melihat ke arah yang sekarang, mengajar kita
bagaiman menghayati hidup ini, sehingga sering pula disebut kita didaktis.
Hampir sebagian besar kitab-kitab ini berbentuk puisi.
D. Kelompok kitab-kitab Kenabian
Kelompok
ini meliputi : Yesaya; Yeremia; Ratapan; Barukh; Yehezkiel; Daniel; Hosea;
Yoel; Amos; Obaja; Yunus; Mikha; Habakuk; Zefanya; Hagai; Zakharia; Maleakhi;
Nahum.
Kitab-kitab
Kenabian berbicara tentang karya Allha dimasa yang akan datang berdasarkan
kenyataan dan pengalaman yang sekarang dan karya Allah di masa lampau. Pada
umumnya kitab-kitab ini berbentuk puisi.
1.6. Prose Terbentuknya Perjanjian
Lama
Kitab Suci Perjanjian Lama
terbentuk melalui proses yang sangat panjang. Sejarah penyelamtan Allah yang
dimulai dengan pilihan Allah terhadap Abraham terjadi pada abad 19/18 SM. Asal
usul Perjanjian Lama, tradisi-tradisi yang terbentuk di sekitar para bapa
bangsa, bermula dari Abraham, manusia yang dipanggil Allah dan yang menerima
janji-janji Ilahi untuknya dan keturunannya. Namun Musalah sang pemimpin dan
pemberi hukum yang pada abad ke 13 SM menghimpun sekelompok suku-suku pelarian
menjadi suatu bangsa, yang mengawali gerakan religius besar-besaran. Gerakan
inilah yang akhirnya menghasilkan tulisan-tulisan yang ternyata merupakan
anugerah Allah kepada umat manusia.
a. Pentateukh atau Taurat Musa
yang mengisahkan awal mula dunia, manusia, sampai terbentuknya bangsa Israel
menjadi suatu bangsa di bawah pimpinan Musa sebenarnya mulai ditulis pada abad
10 SM oleh tradisi Y dan kemudian diikuti oleh tradisi-tradisi lain. Pentateukh
terbentuk sebagaimana yang kita miliki sekarang sekitar abad 6 atau 5 SM.
b. Tulisan-tulisan kenabian mulai
dengan nabi Amos dan Hosea pada abad 8 SM dan ditutup oleh Yoel dan Zakharia
(bab 9-14) pada abad ke SM.
c. Kitab-kitab sejarah meliputi
kurun waktu mulai dengan Yosua sampai 1 Makabe yang ditulis awal abad Pertama
Sebelum Masehi
d. Abad ke 5 SM merupakan masa
yang sangat subur untuk sastra kebijaksanaan (misalnya Ayub), tetapi gerakan
dan tulisan-tulisan kebijaksanaan sudah mulai pada zaman Salomo sampai abad
pertama SM
Hal-hal di uraikan
di atas menunjukkan terbentuknya tulisan-tulisan Perjanjian Lama sungguh
melewati suatu proses yang sangat panjang.
Harus disadari
bahwa sabagian besar tulisan-tulisan Perjanjian Lama bukanlah karya satu orang
melainkan karya banyak orang yang berkembang selama berabad-abad. Semua yang
ikut ambil bagian dalam proses penulisan ini memperoleh inpirasi. Namun
kebanyak dari mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka digerakan oleh Allah.
Memang dalam pengantar ini kita akan memberikan perhatian khusus dari sudut
“manusia” yang memandang tulisan-tulisan Perjanjian Lama sebagai endapan
kekayaan tradisi suatu bangsa yang berkembang selama berabad-abad. Perjanjian
Lama sangat terikat dengan suatu bangsa, yaitu bangsa Israel.
Sebagian besar Perjanjian Lama
didasarkan pada tradisi lisan : Pentateukh sampai kitab Samuel dilandaskan pada
banyak tradisi yang berkaitan terutama dengan para bapa bangsa, Musa, Yosua,
Hakim-hakim, Samuel, dan Daud.
Hagai, Zakharia1-8, Trito Yesaya (56-66)
|
||||
5
|
Pentateukh selesai
|
Rut, Tobit
|
Yesaya 34-35; 24-27.
Maleakhi, Obaja, Yunus
|
Amsal
Ayub
|
4
|
Tawarikh, Ezra, Nehemia
|
Yoel, Zakharia 9-14
|
Mazmur selesai’ Kidung Agung
|
|
3
|
Pengkotbah
|
|||
2
|
2 Makabe
Ester
|
Barukh
Daniel
|
Sirakh
|
|
1
|
1 Makabe
Yudit
|
Kebijaksanaan
|
KEGIATAN BELAJAR
2
GEOGRAFI TANAH
PERJANJIAN
1.
Keadaan Tanah dan Pernyataan Diri Allah
Allah telah mewahyukan
diri-Nya melalui sejarah bangsa Israel yang berdiam disuatu negeri yang
diberikan-Nya sebagai sautu hadiah. Bahasa wahyu Allah dalam banyak hal
ditentukan oleh geografinya. Untuk mengerti lebih baik pernyatan diri Allah
yang diungkapkan dalam Alkitab, kita perlu mengenal keadaan tanah tempat asal
bangsa Israel berdiam. Di bawah ini kita akan melihat beberapa pokok yang
berhubungan dengan geografi, terutama yang berhubungan dengan bahasa Wahyu.
2.
Palestina-Tanah Perjanjian
Tradisi Kristen menyebut tanah
perjanjian dengan nama Palesstina. Nama
ini sebenarnya berasal dari ahli ilmu bumi purba dan modern. Tetapi Kitab Suci
sendiri tidak pernah menyebu tanah perjanjian dengan naama itu. Nama yang diberikan
Kitab Suci untuk menyebut tanah perjanjian adalah :
1. Kanaan. Nama ini berasal dari
nama Anak Ham, cucu Nuh (Kej 10:15-18) kemudian menjadi sebutan bagi bangsa dan
tanahnya (Bil 13:29; Yos 5:1). Sebutan lain adalah : Negeri orang Kanaan (Kel
3:8; 6:3; Ul 1:7)
2. Negeri yang baik dan luas,
suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya (Kel 3:8)
3. Negeri yang dijanjikan Tuhan
(Ul 6:18; 8:1)
3.
Ditengah Bulan Sabit yang Subur
Palestina sebenarnya hanya
satu bagian kecil dari suatu daerah yang secara geografis dapat disebut sebagai
satu kesatuan yang meliputi lembah sungai Tigris, Efrat, Litani, dan Yordan.
Apabila ditarik garis dari Tigris sampai ke Yordan bentuknya menyerupai Bulan
Sabit. Termasuk daerah bulan sabit yang subur adalah lembah sungai Nil. Pengetahuan
mengenai geografi daerah bulan sabit yang subur ini penting apabila kita
membicarakan pangilan Abraham, pengungsian ke Mesir, penduduka Palestina dan
pembuangan Babel.
Dari catatan tersebut diatas
kita dapat melihat bahwa Palestina terletak di ujung daerah bulan sabit yang
subur dan diantara dua daerah subur yang luas, yakni lembah sungai Efrat dan
Tigris dan Lembah sungai Nil. Perjalanan sejarah Israel dalam banyak hal
ditentukan oleh letak terutama karena terletak di dua lembah yang subur dan
luas itu akan muncul kerajaan-kerajaan yang kuat dan kaya.
4.
Batas-Batas tanah Perjanjian.
Batas tanah perjanjian sangat
sukar ditentukan. Hal ini disebabkan oleh perubahan-perubahan yang dialami oleh
Israel dalam perjalanan yang cukup panjang.
Batas timur kemungkinan sungai
Yordan, batas Barat Laut Tengah, batas Selatan disebut Wadi Mesir dan padang
gurun Negeb (Bil 13). Batas utara tidak jelas, biasanya disebut dari Dan sampai
Betsyeba. Tanah perjanjian sebenarnya tidak luas, kurang lebih 13.000 Kilometer
persegi. Jarak paling jauh antara Utara dan Selatan: 235-300 Km dan Timur Barat
(Lebar) antara 60-80 Km. maka Palestina lebih kecil dari pulau Bali misalnya.
5.
Geografi Fisik
1. Daerah pantai dengan daratan
sangat sempit. Bagian selatan daerah ini lama dikuasai oleh orang Filistin,
sedangkan bagian utaranya kecuali Yafa tidak ada pelabuhan alamiah. Perjanjian
Lama jarang menyebut daerah pantai sebagai tempat pernyataan diri Allah.
2. Daerah pegunungan :
1. Di sebelah Utara terletak
pegunungan Hermon yang puncak tertingginya menjulang 2759 m diatas permukaan
laut dan selalu ditutupi salju.
2. Di daerah Selatan (Yehuda)
daerahnya berbukit-bukit dan bergunung. Daerah ini kering sekali dan mendekati
gurun. Bagian paling Selatan, Negeb, merupakan gurun pasir belaka
Sejarah Israel di tanah
perjanjia berkisar terutama di daerah pegunungan, karena di sinilah suku-suku
Israel berdiam. Gunung dan pegunungan dalam sejarah agama memainkan peranan
yang besar. Kesaksian mengenai gunung dan peranannya yang dimainkan dalam
bahasa Iman israel terdapat cukup banyak dalam Kitan Suci, misalnya Mzm
121:1-2; 125:1-2.
3. Daerah Galilea dan Samaria
lebih rata, sehingga daerah itu tidak terlalu kering.
4. Daerah dataran rendah dan
lembah sungai Yordan. Di ujung selatan negeri Palestina terdapat Laut Mati
dengan lembah disekitarnya. Ini merupakan bagian bumi paling bawah yaitu 384 m
dibawah permukaan air laut. Disebut Laut mati karena :
a. Tidak berhubungan dengan laut
luas
b. Kadar garamnya sangat tinggi
sehingga tidak ada ikan yang mampu hidup didalamnya
c. Hawanya sangat panas, sehingga
penguapannya sangat tinggi. Aliran air dari sungai Yordan dan air hujan dari
pegunungan di sekitarnya tidak menjadi soal, karena segera menguap.
Di Palestina tidak banyak
sungai, satu-satunya sungai yang sungguh penting ialah sungai Yordan. Sungai
ini melintasi seluruh negeri dari sebelah utara sampai ujung selatan. Sungai
Yordan bersumber di pegunungan Hermon dan bermuara ke Laut Mati. Sungai ini
berlingkar-lingkar mengalir dalam sebuah lembah tebing dan arusnya agak deras.
Karena tempatnya itu airnya dahulu tidak dapat dimanfaatkan untuk iragasi.
Sungai Yordan membentuk dua danau. Danau Huleh di utara agak kecil; sungai dari
danau itu mendapat namanya Yordan. Lalu ada danau Galilea, yang disebut juga
danau Kinesaret, Genesaret, dan Tiberias. Danau ini sejak dahulu menghasilkan
cukup banyak ikan, sehingga penduduk disekitarnya menjadi nelayan.
6.
Iklim
Palestina pada umumnya
beriklim rata-rata antara 2-37derajat Celcius. Nazaret (0-41 derajat C). di
pegunungan dan dataran tinggi seperti di Yerusalem di musim dingin benar-benar
dingin. Sebaliknya di lembah Yordan, Khususnya Laut Mati, hawanya panas sekali.
Hujan pada umunya sangat sedikit yaitu berkisar 56 hari dalam satu tahun. Musim
panas (Juli-September) sangat kering, karena tidak turun hujan. Hujan awal yang
turun pada bulan Oktober sampai Nopember dan hujan akhir yang turun dalam bukan
Maret-April sangat penting dan menentukan keberhasilan tanaman (bdk Ul 11:14).
Kesuburan Palestina tergantung dari hujan (Ul 11:10-12), dalam teks tersebut
diperlihatkan bahwa kesuburan Palestina semata-mata dari hujan. Dengan
sendirinya mereka melihat Tuhan sebagai pemelihara tanah karena hujan tidk
dibuat oleh manusia. Musim kering yang panjang kerap menimpa Palestina,
sehingga menggagalkan panen dan menimbulkan kelaparan (Kej 12:10; Rut 1:1; 1
Raj 17:1). Hebatnya malapetaka dan penderitaan yang diakibatkan oleh kekeringan
itu dapat kita baca dalam doa yang terdapat dalam Yoel 1:19-20..
7.
Flora dan Fauna
Tanaman yang paling banyak
adalah anggur, zaitun, buah ara dan gandum, sedangkan hewani yang paling banyak
adalah domba dan kambing.
1. Zaitun ditanam hampir
diseluruh Palestina, daunnya yang selalu hijau menjadi lambang tenaga yang
hidup dan sedang bertumbuh (bdk Mzm 128:3). Di samping itu juga pohon ini
menjadi lambang orang-orang benar (Mzm 53:10) dan kebijaksanaan (Sir 24:14.19)
2. Anggur termasuk tanaman pokok
tanah Palestina dan menjadi lambang kekayaan. Mlambangkan Israel. Air buah
anggur menyejukkan hati Allah dan manusia. Anggur adalah lambang cinta dan kebun
anggur adalah lambang mempelai wanita (bdk Kidung Agung).
3. Buah ara. Buah ini kerap
disebut bersama dengan buah anggur. Buah ara oleh Nabi Hosea sebagai lambang
Israel (Hos 9:10). Pohon ara banyak dijumpai di Palestina dan disenangi karena
memberikan keteduhan. Ia tumbuh malah di tanah berbatu-batu, asal punya sediit
kelembapan.
4. Gandum. Selain anggur dan
minyak, gandum merupakan sumber utama pangan di Palestina. Gandum ditaburkan di
tanah-tanah pada bulan Nopember-Desember dan ditua dalam bulan Mei-Juni. Gandummerupakan
bahan untuk membuat roti selain jelai.
5. Domba dan Kambing
berkelimpahan di padang dan meja-meja makan. Domba juga dipakai untuk kurban
keselamatan (Im 3:1-17), yaitu buah pinggang dan umbau hati yang dipandang
sebagai tempat hidup dan perasaan dibakar untuk Tuhan. Domba biasanya berwarna
putih dan memiliki domba yang banyak adalah tanda kekayaan (1 Sam 16). Domba
termasuk biantang yang disayangi. Berbicara tentang domba dan kambing tidak
dapat dipisahkan dari gembalanya. Hubungan antara gembala dan domba dengan
sangat indah dilukiskan dalam Mazmur 23. Dari sebab itu dalam Kitab Suci
gembala kerap kali dipakai dalam lambang Tuhan (Mzm 23; Yeh 34) dan para
pemimpin, sedangkan domba adalah lambang Israel dan yang dipimpin.
6. Keledai meupakan sarana
angkutan dan termasuk binatang piaraan yang sangat disayangi (1 Sam 9).
7. Kuda termasuk binatang yang
mahal yang digunakan untuk menarik kereta perang.
8. Beruang dan singa digunkan
sebagai lambang kekesaran musuh dan pemimpin bangsa yang jahat (bdk Am 1:2; Hos
5:34).
9. Anjing biasanya dipakai oleh
gembala untuk melindungi domba. Akan tetapi anjing termasuk binatang yang tidak
diperlakukan dengan baik dan pada umumnya digunakan sebagai kata penghinaan
(bdk 1 Sam 17:43)
10. Babi bagi orang Israel adalah
gambaran kenajisan dan karena itu tidak boleh dimakan atau dipersembahkan
sebagai kurban (Im 11:7). Pekerjaan memelihara babi dipandang sebagai pekerjaan
hina, sebab dikaitkan dengan dunia kafir.
Mengenai jenis binatang yang
lain dapat dibaca di Im 11:1-47 dan Ul 14:3-20.
8.
Penduduk
Penduduk Palestina tidak
terlalu padat dan hidup dikampung-kampung yang biasanya dekat dengan sumber air
atau di atas bukit-bukit. Penduduk yang terbesar ada di Yerusalem dan Samaria.
Setiap suku dapat dikatakan hidup mengikuti iramanya sendiri-sendiri terikat
pada tempat dan terpisah dari yang lain.
9.
Mengapa Tuhan memilih Palestina.
Dari catatan diatas kiranya
dapat dilihat bahwa Palestina bukanlah negeri yang besar dan kaya raya,
meskipun dalam perjalanan sejarahnya mengalami zaman-zaman yang makmur.
Palestina adalah negeri yang kecil dan tidak kaya, Israel hampir tidak
memainkan peranan penting dalam sejarah politik dunia. Sebaliknya Israel
menjadi mangsa kekuasan-kekuasan besar. Pertanyaan yang kerap dikemukakan ialah
mengapa Tuhan memilih Palestina?
Jalan Allah memang tidak
terduga (bdk Rom 11:33). Ia kerap memilih yang lemah dan miskin untuk membuat
malu yang kuat dan yang kaya. Tuhan memilih Palestina barangkali untuk
menunjukkan kepada bangsa-bangsa lain bahawa Dia adalah Tuhan sejarah, yakni
Allah yang mengatasi segala kekuasaan di dunia ini. Tuhan telah memilih
Palestina mungkin juga untuk mendidik umat-Nya mengarahkan pandangannya ke atas
di tengah-tengah segala kesukaran yang mereka alami. Tanahnya yang
bergunung-gunung dapat lebih mudah melindungi mereka dari serangan luar.
KEGIATAN BELAJAR
3
GARIS BESAR
SEJARAH ISRAEL
1.
Pengantar
Untuk mengetahui Alkitab
dengan lebih mendalam, maka kita perlu mengetahui juga latar belakang sejarah
Israel dan pengalaman iman umatIsrael. Allah telah menyatakan diri-Nya dan
berbicara langsung kepada umat-Nya. Memahami latar belakang Israel akan dapat
dapat membantu kita untuk mengerti maksud Kitab Suci ditulis, karena Kitab Suci
ditulis dalam latar belakang sejarah tertentu.
Sumber utama yang perlu untuk
mempelajari sejarah Israel ialah Perjanjian Lama yang telah berbicara tentang
pengalaman iman umat Israel melalui peristiwa-peristiwa sejarah yang telah
mereka alami. Selain itu kita juga diperkaya oleh dokumen-dokumen sejarah Timur
Tengah Purba dan penemuan-penemuan arkheologis.
Sejarah Israel terbagi dalam 5
periode, sebagai berikut:
a. Periode awal mula (mulai dari
panggilan Abraham samapai dengan Zaman para Hakim 1800/1750-1030 SM)
b. Periode kerajaan (mulai dari
berdirinya kerajaan sampai dengan keruntuhan kerajaan Yuda, 1030-586 SM).
c. Periode pembuangan (yakni
periode pembuangan di Babel atau Babilon, 586-538 SM).
d. Periode sesudah pembuangan
atau periode pembaharuan (mulai dari kembalinya orang buangan di Babel ke
Palestina sampai dengan berakhirnya kekuaraan Persia, 538-332 SM).
e. Periode Yudaisme (mulai dari
Alexander Agung sampai dengan akhir Perjanjian Lama, 332-62/50 SM)
2.
Periode-peiode sejarah Israel
2.1. Periode Awal Mula
(2000/1750-1030 SM)
Periode
ini meliputi seluruh jaman ketika Israel masih berada dalam tahap-tahap
pembentukan menjadi suatu bangsa yakni mulai dari panggilan Abraham sampai
dengan para Hakim. Periode ini dapat dibagi dalam beberapa tahap.
a. Tahap Bapa-bapa Bangsa
(2000/1750-1600 SM)
Tahap
bapa-bapa bangsa yaitu Abraham, Ishak, dan Yakub ini dikisahkan dalam Kitab
Suci (Kej 12:36).
Israel
mengenal bapa-bapa bangsa mereka yaitu Abraham, Ishak, dan Yakub (Kej 12:36).
Mereka termasuk kelompok besar suku dan keluarga yang antara tahun 200-1500 SM
berpindah dari Mesopotamia ke wilayah-wilayah sebelah barat seperti Siria dan
Kanaan. Abraham, Ishak dan Yakub termasuk suku-suku semi nomad, yaitu suku-suku
pengembara. Menurut pendapat para ahli, Abraham sekeluarga meninggalkan
Mesopotamia sekitar tahun 1800/1750 SM dan menetap di negeri Kanaan. Dari segi
sejarah alasan-alasan sosio ekonomis yang mendorong suku dan keluarga untuk
berpindah. Akan tetapi menurut Kitab Suci Abraham yang berasal dari Ur,
Mesopotamia itu dipanggil Tuhan untuk meninggalkan negerinya dan pergi ke suatu
negeri yang akan ditunjukkan Tuhan kepadanya. Namanya akan masyur dan dia akan
menjadi berkat bagi segala bangsa di bumi (Kej 12:1-3). Abraham menanggapi
panggilan Allah itu dan sejak saat itu mulailah suatu proses pengenalan akan
Allah, selangkah demi selangkah. Pegangan kuat yang diberikan Allah kepada
Abraham adalah tanah air dan keturunan.
Meskipun
menurut sejarah Abraham dan keluarganya berpindah tempat karena alasan-alasan
sosial ekonomis, namun menurut Kej 12, kepindahan Abraham semata-mata karena
kehendak atau panggilan Tuhan. Para penulis Kitab Suci bermaksud menyatakan
karya Allah yang nyata, meskipun tidak kelihatan, sehingga pembaca dapat
melihat atau mendengar Allah dan karya-Nya. Kalau kisah Abraham dimengerti
dalam latar belakang ini, menjadi jelas bahwa karya Allah justru tampak di sini
: perpindahan Abraham dan keluarganya yang didorong alasan sosial ekonomis
ternyata adalah awal sejarah penyelamatan. Dalam pengertian ini, yang penting
bukanya bahwa Abraham dan keluarganya berpindah
tempat tinggal melainkan terutama mereka dituntun oleh Allah memasuki tanah Kanaan.
Agama para Bapa Bangsa
Sesuai
dengan kebiasaan di kalangan suku seminomad pada zaman itu, agama Abraham,
Ishak dan Yakub serta keturunanya ditandai oleh hubungan erat dan personal
dengan Allah mereka. Allah dipandang sebagai Tuhan dan Pelindung mereka. Mereka
bukan monoteis dalam arti modern, tetapi dalam praktek keagamaan mereka
mengarahkan seluruh perhatian dan kebaktian kepada Tuhan Pelindung keluarga dan
suku mereka. Kepala keluarga mewakili keluarga dan suku dalam hubungan dengan
Allah, terutama melalui ibadah persembahan kurban. Nama umum Tuhan adalah
EL(=Allah). Keturunan mereka menaruh kepercayaan keturunannya, dan memberikan
janji-janji kepadanya.
Kisah-kisah
mengenai Abraham dan Ishak berpusat pada wilayah Kanaan Tengah, daerah Sikhem
dan Betel.
Perkembangan Kitab Suci pada
periode ini
Dari
seluruh periode ini tidak ada suatu bagian pun dalam bentuk tulisan yang
tersimpan dalam Kitab Suci. Namun kita sunggu dapat berbicara mengenai Kitab
Suci pada periode ini, karena kisah yang sekarang tersimpan dalam Kej 12-36
memang berasal dari periode bapa Bangsa, dan diteruskan secara lisan turun
tmurun sampai masa kerajan Israel. Penerusan kisah-kisah itu terjadi pada saat
di mana mereka berkumpul dalam keluarga atau pada waktu ibadah. Tentu saja
tidak semua hal dikisahkan, mereka memilih bagian-bagian yang relevan bagi
keturunan.
Oleh
karena kisah tersebut disampaikan secara lisan berabad-abad, tidak mengherankan
kalau cerita yang beredar pada abad ke 10 SM cukup berbeda jika dibandingkan
dengan cerita asli yang beredar pada abad 18 SM.
b. Tahap Keturunan di Mesir dan
Keluar dari Mesir : Lahirnya Umat Allah (1600-1225 SM).
Kisah
tahap ini dalam Kitab Suci diceritakan dalam Kej 37-50, Kel 1-20, dan kitab
Bilangan. Tokoh utama dalam tahap ini adalah Yusuf, Musa (dan Harun).
Menurut
Kej 37-50 keturunan Yakub berpindah ke Mesir karena kelaparan yang menimpa
Kanaan. Di sana salah seorang keturunannya yang bernama Yusuf menjadi orang
kedua sesudah Firaun. Yusuf tampil sebagai penyelamat saudara-saudaranya.
Keturunan Yakub pergi ke Mesir ini terjadi pada waktu Mesir dikuasai oleh
bangsa Hiksos yang mengizinkan suku-suku Semit untuk tinggal di Mesir. Penguasa
Hiksos ini menguasai Mesir sejak 1725-1525 SM. Bangsa Hiksos ini berasal dari
wilayah Siriah-Palestina. Dalam keadaan seperti itu tidak mustahil seorang
Ibrani dari Palestina, mislnya Yususf dapat mencapai kedudukan yang tinggi di
Mesir serta memberikan perlindungan dan jamin kepada sanak saudaranya. Sekitar
tahun 1575 SM bangsa Hiksos xdi usir dari Mesir oleh raja asli Mesir. Bersama
bangas Hiksos yang pergi juga beberapa suku Semit (tidak mustahil termasuk
sejumlah keturunan Yakub) karena ikut diusir. Dalam Kitab Keluaran ada petunjuk
tentang pengusiran dan juga tentang pelarian. Sementara itu dalam kitab
Bilangan ada daftar nama yang dilewati Bani Israel, yang sebagian menunjuk
jalan sulit lewati padang gurun (Sinai dan Selatan), dn sebagian lain menunjuk jalan
yang resmi dan mudah lewat utara. Mungkin pengusiran dan jalan lewat utara
adalah sisa tradisi dari kelompok yang ikut diusir bersama dengan orang Hiksos.
Pada
periode berikutnya, orang Semit ini menetap di Palestina Selatan. Kelompok
Semit yang lain juga termasuk keturunan Yakub masih tinggal di Mesir. Mereka
lah yang dijadikan budak oleh Faraun, terutama pada masa Faraun (Raja) Ramses
II (1304-1238 SM), nasib mereka semakin memburuk (Kel 1) sehingga mereka putus
harapan. Keadaan putus harapan inilah yang diungkapkan kepada Allah Abraham,
Ishak dan Yakub (Kel 2:23-25).
Dalam
keadaan itulah tampil Musa (nama Mesir) yang menurut Kitab Suci menerima
pendidikan dan tinggal di Mesir, di panggil Allah di gunung Sinai untuk
membebaskan kawan-kawannya dari perbudakan Mesir. Pada kesempatan itu
diwwahyukan nama Allah yang baru, yakni YAHWEH (Kel 3). Nama Yahweh berasal
dari kata kerja Ibrani hayah, yang
berarti ada, tetapi dengan nada berada, hadir secara aktif. Dengan
pertolongan Yahweh, Musa berasil melarikan diri dengan sejumlah bekas budak
keturunan Yakub. Cukup sulit menentukan kelompok mana yang ikut dalam pelarian
di bawah pimpinan Musa, kemungkinan suku Efraim, Mansye dan Lewi. Tidak lama
sesudah melarikan diri, seluruh kelompok itu masuk kedalam perangkap tanpa
jalan keluar, didepan mereka terbentang laut Teberau, di belakang mereka
tentara Mesir. Keputusan dan pembebasan itu dikisahkan dalam Kel 14. Hanya saja
kisah penyebrangan penyebrangan ini sekarang sudah dalam bentuk yang
berlapis-lapis. Menurut cerita yang paling tua, misalnya bagian tengah ayat 21
dan awal ayat 25 ujung Laut Teberau itu dikeringkan menjadi semacam rawa-rawa
oleh angin keras dari timur dalam kombinasi dengan pasang surut, sehingga pada
pagi hari mereka dapat menyebrngi laut dan bebas dari para pengejar mereka.
Oleh Musa dan bangsa Israel hal itu diartikan sebagai karya Yahweh yang
membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir (bdk Kel 14:31).
Tentang
lamanya Israel di Mesirtidak dapat dipastikan. Menurut Kel 12:40 Israel di
Mesir 430 tahun, menurut Kej 15:13, 400 tahun. Sedangkan Kej 15:16. Selama
empat keturunan artinya 4 kali 40 atau 160 tahun.
Dari
laut Teberau bangsa Israel di bawah pimpinan Musa pergi ke Gunung Sinai. Di
situ mereka dikarunai suatu pengalaman religius yang sangat mendalam oleh
Allah. Yahwe menyatakan kehendak-Nya untuk mengadakan perjanjian dengan suatu
bangsa, yaitu bangsa Israel yang baru saja dibebaskan dari perbudakan di Mesir.
Bangsa Israel mnjadi bangsa kesayangan-Nya. Perjanjian itu terjadi dengan
perantara Musa. Dengan ini lahirkan bangsa Israel menjadi umat pilihan Alllah
(Kel 19:24). Isi perjanjian itu sendiri dapat dibaca dalam Kel 19.
Menurut
Kitab Suci lama pengembaraan Israel di gurun adalah 40 tahun atau satu
generasi. Sebagian masa ini mereka tinggal di sekitar Oasis Kadesy-Barnea,
lebih kurang 90 km di sebalah selatan kota Bersyeba. Dalam cerita dikemukakan kesulitan
yang timbul bagi bangsa yang sedang dalam perjalanan ini, yaitu kekurangan air
dan makanan. Tahap ini berakhir ketika bangsa Israel tiba di Moab.
Perkembangan Kitab Suci
Selain
sejumlah kisah tentang para Bapa Bangsa yang diteruskan turun temurun secara
lisan, dalam periode ini mucul sejumlah cerita tentang perbudakan di Mesir,
Musa, pembebasan dari Mesir dan sejumlah peristiwa Sinai yang juga secara lisan
diteruskan. Bisa jadi dalam waktu yang tidak terlalu lama kisah pembebasan dari
Mesir mendapat tempat dalam naskah ibadah yang dipakai dalam pesta tahunan
Paskah yang memperingati pembebasan tersebut.
Mungkin
sekali 10 perintah Allah (sebagai bagian dari suatu naskah perjanjian) dalam
rumus yang pendek (“Janganlah” + kata kerja seperti kita temukan dalam Kel
20:13-15) dan sejumlah peraturan yang sekarang tersimpan dalam Kel 20:22-23:19
sudah mulai dituliskan. Di samping itu ada beberapa peraturan yang sekarang
tersimpan dalam Kel 20:22-23:19.
c. Pendudukan Kanaan dan
Pembentukan 12 Suku Israel (1225-1030 Sm)
Kisah
pendudukan atau perebutan tanah Kanaan dan pembentukan 12 suku Israel ini
dikisahkan dalam Kitab Yosua dan Hakim-hakim.
Sesudah
Musa wafat, kepemimpinannya ganti oleh Yosua. Pada waktu itu mereka sudah
sampai di Moab. Di bawah pimpinan Yosua, bangsa Israel masuk kedalam wilayah
Kanaan. Mereka berhasil duduki daerah pegunungan di Palestina Tengah. Dari sana
kadang-kadang mereka menyerang beberapa kota Kanaan. Waktu itu sebagian orang
Kanaan mendiami wilayah bagian barat Palestina dan lembah subur Galilea
Selatan. Wilayah Kanaan lainya tidak begitu padat penduduknya, sehingga mudah
direbut oleh kelompok Yusua. Pad waktu Yosua masuk ternyata sudah ada sejumlah
suku Semit lain di Palestina Selatan dan Utara. Sebagian dari meeka adalah
kelompok yang meninggalkan Mesir sebelumnya. Akan tetapi juga ada yang datanga
dari Mesopotamia Utara dan menetap di Palestina. Mereka ini tidak pernah pergi
ke Mesir.
Sekitar
tahun 1200 SM, Yosua dapat mengumpulkan sejumlah wakil dari suku-suku Semit di
kota Sikhem dan membentuk suatu persukutuan politik atas dasar religius. Untuk
itu suku-suku tadi bersedia menerima agama kelompok Yosua, yakni menganut Yahwe
yang membebaskan Bani Israel dari Mesir dan mengadakan perjanjian dengan mereka
di gunung Sinai. Di Sikhem itulah perjanjian Sinai diperbaharui, artinya
diperluas sehingga mencakup kelompok-kelompok baru (bdk Yos 24).
Sekitar
tahun 1200 SM, di Palestina juga ada bangsa Filistin yang menempati barat daya
Palestina. Dengan demikian, sekitar tahun 1200 SM, pendudukan di Palestina
dapat digamabar sebagai berikut:
1. Orang Filistin menempati
wilayah barat daya
2. Orang Kanaan tinggal dalam
beberpa wilayah, terutama wilayah arat dan di Galilea Selatan.
3. Orang Israel yang merupakan
persekutauan suku Semit terbesar di pegunungan Yehuda, Palestina Tengah,
Galilea Utara dan wilayah-wilyah kosong di antara penduduk Kanaan.
Perkembangan sebagai bangsa dan penguasaan tanah
1. Kelompok Yosua sesungguhnya
hanya terdiri dari beberapa ribu orang dari suku Efraim, Manasye dan Lewi.
Kelompok ini menjadi inti dan lama kelamaan berafiliasi dengan suku Semit yang
lain, seperti Benyamin dan Yehuda. Perkembangan ini terjadi selama dua abad
(1200-1000 SM). Lama-kelamaan orang mulai mengenal sebagai orang Israel, bukan
hanya sebagai orang suku Benyamin atau orang Yehuda. Suku-suku Semit itu
akhirnya menjadi satu persekutuan dari 12 suku. Hal ini terjadi terutama pada
masa Daud.
2. Kelompok Yosua memasuki
Palestina sekitar tahun 1255 se. MAS menetap di Palestina Tengah dan mereka
mulai mengambil alih pertanian sebagai mata pencaharian yang baru. Perluasan
tanah terjadi secara damai dengan menduduki sedikit demi sedikit wilayah yang
sebelumnya hampir tanpa penghuni, yaitu daerah pegunugan. Disamping cara damai
ada juga perluasan yang terjadi dengan kekuatan militer. Perluasan tanah akan terjadi pada masa
kerajaan, terlebih pada masa Daud dan Salomo.
Periode Hakim-hakim
Pada
periode ini, keadaan Palestina sama sekali tidak stabil. Kel 12 suku Israel
hidup di desa-desa kecil, miskin dan lemah. Di situ mereka menetap dan mulai
hidup sebagai petani. Banyak gangguan dan kesulitan yang mereka alami dari
orang-orang Kanaan dan suku lain (terutama Filistin). Mereka belum mempunyai
kota-kota yang kuat sebagai perlindungan. Di samping itu kesatuan politik dan
militer antar suku juga belum ada, masing-masing suku dipimpin oleh pemimpin
yang dalam Kitab Suci disebut Hakim-hakim. Mereka adalah orang-orang yang
membereskan segala sesuatu baik hubungan dengan musuh melalui fungsi sebagai
pemimpin militer, maupun hubungan dengan suku-suku Israel sendiri, bahkan juga
dalam kaitan dengan masalah keagamaan. Hakim-hakim yang terkenal antara lain :
Gideon, Debora, Barak, Yefta dan Simon. Kekuasaan dan karya mereka umumnya terbatas
pada satu atau beberapa suku saja. Meskipun demikian, persekutuan yang diadakan
Yosua di Sikhem terus bertambah erat selama periode yang kacau ini.
Selanjutnya, sedikit demi sedikit muncul suatu kesatuan yang lebih luas atas
dasar agama yang sama.
Perkembangan Kitab Suci
Kelompok
Yosua membawa sejumlah cerita yang diwariskan kepada mereka ke Kanaan,
khususnya cerita mengenai leluhur (Abraham Ishak, Yakub dan anak-anaknya),
mengenai pembebasan dari Mesir dan perjanjian Sinai. Pengalaman-pengalaman
perebutan wilayah di Kanaan menjadi bahan cerita yang baru. Setiap suku membawa
serta sejumlah cerita mengenai leluhur dan mengenai perebutan tanah Kanaan.
Demikianlah sedikit demi sedikit muncul suatu kisah yang tidak hanya menyimpan
kenangan akan masa lampau, tetapi juga mencerminkan kesatuan bangsa Israel
sampai pada masa para Hakim.
Sampai
periode ini sudah ada koleksi cerita lisan dari dua tahap sebelumnya yang
diteruskan secara turun temurun. Di samping itu ditambahkan pula cerita lisan
tentang perebutan tanah Kanaan dan perbuatan masyur Hakim-hakim.
Sejumlah
hukum yang sekarang tersimpan dalam kitab Keluaran dan Ulangan, yakni hukum
yang mengatur hidup di desa-desa dan masalah yang berhubungan dengan hidup baru
petani berasal dari periode Hakim-hakim ini. Di samping itu pada masa ini juga
ditentukan peraturan-peraturan dan hukum mengenai kewajiban religius dan
mengenai kehidupan sosio-ekonomis, yang mula-mula secara lisan sebelum akhirnya
dibukukan.
2.2. Periode Kerajaan (103-586 SM)
Bagi
sejarah Israel periode ini adalah yang paling kaya, karena dalam periode ini
israel tampil sebagai bangsa yang terlibat dalam sejarah dunia. Periode ini
juga ditandai dengan perutusan nabi-nabi besar yang dengan tajam melihat dan
mengamati tanda-tanda jaman dan menafsirkannya dalam terang iman. Periode ini
dalam Kitab Suci dikisahkan dalam kitab-kitab : 1,2 Samuel, 1,2 Raja-raja dan
1,2 Tawarikh.
a. Peralihan dan sistem
Hakim-hakim ke sistem kerajaan (1030-1010 SM)
Pada
akhir peiode Hakim-hakim tampil seorang tokoh yaitu Samuel. Ia adlah hakim
terakhir dan terbesar. Samuel pulalah yang mempersiapkan dan mendampingi
peralihan dan sistem hakim-hakim ke sistem kerajaan. Menurut tradisi ia
berkarya sebagai petugas ibadah (Imam) di Silo, sebagai nabi dan pemimpin
suku-suku (hakim) dalm perang melawan Filistin. Melawan bangsa Filistin ini
Israel tidak berdaya, karena kesatuan dan militernya kurang kuat.
Keadaan
ini mendorong suku-suku Israel untuk memikirkan dan menerima pemerintahan dalam
bentuk yang baru , yaitu kerajaan. Pada mulanya ada banyak perlawanan terhadap
sistem baru ini atas dasar religius yang berpandangan bahwa raja adalah Yahwe
sendiri. Mengubah struktur pemerintahan dipandang sebagai tanda kurang percaya
kepada kepemimpinan Tuhan. Namun ancaman Filistin menuntun Samuel dan mendorong
Israel untuk memulai sistem baru, yaitu kerajaan. Raja pertama adalah Saul
(1030-1010 SM). Kemenangan permulaan Saul atas bangsa Amon dan Filistin agak
mengurangi tekanan. Akan tetapi karena sistemnya berbeda sekali dengan jaman
para Hakim, peralihan ini tidak mudah. Maka di bawah Saul sebelum semua suku
sungguh-sungguh menerima dia sebagai raja, terutama di Palestina Utara dan
Selatan. Praktis kekuasaan raja Saul adalah Palestina Tengah.
b. Jama satu kerajaan : Daud dan
Salomo (1010-931 SM).
Perselisihan
antara Saul dan Samuel dan antara Saul dan Daud mewarnai akhir masa
pemerintahan Saul. Daud adalah seorang perwira Daud yang istimewa. Namun
menurut Kitab Suci Saul sangat membenci Daud.
Sekitar
tahun 1010 SM Saul dikalahkan orang Filistin, bahkan Saul dan puteranya yang
bernama Yonatan tewas dalam peperangan itu. Daud langsung menjadi raja di
Hebron dan menjadi raja atas suku Yehuda. Di Utara, orang mengangkat Isyobeset
putera Saul menjadi raja, tetapi keadaan ini hanya berlangsung 7 tahun, kemudian
Isyoboset dibunuh dan Daud menjadi raja seluruh suku Israel.
Dengan
cara yang mahir Daud membentuk kerajaan besar. Seluruh wilayah Palestina
(termasuk daerah Filistin) dipersatukan menjadi kerajaan inti, sedangkan
negara-negara sekitar (Aram, Amon, Moab, Edom) ditaklukkan. Luas wilayah
kekuasaan Daud mulai dari Teluk Araba sampai kota Hemos dan dari sungai Efrat
sampaai laut Tengah. Kerajaan seluas itu dapat terjadi karena pada saat itu
kekuasaan Mesir sangat mundur, sedangkan Asyur belum bangkit. Di samping itu
Daud tidak hanya berhasil dalam bidang militer, tetapi juga dalam bidang
religius. Ia menjadikan Yerusalem (wilayah yang tidak termasuk daerah salah
satu suku) sebagai Ibu kota dan menempatkan Tabut Perjanjian di Yerusalem.
Dengan demikian Yerusalem menjadi pusat politik sekaligus agama. Dengan cara
itu juga Daud memperkuat posisi agama Yahwisme sebagai agama nasional dan
melawan segala kecenderungan sinkretisme dan agama kesuburan Kanaan.
Periode
terakhir pemerintahan Daud ditandai oleh berbagai kesulitan yang berasal dari
lingkungan keluarga Daud sendiri. Hal ini dikisahkan dalam 2 Sam 9-1 Raj 2.
Pemberontakan Absalon (2 Sam 15-19) dan Seba (2 Sam 20) memperlihatkan bahwa
kesatuan kerajaan pada periode Daud masih agak labil dan mudah digoncangkan. Hal
ini terjadi karena beberapa suku utara sulit bersatu dengan suku besar Yehuda.
Menurut
Kitab Suci, Daud termasuk salah satu tokoh Perjanjian Lama yang paling
terkenal, dialah yang akhirnya selalu menjadi pedoman untuk raja-raja yang
lain. Bahkan Mesiaspun dinubuatkan berasal dari keturunan Daud. Kelemahan Daud
yang lain adalah karena cintanya kepada Betsyeba begitu besar, sehingga ia tega
membunuh suaminya. Namun Daud adalah juga orang yang tahu mendengarkan suara
Tuhan. Dia bertobat.
Melalaui
pertarungan yang sengit di antara anak-anak Daud, akhirnya Salomo yang lahir
dari Betsyeba dan mendapat dukungan dari nabi Natan menjadi penggantinya.
Salomo tidak mewarisi bakat ayahnya di bidang militer, akan tetapi dalam bidang
kebudayaan ia menjadi raja terbesar dalam seluruh sejarah bangsa Israel.
Kerajaan besar yang menjadi warisan ayahnya dipertahankan dengan
perjanjian-perjanjian politik, yang lazimnya diperkuat oleh perkawinan dengan
puteri kerajaan yang bersangkutan. Salomo mengatur kerajaan initi menjadi 12
propinsi. Pengaturan ini melawan dan mendobrak kekuasaan serta wilayah suku
yang tradisional, sebab dengan sistem baru ini yang menggunakan sistem pegawai
dan bukan pemimpin-pemimpin suku, titik berat kekuasaan semakin pindah dari
daerah ke ibu kota.
Yerusalem
dibangun menjadi kota yang paling megah, dan ia mendirikan Bait Allah yang
menjadi pusat religius umat Israel. Usaha pembangunan dan gaya hidup mewah di
istana raja menela biaya yang amat besar (bdk 1 Raj 4:21-28). Untuk menutupi
biaya tinggi itu ia membebankan pajak tinggi dan kerja paksa kepada rakyat, di
samping upeti dari negara-negara tetangga.
Dalam
mengurus negara, Salomo dibantu staf yang terdidik di suatu sekolah khusus di
Yerusalem. Sekolah pegawai atau sekolah kebijaksanaan itu akan berpengaruh
besar dalam perkembangan intelektual dan sastra di Israel pada abad-abad
selanjutnya.
Begitulah
dalam waktu beberapa puluh tahun saja, Israel berkembang dari suatu persekutuan
suku-suku tani menjadi suatu kerajaan yang besar, kaya dan modern. Akibat dibidang
agama timbul banyak goncangan dan kesulitan karena banyak pegangan tradisional
rupanya tidak sesuai dengan gaya hidup baru. Salomo menunjukkan ikatannya
dengan Yahweh melalui kenisah atau Bait Allah yang dibangunnya, akan tetapi, ia
mulai menimbulkan banyak pertanyaan ketika di Yerusalem juga dibangun kuil-kuil
untuk ibadat dewa-dewi dari isteri-isteri asingnya. Dengan demikian, muncul
sinkretisme yang mengancam Yahwisme sejak Israel mulai menjadi bangsa yang
menetap.
Perkembangan
Kitab Suci pada periode ini :
1. Muncul teolog yang disebut
Yahwist (disebut tradisi Yahwist atau disingkat Y/J). disebut Yahwist, karena
menyebut Allah dengan sebutan Yahweh.
Pada
masa ini muncul seorang atau beberapa teolog yang mengumpul cerita mengenai
sejarah keselamatan nenek moyang, mulai dari awal mula dunia, manusia jatuh
dalam dosa, dari Abraham sampai dengan wafatnya Musa dari tradisi lisan yang
ada. Dari banyak cerita yang dipilih bagian-bagian yang dipandang relevan untuk
situasi bangsa Israel abad 10. Cerita itu meliputi : penciptaan manusia,
manusia jatuh dalam dosa dan akibatnya, Abraham, yakub, Yususf, pembebasan dari
Mesir, Sinai dan perjalanan di gurun.
2. Riwayat penggati Daud (2 Sam
9-20; 1 Raj 1-2). Banyak ahli memandang bab tersebut ditulis oleh saksi mata pada
masa pemerintahan Salomo untuk menjelaskan bagaimana Salomo dapat mengganti
ayahnya secara sah, walaupun ia bukan anak sulung.
3. Mazmur. Sejak Israel sebagai
kelompok mulai mengadakan ibadah dan merayakan pesta religius, terciptalah
lagu-lagu rohani yang mengungkapkan pujian, keluhan, permohonan dan kepercayaan
mereka. Kumpulan lagu-lagu itulah yang sekarang terhimpun dalam Kitab Mazmur.
Hanya saja kita sulit untuk menentukan Mazmur mana saja yang ditulis pada masa
Daud dan Salomo;
4. Kumpulan Hukum. Dengan dibentuknya
kerajaan, maka diperlukan peraturan yang kuat dan ketat atau undang-undang.
Agakanya hukum-hukum yang merupakan penerapan konkret dari peraturan perjanjian
dalam hidup sehari-hari dikumpulkan pada periode Daud-Salomo ini.
c. Jaman Dua Kerajaan : Israel
dan Yehuda (931-586 SM)
1. Pecahnya Kerajaan
Setalah
Salomo wafat, anaknya yang bernama Rahabeam menggantikannya. Oleh suku-suku
Israel di Palestina Utara dan Tengah,
raja baru itu diminta untuk meringankan beban pajak dan kerja paksa yang dulu
ditetapkan oleh raja Salomo. Permintaan itu ditolak oleh Rahabeam. Sebagai
rekasi atas penolakan itu, maka suku-suku Israel bagian tengah dan utara
memisahkan diri dari kerajaan Rahabeam dan mengangkat Yerobeam sebagai raja.
Dengan demikian sejak tahun 931 kerajaan Israel terpecah menjadi dua bagian.
Meskipun
sejak masa Hakim-hakim persatuan suku-suku israel berkembang, namun persatuan
itu belum mempersatukan seluruh suku dalam arti yang sesungguhnya. Hanya karena
kelahiran militer dan politik raja Daud dan Salomolah kesatuan itu dapat
diusahkan. Itulah sebabnya ketika terjadi perselisihan, suku-suku itu kembali
terpecah
KERAJAAN SELATAN
|
KERAJAAN UTARA
|
|
Nama
|
Kerajaan Yuda/Yehuda
|
Kerajaan Israel
|
Ibu Kota
|
Yerusalem
|
Samaria
|
Wilayah
|
Suku Yehuda dan Sebagian Benyamin
kecil dan miskin
|
10 Suku yang lain
Lebih besar dan kaya
|
Pemerintahan
|
Pemerintahan stabil (1 Wangsa:
yaitu dinasti Daud)
|
Pemerintahan Labil (9 Wangsa berturut-turut)
|
Pengaruh Kanaan
|
Pengaruh unsur-unsur Kanaan tidak
begitu besar
|
Pengaruh unsur-unsur Kanaan (kebudayaan dan agama)
kuat
|
Pusat Perhatian Religius
|
Sion dan perjanjian Yahwe dengan
Daud (2 Sam 7)
|
Tradisi Perjanjian Sinai
|
Tempat Ibadat
|
Bait Allah di Yerusalem
|
Betel dan Dan
|
Akhir Pemerintahan
|
586 SM dibuang ke Babilon (dan
kembali)
|
721 SM dibuang ke Asyur. (dan tidak kembali)
|
Nabi-nabi yang berkarya
|
Yesaya, Mikha, Nahum, Habakuk,
Yeremia dsb
|
Elia, Elisa, Amos, Hosea
|
Selama periode 2 abad hubungan kedua kerajaan itu kerap kali
sulit: ada perang dingin dan perang sunguh-sungguh. Kadang-kadang Kitab Suci
berbicara tentang keadaan damai, tetapi hampir selalu Kerajaan Utara menguasai
Kerajaan Selatan.
2. Kerajaan Israel
Raja Yerobeam mencoba membentuk suatu negara yang kuat yang
dapat bertahan melawam ancaman dari Yerusalem. Dalam waktu singkat banyak hal
yang harus diurus, seperti ibu kota kerajaan, pegawai kerajaan, militer dan
sebagainya, sehingga pada periode ini kerajaan utara dalam keadaan sulit.
Untuk
menghindari rakyat beribadat ke Yerusalem, maka Yerobeam mendirikan tempat suci
di Betel dan Dan. Masing-masing tempat ibadat dilengkapi dengan patung lembu
emas sebagai tahta bagi Yahwe, sama seperti Yerusalem kedua patung kerub di
atas Tabut Perjanjian sebagai tahta Yahweh. Hanya saja patung lembu emas itu
menyebabkan terjadinya sinkretisme atau bahkan baalisme (penyembahan dewa
Baal), karena Baal lazim digambarkan sebagai lembu jantan. Dalam kenyataan
memang akhirnya kerajaan utara acap kali jatuh pada penyembahan berhala.
Beberapa
raja yang penting di kerajaan utara ialah: (1) Omri, dialah yang membangun
Samaria menjadi ibu kota Israel; (2) Ahab, raja ini menjerumuskan Israel kepada
penyembahan berhala yaitu kepada dewa Baal; (3) Yerobeam II, pada masa raja
ini, Israel mengalami kemakmuran ekonomi. Kemakmuran ekonomi ini hanya
dinikmati kalangan atas, sementara rakyat menderita. Dengan demikian masa
ditandai oleh penyalahgunaan kekuasaan dan ketidakadilan. Bidang keagamaan
ditandai dengan ibadat yang kosong dan penuh penyembahan berhala.
Akhir kerajaan Utara pada awalnya ditandai oleh perebutan kekuasaan.
Di samping itu Kerajaan Asyur di Mesopotamia menjadi ancaman nyata bagi
kerajaan Israel. Pada tahun 731 SM kerajaan Israel jatuh ke tangan Asyur.
Kemudian pada tahun 724 SM, kerajaan Israel memberontak melawan Asyur dengan
tidak mau membayar upeti dan akhirnya pada tahun 721 SM kerajaan Israel
dihancurkan oleh Asyur dan sebagian rakyatnya Khususnya masyarakat lapisan atas
dibuang ke Mesopotamia. Sebaliknya raja Asyur mendatangi orang-orang dari
Mesopotamia untuk tinggal di kota-kota Samaria. Dari pencampuran penduduk
inilah di kemudian hari orang Samaria dianggap tidak asli Yahudi lagi dan juga
dianggap sebagai kaum ibadah. Mereka inilah selanjutnya disebut orang-orang
Samaria. Bahkan pada Zaman Yesus orang Yahudi tidak bergaul dengan orang
Samaria (Yoh 4:9).
Pada
jaman ini tampil pula nabi-nabi, antara lain:
a. Elia : Nabi ini berkarya pada
masa pemerintahan Ahab (875-853) di mana pada saat ini penyembahan berhala
kepada Baal begitu meraja rela, maka Allah menguts Elia untuk mencoba dengan
sekuat tenaga membela kemurnian agama israe, bahwa penyembahan hanya kepada
Yahwe saja.
Nabi
Elia menyatakan bahwa :
-
Yahwelah Allah Israel, juga di bidang kesuburan, bukan Baal (1 Raj 17-28)
-
Yahwelah yang berkuasa atas hidup dan mati, bukan Baal (2 Raj 1)
-
Raja Israel tidak boleh memerintah dengan gaya Kanaan (1 Rak 21) yaitu
menjadi raja dengan kekuasaan sewenang-wenang.
b. Elisa : melanjutkan karya
Elia, di samping itu nabi ini juga terlibat dalam keputusan-keputusan penting
(2 Raj 2-10)
c. Amos : Nabi ini muncul sekitar
tahun 760 SM. Pada Zaman ini, Israel mengalami kemakmuran, tetapi sekaligus
muncul koropsi, penyalahgunaan kekuasaan dan ketidak adilan serta ibadat yang
tanpa isi. Nabi dengan sekuat tenaga mencoba membela keadilan dan mengecam
segala bentuk ketidak adilan serta ibadat yang kosong. Dengan jelas dan tajam
Amos memperlihatkan segala kecurangan dan kemunafikan dalam hidup sosial dan
religius, khusnya golongan atas. Amos bertugas sebagai nabi tidak lama, mungkin
hanya tiga bulan.
d. Hosea : nabi cinta kasih. Nabi
ini berkarya sekitar tahun 758 SM. Pada jaman ini, Israel sama sekali tidak
mengenal Allahnya. Israel telah mengejar dan menemukan kekaxsih lain yaitu
Baal. Maka nabi mewartakan bahwa Yahzwe adalah Allah yang setia.
Perkembangan Kitab Suci pada masa ini
a. Munculnya tradisi Elohist
Tradisi
ini disebut Elohist, karena menyebut Tuhan dengan sebutan Elohim (Allah), dan
disingkat E. tradisi ini mencoba merenungkan dan menuliskan peristiwa bapa-bapa
bangsa dan tradisi Israel ke Mesir dan keluar dari Mesir.
b. Elisa dan Elisa dua tokoh yang
sangat menonjol pada abad ke 9 SM. Pewartaan mereka tidak tersimpan, tetapi
kisah dan legenda mereka tersimpan dalam suatu cerita yang kini sebagian cerita
itu dapat ditemukan diakhir 1 Raj dan awal 2 Raj.
Pewartaan
para nabi “penulis” yaitu Amos dan Hosea, sudah sebagian mulai dituliskan para
muridnya. Hanya saja sulit ditentukan pewartaan nabi itu ditulis untuk pertama
kalinya.
c. Kumpulan Hukum: Ulangan
Di
kerajaan Utara perhatian terhadap tradisi Sinai sangat kuat, sehingga
dihasilkan kumpulan catatan perjanjian dan hukum. Kumpulan ini dilandaskan pada
upacara pembaharuan perjanjian berkala di Sikhem dan dikembangkan di suku-suku
Utara. Kumpulan ini pada tahun 722 dibawa ke Yerusalem dan mendapat bentuk yang
definitip pada jaman raja Hizkia (726-687 SM). Kumpulan itu kurang lebih sama
dengan Ul 5-28 sekarang.
d. Mazmur
Pada
periode inipun disusun sejumlah Mazmur, baik di kerajaan Utara maupun Selatan
3. Kerajaan Yehuda
a. Sebelum keruntuhan Kerajaan
Israel
Kerajaan
yuda meliputi dua suku (Yehuda dan Benyamin), dari segi tanah kerajaan Yuda
mendapat bagian yang kurang subur, akan tetapi kerajaan ini hidup dekat Bait
Allah. Hal ini merupakan faktor penting dalam mempertahankan iman mereka kepada
Tuhan Penyelamat. Meskipun Yuda sering jatuh pada penyembahan berhala
(khususnya pada pemerintahan Rehabeam dan Atalya), namun beberapa kali Yuda
mendapat raja-raja yang saleh (antara lain : Asa, Yosafat, Yosia). Yehuda juga
mengalami kemakmuran, khususnya pada masa pemerintahan Uzia (767-740 SM) dan
Yotam (740-734 SM).
Sejak
abad ke 8 SM kekuasaan Asyur mulai menanjak dan menunjukkan tanda-tanda yang
sangat membahayakan bagi kerajaan-kerajaan disekitarnya. Hal ini terjadi mulai
pemerintahan Tiglat Pileser III (745-727 SM). Tahun 740 dia mengadakan ekspansi
ke barat dan menghancurkan kerajaan-kerajaan disitu sampai ke perbatasan
Israel. Tahun 734 dia sekali lagi berekspansi ke barat untuk mengalahkan
kerajaan-kerajaan yang berbatasan dengan laut tengah. Melihat ancaman besar ini
raja Israel dan raja Aram bersepakat untuk mengadakan koalisi untuk melawan
Asyur dan mengajak Ahas raja Yehuda untuk masuk dalam koalisi tersebut.
Undangan ini ditolak oleh Ahas. Maka majulah dua raja itu untuk memerangi Ahas.
Karena sadar dia tidak kuat melawan dua raja itu, Ahas minta bantuan Asyur.
Permintaan itu dengan sukarela diterima, bukan karena dia bermaksud baik untuk
menolong, tetapi sudah termasuk rencana untuk memerangi kedua raja itu. Ahas
harus membayar mahal pertolongan Asyur ini, karena Yehuda menjadi taklukan dan
harus membayar uprti.
Pada
periode ini muncul dua nabi di Yehuda, yaitu nabi Yesaya (740-700 SM) dan nabi
Mikha (745-697 SM). Kedua nabi ini diutus Allah untuk mewartakan sikap tobat
terhadap Allah. Dari pewartaan mereka menjadi jelas, bahwa hidup keagamaan serta
keadilan sosial kerap kali amat menyedihkan. Yesaya, nabi yang berasal dari
kalangan atas ini sangat menekan kekudusan Yahweh, dosa Israel dan sikap iman.
Sedangkan Mikha menuntut kasih setia Israel terhadap Yahwe sebagai sikap yang
dituntut dalam perjanjian. Ia juga mengecam kejahatan dan ketidakadilan sosial
yang menghancurkan hubungan baik antara semua anggota bangsa terpilih. Nabi
mengecam kalangan/lapisan atas yang menindas rakyat kecil atau lapisan bawah.
Atas nama Tuhan nabi Mikha menyampaikan protes yang sangat tajam dan ia
meramalkan hukuman yang amat berat.
b. Sejarah runtuhnya Kerajaan
Yuda/Yehuda.
Sejarah
Timur Tengah setelah Tiglet Pileser III berkuasa semakin panas. Raja Hizkia
harus membayar mahal atas kesalahan ayahnya. Raja yang saleh ini terus menerus
berusaha untuk melepaskan diri dari pengaruh Asyur, tetapi makin lama makin
sulit karena pengganti-penggati Tiglet Pileser III termasuk raja-raja yang
kuat. Percobaan untuk memberontak pada tahun 705 harus dibayar mahal. Sebagian
kerajaan dihancurkan oleh raja Asyur, Sargon II. Yerusalem luput dari
kehancuran hanya setelah Hizkia membayar upeti yang besar. Setelah kematian
pengaruh kekafiran di bawah.
Perkemabangan Kitab Suci pada masa ini.
-
Pewartaan Nabi: Yesaya, Mikha, Nahum, Habakuk oleh murid-muridnya mulai
ditulis.
-
Penyatuan tradisi Y dan E, dengan berpedoman pada tradisi Y. kerajaan
Utara dihancurkan pad tahun 721 SM. Pada waktu itu sekumpulan naskah dari
tradisi E dibawa lari ke Selatan. Kemudian pada masa raja Hizkia, seorang
redaktur menyatukan tradisi Y dan E menjadi satu kisah YE. Dalam menyusul
naskah baru itu radaktur menggunakan tradisi Y sebagai pedoman, sedamgkan E
hanya digunakan untuk melengkapi tradisi Y.
-
Tradisi Deuteronomist (kelompok cendekiawan) mulai menyusun karya raksasa
tentang sejarah bangsa Israel sejak jaman Musa sampai raja Yosia. Sebagai tolok
ukur untuk menilai semua tokoh dan peristiwa dipergunakan naskah Ul 5-28.
Itulah sebabnya kelompok ini disebut kelompok deuteronomis (Deuteronomium
adalah nama latin dari kitab Ulangan). Kelompok ini juga melengkapi kitab
Ulangan bab 1-4 dan 29-34 sebagai pendahuluan dari kitab kitab sejarah yang
dalam Kitab Suci terdiri dari kitab-kitab Yosua, Hakim-hakim, 1,2 Samuel dan
1,2 Raja-raja dalam edisi yang pertama. Penyusunan kitab-kitab ini akan
diteruskan pada waktu pembungan Babel.
-
Mazmur, Amsal dan kisah Yusuf. Ada beberapa Mazmur yang berasal dari
periode ini. Para guru kebijaksanaan mulai mengumpulkan Amsal dan pepatah yang
kini tersimpan dalam kitab Amsal. Karya lain adalah saduran kembali kisah Yusuf
yang sekarang terdapat dalam Kej 37-50 dengan menyatukan karya Y dan E.
2.3. Periode Pembuangan (586-538
SM)
a. Situasi Yehuda
Periode
ini merupakan titik sejarah Israel. Secarah lahiriah Israel kembali ke titik
awal sejarahnya, yakni perhambaan. Tetapi secarah batiniah diperbaharui degan
belajar menemukan hal-hal batin dari imannya terutama berjumpa kembali dengan
Tuhan dan rencana keselamatan.
Kemalangan
yang menimpa kerajaan Yehuda pada tahun 589-586 SM sungguh-sungguh mengubah keadaan.
Yerusalem dan semua kota lain di Yehuda dihancurkan oleh Nebukadnezar, raja
Babel. Lapisan atas bangsa Yehuda dibuang ke Babel, yang tinggal hanya kaum
kecil dan miskin.
Secara
yuridis Yehuda digabungkan dengan propinsi Samaria. Pad awal periode ini
keadaan yehuda sangat menyedihkan. Kehidupan agak membaik setelah beberapa
lama, terutama setelah beberapa orang buangan berhasil meloloskan diri ke Mesir,
kemudia kembali ke Yehuda dan mengatur kehidupan baru. Hanya karena jumlah
mereka sangat kecil, maka pembangunan yang dilakukan menjadi sangat lamban dan
kurang berarti.
b. Kehidupan orang buangan di
Babel.
Orang-orang
Yehuda mengalami dua kali pembungan, yaitu pada tahun 597 dan 586 SM. Seluruh
jumlah orang buangan antara 20.000 sampai 30.000 orang, yang termasuk golongan
atas (pegawai, militer, imam, tukang). Kedua pembuangan itu membawa akibat
buruk yang sangat hebat bagi bangsa Yehuda. Pembuangan itu dimaksudkan untuk
melumpuhkan suatu bangsa, sehingga tidak dapat memberontak lagi.
Rupanya,
para buangan dari Yehuda tidak diperlakukan sebagai tahanan perang yang
dikurung. Mereka diperbolehkan mengatur hidupnya sendiri di wilayah diberikan
kepadanya, khususnya dalam kehidupan agama dan hidup sehari-hari. Mereka hanya
tidk diberikan kebebasan dalam bidang politik. Mereka bekerja sebagai tukang,
pedagang, petani, bahkan ada sebagai pegawai, sehingga secara sosio ekonomis
mereka cukup berhasil. Maka tidak mengherankan sesudah beberapa puluh tahun,
beberapa orang buangan berhasil memperoleh kedudukan yang cukup kuat dan
terpandang di Babel. Pada tahun 561 SM Raja Yoyakim termasuk kelompok orang
buangan pertama (tahun 597 SM) direhabilisasi. Rehabilisasi ini juga menyatakan
kebijakan manusiawi penguasa Babel terhadap orang Yehuda.
Banyak
orang Yehuda di pembuangan dengan cepat menyesuaikan diri dengan situasi Babel.
Namun sebagian besar tetap menolak berasimilisasi dengan penduduk setempat
karena ingin tetap mempertahankan keaslian dan kekhasannya sebagai orang
Yehuda. Mereka inilah yang selalu merindukan untuk kembali ke tanah air.
c. Kehidupan Religius
Pembangunan ke Babel ini secara religius sungguh
menghilangkan tiga pegangan sebagai pemenuhan janji-janji Allah, yaitu :
1. Mereka dibuang dari tanah
airnya. Hal ini merupakan pengalaman yang bertolak belakang dengan pengalaman
pemenuhan janji kepada bapa-bapa bangsa mengenai tanah.
2. Tidak ada lagi keturunan Daud
yang menjadi raja di Yerusalem. Ini bertentangan degan nubuat Natan yang
terdapat dalam 2 Sam 7
3. Bait Allah tempat kediaman
Yahwe ditengah umat hancur. Ini berarti Yahwe meninggalkan umat-Nya
Maka muncullah sikap-sikap
sebagai berikut :
1. Penghancuran Yehuda dipandang
sebagai hukuman yang ditimpakan oleh dewa-dewi asli Kanaan, yaitu Baal, karena
bangsa Israel telah merebut tanah miliknya. Kelompok ini cenderung untuk
kembali berbakti kepada Baal.
2. Pandangan lain adalah bahwa
Yahweh telah dikalahkan oleh dea Babel. Pandangan ini didasarkan pada pandangan
bahwa jika terjadi perang, maka yang berperang bukan hanya tentara tetapi juga
para dewa-dewi dan alah masing-masing negara. Karena Israel kala melawan Babel,
maka mereka menganggap Yahweh telah kalah melawan dewa-dewi Babel. Sikap
seperti ini terdapat dalam diri orang yang tinggal di wilayah Yehuda yang
dikuasai Babel.
3. Sikap ketiga adalah kelompok
terbesar yang mengartikan pembuangan tahun 586 SM sebagai kata terakhir dalam
dialog antara Yahwe dengan bangsa terpilih. Tahun 721 SM adalah kehancuran
kerajaan Israel sebagai tanda peringatan terakhir dari Yahweh supaya Israel
bertobata dan setia pada perjanjian-Nya. Nyatanya Israel tidak setia dan
mengingkari perjanjiannya dengan Yahweh. Karena itu mereka dihukum. Kini mereka
ditolak oleh Yahweh dan dibuang. Akibatnya mereka berada dalam keadaan putus
asa. Di tengah segala keputusaan itulah tampil tokoh-tokoh yang memberi harapan
akan masa depan yang lebih baik.
Ketiga sikap diatas cukup
menjadi alasan yang menyebabkan kehancuran bangsa Israel sebagai bangsa.
Keistimewaan sebagai bangsa yang menyembah Yahweh, mulai luntur. Pada hal ciri
khas ini sangat penting, supaya sebagai bansa tidak hancur dan hilang seperti
yang terjadi pada bangsa: Edom, Moab, Amon dsb. Dalam situasi seperti itulah
Allah mengutus Yehezkiel untuk membuka mata orang-orang Yehuda dan menyadarkan
mereka bahwa mereka sudah tidak setia kepada Yahweh, Allah yang mengikat
perjanjian dengan mereka.
d. Tokoh-tokoh yang tampil adalah
:
1. Nabi Yehezkiel. Nabi ini
mewartakan karya keselamatan Allah yang akan datang. Tuhan adalah Allah yang
tidak menghendaki kematian orang berdosa, tetapi supaya bertobat dan hidup.
Nabi ini juga mewartakan bahwa dialog Yahwe dengan umat-Nya belum berakhir, dan
karena itu masih ada masa depan. Harapan akan masa depan inilah menjadi alasan
mengapa bangsa Yehuda tidak punah sebagai bangsa. Nabi ini amat berjasa bagi
pembaharuan dan penyucian umat Yehuda yang tebuang.
2. Nabi Deutero Yesaya. Nabi ini
tidak diketahui namanya, tetapi pewartaannya disatukan dengan Kitab Yesaya yang
sekarang kita temukan dalam Yes 40-55, maka disebut Yesaya kedua (Deutero
Yesaya). Nabi ini mewartakan penghniburan dan pengharapan besar. Tuhan akan
membebaskan umat-nya dari perhambaan di Babel. Israel akan mengalami keluaran
baru. Masa hukuman akan segerah berakhir, masa keselamatan sudah diambang
pintu. Tuhan akan menyatakan dir-Nya sebagai raja segala rajadan Tuhan segala
tuhan bangsa. Pewartaannya yang paling terkenal adalah tentang Hamba tuhan yang
menderita (Yes 52:13-53:12).
3. Sejarahwan Deoteronomist.
Mereka adalah sekelompok orang awam yang saleh dan beribadat. Disebut
Deuteronomist karena teologinya dijiwai oleh kotbah-kotbah yang terdapat dalam
kitab Ulangan, khususnya 5-28. Mereka inilah yang merampung tulisannya tentang
sejarah Israel yang telah dimulainya. Dalam tulisannya itu mereka mencoba
menjawab pertanyaan mengapa Israel dibuang. Menurut mereka ad tiga sebab,
yaitu: Pertama. Karena Israel telah meninggalkan Tuhan dan meyembah dewa-dewi;
Kedua. Israel tidak mau mendengarkan seruan Tuhan yang disampaikan para Nabi;
Ketiga. Yerusalem kota Allah telah menjdai bejat, karena penuh dengan
penyembahan berhala. Sejarahwan inilah yang menuliskan kitab-kitab sejarah:
Yosua, Hakim-hakim, 1,2 Samuel dan 1,2 Raja-raja.
4. Para Imam. Mereka merfleksikan
sejarah awal Israel dalam konteks sejarah dunia dan dari sudut iman. Israel di
pembuangan adalah Israel yang kehilangan identitasnya sebagai bangsa, karena
mereka telah kehilangan identitasnya sebagai bangsa, karena mereka telah
kehilangan raja, tanah dan bait suci. Untuk itu Israel memrlukan identitas
baru. Identitas mereka, menurut para imam adalah sunat. Sunat sebagai tanda perjanjian
dengan Allah. Di samping sunat tanda lain adalah sabat. Sabat adalah hari
istirhat yang telah dikuduskan Allah sejak penciptaan.
e. Perkembangan Kitab Suci.
1. Kisah sejarah Deuteronomist
yang sudah dikerjakan pada masa pemerintahaan pemerintahan raja Yosia, selama
pembuangan dilengkapi dengan informasi menganai raja Yosia dan sesudahnya serta
akhir Kerajaan Yuda dn pembuangan ke Babel.
2. Kitab Ratapan. Kitab ini
disusun tidak lama setelah kehancuran Yerusalem.
3. Nabi-nabi. Tulisan-tulisan
tentang pewartaan para nabi sebelum pembuangan dibawa ke pambuangan dan
dilengkapi, oleh karena itu pada akhir masa pembuangan kitab Nabi: Amos, Hosea,
Mikha, Yesaya (1-39), Nahum, Zefanya, Yeremia, Habakuk sudah mempunyai bentuk
yang hampir final.
4. Mazmur. Sekurang-kurangnya ada
satu Mazmur yang ditulis pada masa ini yaitu Mazmur 137
5. Tulisan Para Imam
(Priesterkodeks). Pada masa ini disusun karya besar yang melengkapi Tradisi Y
dan E. Bahkan menurut para ahli tradisi P inilah yang menggabungkan
tradisi-tradisi yang akhirnya menjadi Pentateukh seperti yang sekarang kita
miliki. Tradisi P sendiri memiliki cerita, misalnya kisah penciptaan Kej
1:1-2:4a, akan tetapi yang paling banyak adalah hukum.
2.4.Periode Pembangunan/Sesudah
Pembuangan (538-332 SM)
a. Kembali dari Pembuangan dan
masalah-masalahnya.
Sekitar
tahun550 SM muncul kekuatan baru dari Persia dan dengan cepat memperluas
wilayah kerajaannya. Pada tahun 539, raja Koresy dari Persia mengalahkan Babel,
sehingga Babel menjadi daerah jajahannya. Kebijakan Koresy ialah memberi otonomi
seluas-luanya dalam dalam hal kebudayaan dan agama kepada bangsa jajahannya.
Pada tahun 538 SM, ia mengeluarkan izin resmi bagi orang-orang Yehudi untuk
kembali ke Palestina dan membangun kembali Bait Allah yang telah hancur (bdk 2
Tw 36:22-23).
Ternyata
izin yang diberikan raja Koresy kepada orang buangan untuk pulang ke Yehuda
tidak digunakan oleh semua. Ada kelompok yang memanfaatkan izin ini untuk
kembali ke Yehuda, tetapi ada juga yang tidak mau pulang karena keadaan sosial
ekonomis mereka di Babel sudah baik.
Kelompok
pertama yang pulang terdiri dari orang-orang yang tidak begitu berhasil dan
tidak dapat maju diwilayah pembuangan. Kelompok lakin pulang karena sangat
dipengaruhi oleh pewartaan Yeremia, Yehezkiel dan terutama Deutero Yesaya
mengenai masa keselamatan yang akan datang sesudah pembuangan di Babel.
Hal-hal
penting yang terjadi setelah orang buangan kembali adalah sebagai berikut :
1. Kesukaran dan Krisis
Orang-orang
Israel yang baru pulang dari pembuangan sesungguhnya memiliki semangat yang
besar. Tetapi mereka menjadi agak putus asa dan kecewa, karena banyak
menghadapi kesulitan dan tantangan. Keadaan di Yehuda tidak seperti yang mereka
bayangkan. Segala-galanya rusak, penduduk hanya sedikit dan miskin. Nabi Trito
Yesaya mencoba memberikan pengharapan dan keberanian kepada orang-orang yang
kembali dari pembuangan.
2. Pembangunan Bait Suci
Mereka
yang kembali dari pembuangan mencoba membangun Bait Suci. Pekerjaan ini tidak
berjalan lancar. Hal ini disebabkan adanya pertentangan kepentingan antara
orang yang kembali dari pembuangan dengan yang tidak dibuang. Orang yang tidak
ikut pembuangan lebih memikirkan kepentingan mereka sendiri daripada membangun
Bait Suci. Disamping itu juga ada pahlawan dari orang-orang Samaria yang ingin
ikut membangun Bait Suci. Orang-orang Samaria dianggap tidak asli Yahudi lagi
maka dilarang ikut serta membangun Bait Suci, akibatnya terjadi perlawanan.
Dengan dukungan Nabi Hagai dan Zakharia dan dengan susah payah dan akhgirnya
Bait Suci dapat dibangun kembali dan diselesaikan pada tahun 515 SM.
3. Adanya perselisihan.
Sejak
awal sudah timbul perselisihan antara kelompok orang yang pulang dari
pembuangan dengan kelompok orang yang tidak dibuang serta dengan orang-orang
Samaria. Orang-orang yang kembali dari pembuangan itu ternyata memili
penghayatan riligius yang berbeda dengan mereka yang tetap tinggal dan
lebih-lebih dengan orang Samaria. Kelompok orang yang pulang dari pembuangan
itu memandang diri sebagai “sisa Israel”, yaitu kelanjutan sah dari bangsa
terpilih yang lama. Hanya mereka yang boleh membangun kembali Kenisah. Kedua
kelompomk lain (yang tidak dibuang dan orang Samaria) dipandang hina dan tidak
pantas untuk tugas luhur: itulah sebabnya di kemudian hari orang-orang Samaria
membangun kanisah mereka sendiri di atas gunung Gerizim pad abad 4 SM.
b. Pembaharuan Ezra dan Nehemia
Pada
tahun 515 SM Bait Suci sudah ditahbiskan. Situasi daerah Yehuda tetap
menyedihkan. Ibu kota tidak memuliki tembok perlindungan, penduduk tidak merasa
aman. Mereka sering diganggu oleh orang-orang Samarai dan bangsa –bangsa
tetangga. Untuk membereskan keadaan maka Nehemia minta diangkat menjadi
Gubernur di Yerusalem. Ia adalah seorang Yahudi yang bekerja sebagai pejabat
tinggi di istana Persia. Berkat kedudukannya yang tinggi inilah ia dapat
melaksanakan tugas dengan baik sehingga Yehuda menjadi aman, tidak ada gangguan
lagi. Hal ini berlangsung pada tahun 445-433 SM. Keberhasilan dibidang
keamanan, sehingga pada tahun 43 SM Nehemia kembali lagi bersama seorang ahli
kitab bernama Ezra. Dengan bantuan Ezra pembaharuan agama dapat dijalankan.
Ezra menjadikan hukum Musa (Taurat Musa) sebagai hukum sipil untuk semua orang
Yahudi yang dilakukan pada hari raya pondok daun. Dengan ini lahirlah Yudaisme.
Istilah Yudaisme atau agama Yahudi pertama-tama dijumpai dalam 2 Mak 2:21.
Yudaisme adalah suatu agama baru yang lahir dari pangkuan Israel. Pusat hidup
Yudaisme ialah Taurat Musa dan Ibadat yang berpusat di Bait Allah. Mereka
menekankan ciri-ciri mereka dalam tanda-tanda lahiriah seperti sunat, ketaatan
pada peraturan hari Sabat, peraturan mengenai makanan, puasa dan waktu-waktu
doa. Ciri-ciri itu menjadi bangsa Yahudi di Yehuda sangat berbeda dibandingkan
dengan semua bangsa lain.
c. Perkembangan Kitab Suci
1. Hukum Taurat atau Pentateukh
Kitab Ulangan yang
aslinya menjadi satu dengan kitab sejarah karya Deuteronomist, akhirnya
digabungkan dengan empat kitab yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat dan Bilangan.
Dengan demikian kelima kitab ini telah memperoleh bentuknya yang definitif.
2. Kitab-kitab sejarah karya Deuteronomist
(Yosua, Hakim-hakim, 1,2 Samuel, dan 1,2 Raja-raja). Juga sudah final
3. Nabi-nabi
Penulisan dan
pengumpulan para nabi yang dimulai pada masa sebelum dan semasa pembuangan
masih terus dilanjutkan, bahkan sebagian besar kitab-kitab para nabi hanpir
final.
4. Kitab Sastra Kebijaksanaan yang telah selesai
pada masa ini antara lain:
-
Amsal
telah mendapat bentuknya yang definitip
-
Kidung
Agung yang berisi lagu-lagu cinta ditulis dalam bahasa puisi yang indah
-
Kitab
Ayub merupakan kitab yang isi dan mutu sastranya sangat tinggi, sehingga
dipandang sebagai salah satu karya terbaik sastra universal
-
Kitab
Pengkotbah merupakan semacam buku pegangan bagi pembinaan sikap kritis di
kalangan kaum muda
5. Mazmur. Sudah dikatakan bahwa ibadah di
kenisah yang baru diatur dengan sangat ketat. Salah satu akibatnya ialah mulai
ditetapkan apa yang boleh digunakan dalam ibadat, termasuk lagu atau Mazmur.
Dari ratusan mazmur yang tersusun mulai tahun 1200-300 SM terpilih 150 Mazmur yang diterima
sebagai kumpulan resmi, seperti yang kita pilih.
6. Kitab Tawarikh, Ezra dan
Nehemia
Sekitar
tahun 400 SM, seorang Lewi yang disebut Ahli Tarikh menyusun karya besar
mengenai sejarah Daud sampai zaman Ezra dan Nehemia. Keseluruhan kisah ini
didahului daftar silsilah dari Adam sampai Daud. Dengan memanfaatkan Pentateukh
dan kitab sejarah sebagai sumber utama, penulis menyusun karya ini sebagai
suatu buku renungan, bukan pertama-tama buku sejarah. Dua pokok yang
diperhatikan buku ini adalah:
-
Kenisah di Yerusalem adalah
satu-satunya tempat ibdat yang sah
-
Suku bangsa Daud telah dipilih Tuhan sebagai satu-satunya suku bangsa yang
sah untuk memerintah umat-Nya.
2.5. Periode Yudaisme (332-62/50
SM)
a. Tampilnya Alexander Agung
Sesuatu
yang baru terjadi dengan munculnya Alexander Agung sebagai raja Makedonia pada
tahun 334 SM. Ia mampu mengalahkan seluruh dunia Timur Tengah. Yudaisme dapat
dikatakan memasuki politik yang baru. Kekuasaan dari Timur berakhir dan mulai
sekarang digantikan oleh kekuasaan dari Barat. Kekuasaan ini dengan kebudayaan
yang tinggi dan pandangan hidupnya yang berbeda secara bertahap mulai berubah
wajah Timur Tengah, karena pada masa ini
muncul pengaruh kebudayaan Yunani. Raja Alexander Agung meninggal pada tahun
323 SM pada waktu berusia 32 tahun tanpa meninggalkan pewaris kerajaan. Oleh
sebab itu, kerajaan raksasa itu dibagi-bagi di antara para panglimanya yang
kaut. Dari tahun 323-200 SM Yehuda berada dibawah penguasa Ptolomeus dari
Mesir. Raja-raja Ptolomeus pada mulanya bersukai hati-hati dan bijaksan
terhadap Yahudi. Yehuda tetap dibiarkan menikmati otonomi terbatas, di bawah
pimpinan imam agung.
b. Penindasan Agama oleh Antiokhus
IV Epifanes dan Pemberontakan Makabe
Kendati
Alexander Agung sudah meninggal, helenisme berkembang terus sampai kira-kira
seperempat abad sesudahnya. Bahasa Yunani mulai dipakai di mana-mana.
Kebudayaan helenis dengan keunggulan dalam bidang ikmu dan seni membuat bangsa-bangsa Timur Tengah
terpesona, termasuk lapisan atau bangsa Yahudi, sehingga tidak heran kalangan
atas bangsa Yahudi menikuti budaya helenis.
Pada
tahun 200 SM Raja Antiokhus III mengalahkan raja Ptolomeus V dan mencaplok
Palestian. Selama 25 tahun pertama pemerintahan raja ini tetap memberikan
otonomi terbatas kepad Yehuda, di bawah pimpinan imam agung. Hanya saja sejak
tampilnya Alexande Agung henenisme terus berkembang. Bahasa Yunani mulai
dipakai di mana-mana. Kebudayaan helenis dengan keunggulan dalam bidang ilmu
dan seni membuat bangsa-bangsa di Timur Tengah terpesona. Tidak terkecuali
Bangsa Yahudi, khususnya kalangan atas.
Politik
pengyunanian mencapai puncaknya pada masa Antiokhus IV Epifanes menjdai raja.
Ia naik tahta pada tahun 175 SM dan memerintah sampai dengan tahun 164 SM. Raja
ini ingin mempersarukan kerajaannya dengan mewajibkan agama dan budaya yang
sama, yaitu agama dan kebudayaan Yunani. Di Yehuda raja ini mengangkat imam
agung yang mampu membayar tinggi kepadanya. Akibatnya pada masa ini muncul
beberapa imam agung yang sebenarnya adalah orang-orang yang meninggalkan agama
Yahudi, hanya karena dia mampu membayar mahal. Pengyunanian ini di Yehuda
mendapat dukungan dari kalangan atas. Pada tahun 168 SM ia mendirikan mezbah
bagi mahadewa Zeus di Bait Allah. Tahun berikutnya, kebaktian kepad dewa-dewi
dan paraktek agama Yahudi dilarang. Pada waktu itu meletuslah pemberontakan
yang dipimpin oleh imam Matatias, yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang
bernama Yudas (166-160). Yudas diberi julukan Makabe karena tindakannya yang
keras (dari kata Aram maqqaka yang
berarti palu). Yudas Makabe didukung
oleh ribuan petani yang setia kepada agama Yahudi. Pada tahun 164 SM ia dapar
memaksa raja Antiokhus V (yang baru saja naik tahta menggantikan ayahnya) untuk
menyetujuai pengambilalihan Yerusalem oleh orang-orang Yahudi yang setia,
sehingga kanisah dapat ditahirkan kembali.
Perang
melawan penindasan agama ini berlangsung sampai tahun 142, di bawah pimpinan
Yudas dan kedua saudaranya yaitu Yonatan (160-143 SM) dan Simon (142-134).
Sedikit demi sedikit saudarnya Makabe memperoleh kedudukan yang semakin kuat.
Pada tahun 142 kemerdekaan Yehuda diakui oleh Raja Siria dan keturunan Simon
Makabe menjdai pemimpin di bidang religius.
c. Munculnya Partai-partai Politik Keagamaan.
Pada
abad ke 2 SM muncul tiga golongan dalam bangsa Yahudi, yaitu Faris, Saduki dan
Esensi.
-
Faris berarti “terpisah”. Kelompok ini terdiri dari orang-orang awam yang
berpegang mutlak pada Taurat dan tafsiran-tafsiran Kitab Suci yang dilakukan
oleh para ahli Taurat sejak zaman Ezra.
-
Saduki, nama ini berasal dati nama diri Zadok, imam agung pada zaman Daud.
Kelompok Saduki terdiri dari para imam kelas atas dan keluarga bangsawan dan
kaya. Dalam hal agama mereka memegang teguh hanya pada Hukum Taurat yang
tertulis.
-
Eseni merupakan kelompok yang berasal dari kaum imam yang sekitar tahun
150 SM mengundurkan diri dari kehidupan masyarakat ke daerah tepi Laut Mati,
tempat yang sepi.
Pada dasarnya, dapat dikatakan
bahwa yang membedakan kelompok yang sat dengan kelompol yang lain ialah sikap
mereka terhadap Hukum Taurat. Sebagian besar peraturan dan hukum yang ada dalam
taurat berasal dari masa lampau, sehingga banyak yang tidak cocok dengan kehidupan
abad ke 2. Kelompok Saduki tidak mau mengakui kenyataan ini, mereka tetap
berpegang teguh pada Taurat sebagaimana tertulis. Mereka menolak segala macam
tafsiran yang mencoba menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Kelompok Ezeni
melarikan diri dari masyarakat dan hidup di Qurman, suatu tempat sunyi di
padang gurun Laut Mati. Hidup mereka mirip dengan hidup para leluhur. Hanya
kelompok Farisi yang terbuka terhadap tuntutan zaman. Melalui penafsiran
khusus, mereka menyesuaikan Taurat dengan situasi dan tuntutan yang baru.
Mereka melakukan karena yakin bahwa Allah bermksud agar Taurat berlaku untuk
segala zaman.
d. Perkembangan Kitab Suci pada
periode ini.
1. Daniel, Ester dan Yudit
Penganiayaan
yang dilakukan Antiokhus IV Epifanes terhadap bangsa Yahudi dan perang Makabe
yang merupakan reaksi atas pemaksaan agama menjadi latar belakang penulisan
ketiga kitab tersebut. Kitab-kitab itu ditulis dengan tujuan untuk menghibur
dan memperkuat semangat perjuangan bagi Allah dan bagi tradisi nenek moyang.
2. Tobit
Bangsa
Yahudi sesudah pembuangan adalah bangsa yang hidup di diaspora. Untuk menolong
dan membangkitakan semangat mereka dalam menghayati imannya di diaspora
dituliskan kitab Tobit. Kitab ini mengajarkan bahwa ada penderitaan orang
saleh, namun akan ada ganjaran jika ia setia kepada Allah.
3. 1,2 Makabe
Dua
kitab ini tidak berhubungan satu dengan yang lain. Di dalamnya digambarkan
latar belakang sejarah abad ke 2 SM dan perjuangan saudara-saudara Makabe
melawan penindasan agama. 1 Mak menekankan peranan penting saudara-saudara
Makabe, sedangkan 2 Mak meluhurkan karya agung Allah dalam seluruh perjuangan
bangsa Yahudi.
4. Yesus bin Sirakh dan
Kebijaksanaan Salomo
Sebelum
tahun 200 SM pengaruh helenis sudah terasa. Itulah sebabnya seorang bijaksana
menuliskan kitab Sirakh dan Kebijaksanaan Salomo untuk membendung pengaruh
helenisme. Putra Sirakh menyusun buku yang merangkum unsur-unsur berharga dari
Taurat, kitab-kitab sejarah dan kitab para nabi untuk melindungi kawan-kawan
sebangsa dari bujukan filsafat dan budaya helenis. Sekitar abad pertengahan
abad pertama sebelum Masehi, seorang menulis buku kebijaksanaan, yang kemudian
diberi nama Kebijaksanaan Salomo.
5. Tobit dan Barukh
Pada
abad 2 SM ditulis satu novel pendek mengenai seorang Israel yang saleh bernama
Tobit, yang sesudah tahun 721 SM ia dibuang ke Asyur. Pada abad yang sama
diterbitkan suatu buku kecil di bawah nama Barukh, sekertaris nabi Yeremia.
Pada
abad-abad terakhir periode Perjajian Lama, para penulis senang memakai nama
tokoh besar yang hidup pada masa lampau sebagai nama samaran. Dapat disebut
sebagai nama-nama seperti Yunus, Daniel, Tobit, Salomo, Barukh, Henokh,
Abraham. Dengan menggunakan nama-nama besar itu, penulis memberikan wibawa yang
sangat besar pula pada tulisan.
Dari
segi kanonisasi dapat dikatakan bahwa pada akhir periode Perjanjian Lama,
menurut keyakinan orang Yahudi di Palestina, yang dianggap Kitab Suci adalah :
-
Taurat
-
Kitab nabi-nabi
-
Kitab Sejarah Deuteronomis
-
Dan beberapa tulisan terutama kitan Mazmur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar