Translate

Jumat, 08 November 2013

KEGIATAN BELAJAR 1 PENGERTIAN ALKITAB.


KEGIATAN BELAJAR 1
PENGERTIAN ALKITAB.
Kita mulai pengantar Kitab Suci, khusus Perjanjian Lama ini dengan suatu pertanyaan apakah Alkitab itu? Pertanyaan ini penting sebelum kita mengambil langkah lebih lanjut untuk mempelajari Kitab Suci. Di bawah ini akan dijelaskan apa sebenarnya Alkitab itu.
1.      Alkitab Adalah Kitab Suci Orang Kristen
Kata Alkitab berasal dari bahasa Arab dan secara harafiah berarti buku “Kitab Suci“, ahal Alkitab artinya umat yang memmiliki Kitab Suci.
2.      Alkitab adalah suatu buku yang unik
Alkitab adala suatu buku dan sebagai buku dapat ditempatkan di antara atau di samping buku yang lain unmtuk menyadari ciri-ciri yang khas.
Alkitab adalah buku yang unik, keunikan ini nampak:
1.      Judul Alkitab kita ambil dari bahasa Arab. Dalam bahasa Yunani Alkitab disebut Bibla artinya kitab-kitab (bdk 2 Tim 4:13). Nama latin ini kemudian diambil oleh banyak bahasa Eropa lainnya seperti Inggris (Bible), Belanda (Bijbel), Jerman (Bibel), dan Italia (Bibblia). Jumlah buku yang membentuk Alkitab ada 73 buah. Dengan demikian kita dapat menyebut Alkitab sebagai suatu perpustakaan kecil.
2.      Alkitab kita adalah suatu terjemahan. Dalam bahasa asliya, Alkitab sebenarnya ditulis dalam tiga bahasa, yakni Ibrani, Aram dan Yunani. Bahkan ada buku yang ditulis dalam dua bahasa, misalnya Ester dalam bahasa Ibrani dan Yunani
3.      Sebagai atau satu buku Alkitab tidak mencantumkan penulisnya, namun Alkitab tidak jatuh atau turun dari langit. Alkitab benar-benar ditulis oleh manusia. Nama penulis yang disebut hanya terdapat dalam sejumlah kecil kitab. Sebagian besar tidak mencantumkan nama penulisnya. Dari data-data singkat yang diberikan kita dapat melihat bahwa penulis-penulis ini tidak hidup dalam satu zaman dan juga tidak pada satu tempat atau daerah. Jarak waktu yang memisahkan pengarang-pengarang ini satu sama lain bisa sampai 10 abad
4.      Karena ada penulis, maka dengan sendirinya buku-buku ini ditulis dalam aneka ragam bahasa. Jenis kesustraannya pun ada bermcam-macam. Ada prosa, puisi, cerita, hukum, pidato, kotbah, surat, nyanyian, otobiografi dan sebgainya.
5.      Alkitab adalah buku gereja, buku imannya.
Buku yang unik tidak dapat dipisahkan dari Gereja. Alkitab adalah buku Gereja, buku iman.
Alkitab tidak dapat dipisahkan dari Gereja, dari suatu umat yang percaya. Gereja ada lebih dahulu dari Alkitab. Gereja yang sekarang adalah pewaris, penerus dan pengaku iman yang tidak terputus dari suatu umat yang menerima dan mengaku bahwa Allah telah menyatakan diri kepada mereka. Umat perdana atau Gereja para Rasul telah mengalami pernyataan diri Allah, kemudian memberi kesaksian, dan akhirnya menulis pengalaman-pengalaman dan kesaksian-kesaksian itu. Latar belakang, alsan dan tujuan penulis itu dapat dirumuskan bermacam-macam. Bagaimanapun juga mereka yang telah menulis itu mau membagikan pengalaman imannya dan pengalaman iman umat untuk mengundang orang lain masuk dalam persekutuan iman dengan mereka. Penulis merupakan bukti dan jaminan yang sukar dibantah dari segala kebenaran yang disaksikan.
Alkitab kita dari Gereja. Gerejalah yang menyaksiakan bahwa buku ini adalah Kitab Sucinya. Tanpa Gereja kita tidak mungkin mengatakan bahwa buku ini adalah Kitab Suci.
3.      Alkitab adalah buku kesaksian tentang Allah dan jawaban manusia.
Alkitab adalah buku iman Gereja dan hal yang paling mendasar dari pengakuan iman ini ialah bahwa Allah telah menyatakan dirNya kepada manusia dalam sejarah. Seluruh Alkitab menyaksikan hal ini.
Perjanjian lamaadalah kesaksian tentang karya Allah dalam sejarah Israel. Yang memberikan kesaksian ini ialah Israel. Allah telah hidup dan bergaul dengan mereka dan sejarahnya yang panjang dan penuh gejolak itu adalah sejarah Allah. Sejarah ini dimulai dengan janji yang diberikan Allah kepada nenek moyang mereka yakni untuk memberikan tanah Kanaan kepada mereka sebagai milik pusaka. Sebelum diberikan, nenek moyang mereka hidup di Mesir sebagai budak. Sejarah hidup mereka di tanah perjanjian yang berlangsung kurang lebih 7 abad adalah sejarah yang penuh pergolakan dan tantangan di tengah-tengah bangsa lain.
Perjajian Baru adalah kesaksian tentang karya Allah dengan umat manusia dalam diri Yesus Kristus. Seluruh kesaksian Perjanjian Baru bepusat pada Kristus. Seluruh kesaksian Perjanjian Baru berpusat pada Kristus. “Setelah jaman dahulu Allah berulangkali telah berbagai cara berbicara kepada nenek moyang Kits dengan perantara para Nabi, maka pada jaman akhir ini ia telah berbicara kepada kita dengan perantara Putera-Nya.” (Ibr. 1:1-2a). dalam Yesus Kristus Allah telah berbicara secara definitif kepada manusia: “Oleh Dialah Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemulian Allah dan gambar wujud Allah. Ia penopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kuasa. Dan setelah ia selesai mengadakan penyucian dosa.
4.      Alkitab adalah sabda Allah dalam bahasa manusia. Kita perlu mengerti pengakuan Iman ini dengan baik karena kerapkali orang mengalami kesukaran bahkan keragu-raguan apabila membaca teks-teks tertentu dan menanyakan apakah ini sabda Allah atau tidak. Sebagian besar teks Kitab suci berbentuk cerita dan kerapkali orang menjadi bingung dan menanyakan apa yang disebabkan Allah dalam cerita tersebut berbicara langung pada pembaca atau pendengar sekarang. Alkitab adalah Sabda Allah, karena Dia memberikan Kesaksian tentang Allah dan jenis karya-Nya dan sabda-Nya Kesaksian apa yang diberikan tentang Allah dan jenis kesaksian itu telah kita lihat diatas. Puncak dari kesaksiannya tentang Allah ialah: tentang Yesus yang adalah Sabda Allah sendiri dalam daging atau kelemahan tentang Yesus yang adalah Sabda Allah sendiri dan daging atau kelemahan wujud manusia (Yoh. 1:1-18)
Perjanjian Baru diresapi seluruhnya oleh Sang Sabda, oleh pribadi-Nya, kehadiran dan Sabda-Nya. Mendengar bacaan-bacaan Perjanjian Baru membawa pendengar langsung berkontak dengan Kristus, dengan Allah Bapa-Nya. Hal yang lama berlaku pula untuk Perjanjian Lama. Meskipun tidak sama kekutannya di mana-mana. Membaca Perjanjian Lama terus menerus membawa kita untuk berkotak dengan pikiran dan perasaan Allah, menghadapi kita dengan kehadiran-Nya. Mengapa Kitab Suci bersifat demikian? Pertanyaan ini membawa kita pada alas an kedua, yakni karena Kitab Suci ditulis atas dorongan, hembusan dan ilham Roh Kudus. Kita dengarkan kesaksian 2 Ptr. 1:2 Gereja-21: “Yang terutama kamu harus ketahui ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boeh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah”. Karena Roh Allahlah yang menjiwai segala yang disampaikan, maka “Firman Allah itu hidup dan kuat dan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun; Ia masuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum. Dia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibr. 4:12). Kitab Suci bukan hanya memberi kesaksian tentang Allah tetapi sanggup mengundang dan memasuki hati setiap orang yang percaya untuk menjawab sabda tersebut, bergaul dengan Allah dan memasukki hidup Allah.
Kitab Suci berisikan Sabda Allah yang ditulis dan bahasa manusia. Allha berbicara dengan manusia lewat perantara penulis yang menulis Sabda Allah itu dengan cara dan bahasa yang dipakai manusia.
Dari keterangan diatas kita sekarang dapat melihat bahwa Kitab Suci adalah Sabda Allah, Dia adalah tanda dan peringatan yang hidup bahwa sampai hari ini Allah masih berbicara dengan manusia dan mengundang Dia untuk menjawab Sabda-Nya. Tuhan hadir dan berbicara melalui pengalaman dan perjuangan manusia yang disaksikan di dalamnya, melalui sejarah manusia. Kehadiran Allah ini adalah kehadiran yang hidup. Dia berbicara dan menyatakan diri-Nya dalam hidup. Sabda-Nya bukan pertama-tama kata-kata untuk dipelajari tetapi untuk dihayati, “Suatu hidup untuk dibagi bersama, panggilan untuk diikuti dan pengalaman untuk dicoba”.
Sabda Allah ini menjadi pribadi dalam diri Yesus Kristus. Karena itu Ia merupakan suatu undangan untuk suatu pertemuan, dengan Bapa dan Putera-Nya Yesus Kristus dalam Persaudaraan Iman. (bdk. 1 Yoh 1:1-4)
5.      Alkitab disebut juga ‘Perjanjian’
Alkitab disebut “Perjanjian” oleh karena berisikan “Perjanjian Allah dengan manusia”. Dalam Alkitab diceritakan dan dipikirkan segala sesuatu yang berkaitan dengan perjanjian itu, yaitu Allah dan manusia, setia dan/tidak setia pada perjanjian itu; bagaiman perjanjian itu terlaksana atau tidak terlaksana.
Kata “Perjanjian” dipakai untuk mengatakan bahwa antara Allah dan manusia terjalin hubungan istimewa, bukan hubungan alamiah saja. Hubungan itu sekaligus juga berbeda dengan hubungan antar manusia yang terjalin melalui sebuah perjanjian. Kata asli perjanjian dalam bahasa Ibrani adalah “Berit” yang dalam Perjanjian Lama berarti perjanjian dua pihak yang tidak sederajat; jadi dibuat menurut pola perjanjian antara raja penakluk dan raja yang ditaklukkan yang harus membayar upeti. Pihak yang kuat mewajibkan dirinya melindungi yang lemah; sebagai balasan, pihak yang lemah menyatakan kesediaan untuk mengabdi (bdk 2 Sam 3:12) kepada yang kuat, disaksikan Tuhan (1 Sam 20:8). Dengan bersumpah, kedua pihak menjamin pelaksanaan kewajiban mereka masing-masing. Dalam rangka hubungan manusia dengan Allah, maka pihak Allah akan selalu setia dalam janji-janji-Nya, namun kesetian Allah tidak pernah tergantung dari ketidaksetiaan manusia. Sedangkan bangsa Israel/manusia berjanji akan melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Rumusan perjanjian berakhir dengan berkat-berkat ataupun kutukan yang sepenuh-penuhnya tergantung dari pelaksana perjanjian dalam kenyataan (Kel 19:5.8). landasan setiap perjanjian adalah prakarsa Tuhan semata-mata. Manusia tidak boleh lupa sesaat pun, bahwa melalui perjanjian-perjanjian itu Allah sendiri yang bertindak.






















KEGIATAN BELAJAR 2
PENTINGNYA STUDI KITAB SUCI BAGI HIDUP GEREJA

1.      Alkitab adalah buku yang sukar
Kerapkali kita mendengar keluh kesah umat bahwa mereka tidak mengerti apa yang dibaca. Memang kadang-kadang pembacaan itu dapat menghibur dan menguatkan iman mereka, tetapi sebagian besar isi Kitab Suci tidak mudah ditangkap maksudnya. Harus kita akui bahwa Alkitab adalah buku yang sukar, tidak mudah dicernakan,. Kesukaran ini sudah dialami sejak Gereja Para Rasul. Penulis surat kedua Petrus sudah memperingatkan para pendengar di jamannya untuk tidak menafsirkan Kitab Suci seturut kehendaknya (bdk 2 Ptr 1:20-21). Tentang surat-surat Paulus dia mengatakan ada hal-hal yang sukar dipahami (2 Ptr 3:16). Sida-sida dari Etiophia yang gemar membaca Kitab Suci mengalami kesulitan untuk mengerti kitab Yesaya (Kis 8:26-40). Kedua murid dari Emaus ditegur oleh Yesus sebagai orang bodoh yang sangat lamban hatinya sehingga tidak mengerti apa yang ditulis oleh para nabi (bdk Luk 24:25). Para pemimpin Yahudi kerap dikecam oleh Yesus karena tidak mengerti Kitab Suci dan bagaimana harus membacanya (bdk Mat 22:23-24.41-46; Yoh 5:39-40). Jika Alkitab sudah sukar dimengerti oleh orang-orang pada jaman Yesus hidup dan para Rasul yang masih berasal dari latar belakang kebudayaan yang sama, apalagi kita. Mengapa Alkitab itu adalah suatu buku yang sukar?
Pertama karena cirri sejarah dan pernyataan diri Allah. Allah tidak menyatakan dirinya kepada manusia dari jaman dan tempat tertentu. Dia berbicara kepada manusia dan dengan cara manusia. Dari sebab itu bahasa Wahyu Allah dengan sendirinya terikat kepada jaman dan kebudayaan di mana Allah manyatakan diri-Nya. Kebudayaan mereka dalam banyak hal berbeda dengan kebudayaan kita. Di samping itu jarak waktu yang memisahkan kita dengan mereka juga amat besar. Sifat kesejarahan ini dipersulit lagi karena Allah telah menyatakan diri-Nya bukan dalam satu dua tahun tetapi dalam kurun waktu lebih kurang 2000 tahun, yakni dihitung mulai dari panggilan Abraham yang tidak diketahui dengan pasti kapan peristiwa besar itu terjadi.
Kedua karena Alkitab terdiri dari banyak buku, ditulis oleh banyak orang dalam jaman dan tempat yang berbeda-beda dan dalam aneka ragam bentuk kesusasteraan. Untuk mendalami Alkitab secara lebih baik bagaimanapun juga kita harus memiliki rasa kesusasteraan, mengenal bagaimana bahasa bekerja. Tidak sedikit bagian Kitab Suci yang tertulis dalam bentuk puisi.
Ketiga karena isinya yakni tinggi dan dalamnya, panjang dan lebarnya rahasia Allah dan karya-Nya yang disampaikan kepada kita. Beberapa surat Rasul Paulus misalnya tidak mudah dibaca.
2.      Keharusan dan Tujuan Ilmu-ilmu Alkitabiah
Mengingat kenyataan-kenyataan tersebut di atas, maka dibutuhkan studi dan ilmu-ilmu Alkitabiah untuk membuka kekayaan Rohani yang terkandung di dalamnya bagi hidup Gereja. Dibutuhkan beberapa cabang ilmu Alkitabiah sesuai dengan hakekat dan sifat-sifat Alkitab itu sendiri. Kami berikan di sini satu dua catatan tentang cabang-cabang Ilmu Alkitab itu. Aslinya Alkitab itu tertulis dalam bahasa Ibrani, Aram dan Yunani. Dengan sendirinya untuk mengerti Alkitab dengan lebih mendalam dibutuhkan ilmu bahasa dengan segala cabangnya. Betapa indahnya kalau kita dapat membaca Alkitab dalam bahasa-bahasa aslinya karena setiap bahasa mempunyai sifat dan kekayaan sendiri-sendiri dan hal ini kerap sukar dialihkan kedalam bahasa lain. Bahasa adalah ungkapan pikiran, pengalaman dan perasaan. Tata bahasanya menunjukkan bentuk pikiran. Satu contoh untuk menunjukkan betapa pentingnya mengenal bahasa ialah pernyataan nama Allah di Gunung Horep (Kel 31:14). Dalam bahasa aslinya berbunyi Ehyeh Esyer Ehyeh artinya secara harafiah “Saya ada Yang Saya ada”. Apa artinya pernyataan ini? Karena Tuhan telah berbicara melalui manusia pada jaman dan tempat  tertentu, sangat dibutuhkan geografi dan sejarah Alkitabiah. Tanpa kedua pengetahuan yang mendasar ini kita sukar sekali mengerti banyak dari pernyataan diri Allah yang dalam bahasanya sangat terikat kepada tempat dan waktu. Juga kerana sejarah dan kebudayaan bangsa-bangsa disekitarnya dan seluruh Timur Tengah Purba, maka juga sangat dibutuhkan ilmu kebudayaan, keagamaan dan sejarah bangsa-bangsa Timur Tengah Purba. Baru dalam latar belakang ini tampak keunikan Israel dalam hubungannya dengan bangsa-bangsa lain. Masih ada pendekatan lain seperti dari sudut sosiologi, dan psikologi.
Semua ilmu cabang diatas membantu kita untuk mengerti Alkitab dengan lebih baik. Namun dengan itu kita belum mencapai tujuan terakhir segala karya ilmiah atas Alkitab yakni penafsiran isi dan amanatnya bagi hidup Gereja. Hal ini dilakukan dalam eksegese dan teologi Alkitabiah. Akan tetapi kedua cabang ilmu Alkitabiah ini tidak mencapai tujuannya apabila tidak ada cabangcabang ilmu pembantu di atas.
3.      Keharusan, Tujuan dan Metode Ilmu Pengantar Kitab Suci
Kebutuahan akan adanya suatu pengantar ke suatu dokumen tertentu dirasakan terutama apabila sudah ada jarak waktu yang cukup jauh antara dokumen tersebut dan pembaca. Bentuk pengantar dan macam-macam. Ada yang berupa catatan geografis, sejarah, latar belakang kebudayaan dengan segala aspeknya dan lain sebagainya. Bagaimanapun juga tujuannya tidaklah lain daripada untuk memudahkan pembaca mengerti dokumen tersebut.
Kebutuhan akan adanya pengantar sudah dirasakan oleh penerbit buku Kitab Suci. Perjanjian Lama memuat catatan-catatan pengantar semacam itu, misalnya. Lihat semua Kitab Para Nabi (mis. Yes. 1:1; Yer. 1:1-3; Am. 1:1) dan dalam beberapa Mazmur (Mzm. 18 :51; 52:56; 57:59-60).
Catatan pendahuluan semacam itu kemudia diperluas sudah sejak permulaan Gereja. Banyak Bapak Gereja, terutama St. Agustinus dan St. Hironimus, telah menulis catatan pengantar. Akan tetapi langkah-langkah pertama ke arah suatu pengantar ilmiah baru muncul pada abad ke 16. Sejak saat itu pengantar Kitab Suci berkembang menjadi salah satu cabang ilmu Alkitabiah.
Ilmu pengantar Kitab Suci ingin mendekati dan menerangkan Alkitab secara menyeluruh. Ada cabang-cabang ilmu Alkitabiah yang mendekati Kitab Suci dari sudut tertentu yakni sejarah Alkitabiah dan pengantar Kitab Suci. Ilmu pengantar Kitab Suci dapat merangkum suatu bidang bahan-bahan yang tidak terbatas, artinya apa saja yang dianggap perlu dan berguna untuk mengerti Alkitab secara keseluruhan. Berdasarkan pengalaman masing-masing ahli yang tidak jarang dan dalam banyak hal ditentukan oleh para pendengarnya dan konteks kebudayaan dan kemasyarakatannya telah ditulis aneka ragam bentuk pengantar Kitab Suci. Secara tradisional para ahli pada umumnya berpendapat bahwa ilmu pengantar Kitab Suci harus membicarakan tiga persoalan berikut, yakni sejarah terjadinya Kitab Suci, sejarah Kanon dan sejarah teks. Dalam pengantar ini kita mau mendekati Alkitab sebagai buku sejarah, buku kesusasteraan dan buku iman. Itulah ciri-ciri utama Kitab Suci. Ketiga ciri ini harus dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kitab Suci adalah kesaksian tentang karya Allah dalam sejarah, yang ditulis oleh manusia, dan dengan bahasa manusia serta yang menyampaikan kepada kita rahasia Allah yang tak terduga dan rencana keselamatannya bagi kita manusia. Perlu diperhatikan bahwa ilmu ini namanya “pengantar”. Tugasnya ialah seperti memperkenalkan Kitab ini secara menyeluruh dan cukup mendalam agar para pembaca melihat, mengerti dan mencintai buku ini.
Pengantar ini dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu:
a.       Pengantar umum Kitab Suci dengan tekanan pada Perjanjian Lama.
Pengantar umum hanya membicarakan tiga hal yang terjadinya Kanon Perjanjian Lama, beberapa bentuk sastra yang penting dalam Perjanjian Lama; Geografi Alkitabiah dan Garis Besar Sejarah Israel.
b.      Pengantar ke masing-masing bagian Perjanjian Lama yaitu Pentateukh, Kitab-kitab Sejarah, Kitab-kitab Kebijaksanaan dan Nyanyian dan akhirnya Kitab-kitab Kenabian.
4.      Pentingnya Studi Kitab Suci Bagi Hidup Gereja.
Di atas telah dikatakan bahwa tujuan terakhir dari segala karya ilmia atas Kitab Suci ialah mengalami isi dan amanatnya bagi hidup Gereja. Sekarang dalam bab ini kita mau melihat tempat studi Alkitab dalam hidup gereja pentingnya studi Alkitab dapat dilihat dari beberapa sudut:
a.       Alitab adalah buku Gereja, buku imannya.
Dia adalah sabda Allah dalam bahasa manusia. Gereja melihatnya sebagai suci dan ilahi karena didalamnya terdapa Sabda Allah. Dari Sabda itu, Alkitab, bersama tradisi, nerupakan “hukum dan kaidah tertinggi dari Iman Gereja”
Alkitab sebagai Sabda Allah adlah santapan kehidupan gereja dan gereja selalu menghormati Alkitab seperti dia menghormati Tubuh Tuhan. Hal ini tampak jelas sekali dalam Liturgi terutama dalam liturgi Ekaristi. Hanya ada satu meja santapan kehidupan Gereja dan meja itu terdiri dari Sabda Allah dan Tubuh Kristus. Karena Sabda Allah adalah santapan kehidupan Gereja, Gereja tidak mungkin bertumbuh, berkembang dan diperbaharui tanpa Sabda Allah.
Karena Alkitab mempunyai tempat yang begitu vital dalam kehidupan Gereja, maka Alkitab harus terbuka lebar-lebar bagi semua orang beriman. Adalah hak setiap orang beriman untuk memiliki Alkitab dan menerima santapan kehidupan daripadanya. Dari sebab itu, menjadi kewajiban para Uskup untuk mengajar umat beriman bagaimana menggunakan buku ini teristimewa Perjanjian Baru dan terutama Injil secara tepat.
Studi Alkitab secara  mendalam disertai doa tuntut secara istimewa dari para Imam, Calon Imam, Diakon, Katekis Dan Guru-Guru Agama. Tugas utama seorang Katekis ialah mewartakan Sabda Allah baik kepada kaum beriman maupun yang belum beriman kepada Kristus. Melalui pelayananlah, Sabda Allah menjadi santapan kehidupan umat. Kitab Suci harus menjadi buku renungan mereka setiap hari agar mereka dapat belajar “Keunggulan pengenalan akan Kristus melampaui segala sesuatu” (Flp. 3:8). Studi Alkitab terutama dalam mempersiapkan khotbah dan pendalaman Iman haruslah dilihat sebagai salah satu tugas Pastoral yang utama. Bagi Guru Agama sendiri Studi Alkitab amat penting. Tugas utama Guru agama adalah menyampaikan dan mewartakan Sabda Tuhan kepada anak didiknya. Untuk itu Guru Agama sendiri harus mendalami Sabda Tuhan dalam Kitab Suci, hal ini hanya mungkin jika Guru Agama sendiri dengan tekun mempelajari dan merenungkan Sabda Tuhan.
Studi Alkitab masih mempunyai fungsi lain bagi hidup Gereja yakni agar Gereja berkembang dan selalu menjadi lebih dewasa dalam pengertian tentang Imannya. Studi adalah salah satu jalan dari perkembangan ini.
b.      Salah satu persoalan utama yang dihadapi Gereja sekarang ialah inkulturasi dan tantangan kemajuan teknologi modern deangan segala buahnya dan dampaknya. Injil harus meragi seluruh kekayaan kebudayaan bangsa-bangsa dan zaman serta menjadi jiwanya. Untuk mencapai maksud ini, salah satu tugas utama Gereja ialah mendalami kembali Wahyu Ilahi seperti yang disaksikan oleh Alkitab dan dijelaskan oleh para Bapa Gereja dan Magesterium. Tanpa studi yang mendalam atas Kitab Suci orang akan kehilangan jalan, arah dan sarana untuk menjadikan Injil jiwa seluruh kekayaan bangsa dan zaman.
c.       Salah satu panggilan utama Gereja sekarang di tanah-tanah misi ialah memajukan persatuan dan kesatuan kemabali antara seluruh umat Kristen. Panggilan ini benar-benar merupakan suatu tugas Injili (Yoh. 17). Gereja Katolik mengakui bahwa “Cinta serta perhormatan bahkan seperti ibadah kepada Kitab Suci membuat saudara-saudara kita tekun dan rajin mempelajari Kitab ini.” Jadi dalam Gereja Katolik, dia merupakan “alat istimewa dalam tangan Allah Yang Maha Kuasa untuk mencapai kesatuan yang ditawarkan Sang Penyelamat kepada semua manusia.
5.      Cara Mengutip Kitab Suci
Kitab Suci sekarang terbagi atas bab-bab dan ayat-ayat. Pembagian ini tidak asli karena baru dibuat para ahli sekitar Tahun 1500 Masehi. Tujuannya memudahkan orang mengutip Kitab Suci dan menolong pembaca untuk menemukannya kembali dalam Alkitab.
Cara mengutipnya adalah sebagai berikut :
Kej 5:9                     artinya Kitab Kejadian bab 5, ayat 9
Kej 5:9-20                artinya Kitab Kejadian bab 5, ayat 9-20
Kej 5:9.11-15           artinya Kitab Kejadian 5, ayat 9 dilanjutkan ayat 11-15
Kej 5-6                     artinya Kitab Kejadian bab 5 sampai dengan bab 6
Kej 5:1-6:10             artinya Kitab Kejadian bab 5 ayat 1 sampai bab 6 ayat 10
Kej 5:4; 7:4              artinya Kitab Kejadian bab 5, ayat 4 dan bab 7, ayat 4
Kej 5:4: Kel 4:5        artinya Kitab Kejadian bab 5, ayat 4 dan Kitab Keluaran bab 4 ayat 5
Kutipan-kutipan Alkitab dibuat kependekan. Kependekan yang lazim dipakai di Indonesia dan yang disepakati oleh pihak Katolik dan Protestan adalah sebagai berikut :
-          Kej             Kejadian
-          Kel             Keluaran
-          Im              Imamat
-          Bil             Bilangan
-          Ul              Ulangan
-          Yos            Yosua
-          Hak            Hakim-hakim
-          Rut             Rut
-          1 Sam        1 Samuel
-          2 Sam        2 Samuel
-          1 Raj      1 Raja-raja
-          2 Raj      2 Raja-raja
-          1 Taw           1 Tawarikh
-          2 Taw           2 Tawarikh
-          Ezr                Ezra
-          Neh               Nehemia
-          Rat                Ratapan
-          Bar                Barukh
-          Yeh               Yehezkiel
-          Dan               Daniel
-          Hos               Hosea
-          Yl                  Yoel
-          Am                Amos
-          Ob                 Obaja
-          Yun               Yunus
-          Tob               Tobit
-          Ydt                Yudit
-          Est                 Ester
-          1 Mak           1 Makabe
-          2 Mak           2 Makabe
-          Ayb               Ayub
-          Mzm             Mazmur

-          Ams              Amsal
-          Pkh               Pengkotbah
-          Kid               Kidung Agung
-          Keb              Kebijaksanaan Salomo
-          Sir                Yesus bin Sirakh
-          Yes               Yesaya
-          Yer               Yeremia
-          Mi                 Mikha
-          Nah               Nahum
-          Hab               Habakuk
-          Zef                 Zefanya
-          Hag               Hagai
-          Za                  Zakharia
-          Mal                Maleakhi

6.      Bahasa-bahasa Asli Kitab Suci
Alkitab yang kita miliki adalah sebuah terjemahan yang dibuat atas dasar Alkitab asli yang ditulis dalam bahasa-bahasa lain. Bahasa-bahasa asli Kitab Suci ada tiga yaitu Bahasa Ibrani, Aram dan Yunani. Perjanjian Baru seluruhnya ditulis dalam bahasa Yunani.
Sebagian besar Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani. Bahasa ini termasuk rumpun bahasa-bahasa yang disebut “bahasa Semit” yang dipakai bangsa-bangsa yang berkediaman di kawasan Timur Tengah (kecuali Turki). Bahasa Ibrani cukup berdekatan dengan bahasa Aram dan Arab. Bahasa Ibrani Kitab Suci ialah bahasa Ibrani Kuno.
Hanya sebagian kecil Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Aram, yaitu Ezra (4:8-6:18’ 7:12-26) dan sebagian kitab Daniel (2:4b-7:28). Bahasa Aram serumpun dengan bahasa Ibrani. Bahasa Aram inilah yang dipakai sebagai bahasa sehari-hari pada zaman Yesus Kristus. Akan tetapi dewas ini bahasa Aram tidak dipakai lagi, kecuali oleh beberapa kelompok kecil orang Kristen di Palestina dan Libanon. Orang Yahudi sendiri dewasa ini menggunakan bahasa Ibrani. Bahasa Aram aslinya berasal dari bangsa Aram yang berkediaman di kawasan sungai Efrat dan Tigris serta negeri Siria. Tetapi sekitar tahun 800 sebelum Masehi bahasa Aram telah menjadi bahasa Internasional. Pada waktu bangsa Israel dibuang, umat Israel mengganti bahasa Ibrani dengan bahasa Arama, sehingga kemudian mejadi bahasa sehari-hari.
Hanya dua Kitab Perjanjian Lama yang langsung ditulis dalam bahasa Yunani, yaitu 2 Makabe dan Kebijaksanaan Salomo. Tetapi ada beberapa kitab yang aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani atau Aram, diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Dan akhirnya yang terpelihara tinggallah yang berbahasa Yunani. Kitab-kitab ini adalah Yudit, Tobit, 1 Makabe, Tambahan Kitab Daniel, Tambahan Kitab Ester, Sirakh, aslinya bahasa Yunani dari negeri Yunani. Tetapi semenjak Alexander Agung (sekitar tahun 330 sebelum Masehi) merebut seluruh kawasan Timur Tengah, bahasa Yunani menjadi bahasa Internasional




KEGIATAN BELAJAR 1
KANON DAN PROSES TERBENTUKNYA PERJANJIAN LAMA

1.      Kanon Kitab Suci
Kata kanon adalah sebuah kata Yunani yang berasal dari bahasa Ibrani qane yang berarti tongkat luru atau tongkat pengukur (bdk Yeh 40:3). Dalam bahasa Yunani kata kanon digunakan dalam arti kaidah atau patokan (bdk 2 Kor 10:13; Gal 6:6). Dalam kaitan dengan Kitab Suci, kata Kanon diarikan daftar resmi dari kitab-kitab yang menjadi ukuran, pedoman atau kaidah iman gereja. Dengan kata lain kanon berarti daftar kitab-kitab yang diterima Gereja sebagai Kitab Suci atau Kanonik.
2.      Istilah Perjanjian Lama
Istilah “Perjanjian Lama” kemungkinan berasal dari St. Paulus (2 Kor 3:14). Istilah ini mungkon dibentuk berdasarkan pandangan Yeremia (Yer 31:34). Perjanjian Lama adalah perjanjian yang diikat Tuhan dan umat Israel di Sinai (Kel 19:24). Sedangkan Perjanjian Baru adalah perjanjian yang diikat Tuhan dengan seluruh umat manusia dengan Kristus (Luk 22:20). Kata perjanjian dipakai untuk menunjukkan jalinan istimewa antara Allah dengan manusia.
Sejak tahun 1975 ketika diterbitkan Alkitab lengkap dalam bahasa Indonesia sebagai hasil usaha Ekunemis antara sejumlah besar Gereja Protestan dan Gereja Katolik, kita melihat bebeapa perbedaan yang antara lain.
-          Pada kulit Kitab Suci yang diterbitkan untuk umat Katolik tertulis “ALKITAB DEUTEROKANONIKA”. Sedabgkan untuk umat Protestan tidak ada tulisan DEUTEROKANONIKA .
-          Apabila kitamelihat daftar isinya ternyata juag terdapat perbedaan dalam jumlah buku yang diterima sebagai kanonik. Umat Katolik memiliki 46 buku Perjanjian Lama, sedangkan umat Protestan hanya memiliki 39 buku.
3.      Kanon Kitab Suci dalam agama Yahudi
Mengapa ada perbedaan jumlah kitab Perjanjian Lama antara Gereja Katolik dengan Gereja Protestan? Hal ini berkaitan dengan kononisasi Kitab Suci. Kanon Kitab Suci Gereja Protestan berdasarkan pada Kanon Kitab Suci orang Yahudi, sehingga Kitab Suci Perjanjian Lama Yahudi sama dengan Kanon Kitab Suci orang Protestan. Proses terjadinya Kanon Kitab Suci orang Yahudi sangat panjang dan runit. Hal ini disebabkan oleh karena Kitab Suci tidak terjadi dalam satu atau dua tahun, tetapi penulisan Kitab Suci Perjanjian Lama memakan waktu kurang lebih 10 abad.
Kanon Kitab Suci dalam agam Yahudi dibagi dalam 3 kelompok, yaitu :
a.       Kelompok Pertama ialah Taurat (Ibraninya Torah) atau Kitab Taurat Musa yang meliputi : Kejadian, Keluaran, Bilangan, Imamat, dan Ulangan. Kitab Taurat termasuk bagian Kitab Suci agama Yahudi yang pertama-pertama dibuktikan dan diakui sebagai kanonik. Hal ini mungkin terjadi sekitar abad kelima atau keempat sebelum Masehi.
b.      Kelompok Kedua ialah kitab-kitab para Nabi (Ibraninya Nebi’im), yang meliputi :
1)      Nabi-nabi awal : Yosua, Hakim-hakim, 1,2 Samuel, 1,2 Raja-raja
2)      Nabi-nabi kemudian : Yesaya, Yerimia, Yehezkhiel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Meleakhi dan Zakaria.
Jadi tidak termasuk dalam kelompok ini adalah Ratapan dan Daniel. Kelompok ini sudah diterima sebagai Kitab Suci sebelum permulaan abad kedua sebelum Masehi.
3)      Kelompok Ketiga yang disebut Ketubin artinya Kitab-kitab atau tulisan-tulisan (lain), yang meliputi :
a.       Mazmur, Ayub, Amsal (ketiganya disebut tulisan-tulisan besar)
b.      Rut, Kidung Agung, Pengkotbah, Ratapan, Ester (kelimanya disebut lima gulungan)
c.       Daniel, Ezra, Nehemia, 1,2 Tawarikh.
Jumlah kitab yang termasuk kelompok ini masih terbuka samapai dengan zaman Kristus dan abad pertama Kekristenan
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa dasar pengurutan dan pengelompokkan kitab-kitab ini kedalam tiga bagian ialah menurut waktu pengakuan kitab-kitab itu sebagai kanonik.
4.      Terjadinya Kanon Perjanjian Lama
Kitab Suci Yesus dan para Rasul adalah Perjanjian Lama. Pada zaman Gereja Purba belum ada keseragamaan jemaat-jemaat mengenai kanon Kitab Suci. Gereja para Rasul menggunakan Kitab Suci dalam Bahasa Yunani yang disebut Septuaginta (disingkat LXX). Kitab ini bukan melulu terjemahan Yunani dari Kitab Suci dalam dalam bahasa Ibrani, sebab Septuaginta memuat lebih banyak kitab daripada yang terdapat dalam kanon Yahudi (Kanon Yamnia).
Kitab yang terdapat pada Septuaginta tetapi tidak terdapat dalam kanon Yamnia adalah :
-          Tobit
-          Yudith
-          Barukh
-          Tambahan kitab Ester
-          Doa Manase
-          Kebijaksanaan Salomo
-          Yesus bin Sirakh
-          Mazmur Salomo
-          Tambahan Kitab Daniel
-          1,2 Makabe
-          Surat Yeremia
-          1,2 Ezra
Perbedaan yang terdapat pada Septuaginta dengan kanon Yamnia bukan melulu terletak pada banyaknya buku. Ada perbedaan yang lebih dalam yakni bahwa ada beberapa kitab dalam Siptuaginta mencerminkan pengaruh kebudayaan Yunani atau reaksi terhadap kebudayaan itu.
Sejarah terjadinya kanon Perjanjian Lama panjang dan rumit. Pada mu.lanya masing-masing Gereja setempat (Suriah, Palestina, Asia Kecil, Yunani, Roma, dan lain-lain) mempunyai kitab-kitab “kanonik”nya sendiri-sendiri. Tentu saja ada persamaan besar antara mereka meskipun ada juga perbedaannya.
Di bagian Barat dunia Kekristenan waktu itu Gereja merupakan terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin  yang disebut Vetus Latina. Terjemahan itu diambil dari Septuaginta. Pada Abad ke 4, diadakan Konsili dai Kartago (diberi nama Konsili Kartago) untuk menetapkan kitab-kitab yang tidak terdapat dalam kanon Yahudi.
Pada waktu itu terdapat banyak terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin, tetapi tidak seragam. Maka pada tahun 382, St. Hirenimus diperintahkan oleh Paus Damasus untuk menterjemahkan Kitab Suci secara lebih kritis. Terjemahan baru ini adalah terjemahan langsung dari bahasa Ibrani kedalam bahasa Latin. Terjemahan ini pada permulaannya belum banyak yang menggunakannya, namun lama kelamaan terjemahan St. Hirenimus diterima dan dipakai bersama Vetus Latina. Sejak abad ke 16 terjemahan St. Hirenimus dengan gabungan beberapa bagian dari Vetus Latina disebut Vulgata, dan menjadi terjemahan resmi Gereja Katolik.
Kanon Perjanjian Lama ditetapkan secara definitip oleh Konsili Trente dalam sidangnya pada tanggal 8 April 1546. Konsili mengambil sikap ini karena orang Protestan menolak semua kitab yang tidak terdapat dalam kanon Yahudi (Kanon Yamnia). Konsili memutuskan menerima 46 kitab Perjanjian Lama sebagai kanonik. Protestan hanya mengakui dan menerima 39 kitab Kanonik Perjanjian lama. Kitab-kitab yang diakui sebagai kanonik oleh Gereja Katolik melalui Konsili Trente tetapi ditolak oleh Gereja Protestan adalah :
-          Yudith
-          Tobit
-          Kitab Barukh
-          Kebijaksanaan Salomo
-          Yeus bin Sirakh
-          1,2 Makabe
-          Tambahan Kitab Ester
-          Tanbahan Kitab Daniel
-          Surat Yeremia
Catatan : kesepuluh tambahan ini dihitung tujuh, karena, Surat Yeremia digabung dengan Barukh (Barukh bab 6). Tambahan kitab Ester dijadikan satu dengan kitab Ester, tambahan kitab Daniel dijadikan satu dengan kitab Daniel.
Kitab-kitab ini sejak abad ke 16 disebut Deuterokononika artinya kitab-kitab yang diterima kedua sebagai kanon. Kitab-kitab lain disebut protokononika arinya kitab-kitab yang pertama diterima sebagai kanon.
Adapunmenjadi dasar atau kriteria penetapan kanon Perjanjian Lama oleh Konsili Trente adalah penggunaan kitab tersebut secara terus menerus dalam Gereja, baik dalam teologi, ibadat maupun dalam katekese. Kitab-kitab menjadi santapan kehidupan Gereja dan merupakan ungkapan imannya. Penetapan Konsili Trente bersifat definitip artinya kanon Kitab Suci Perjanjian Lama maupun Kitab Suci Perjanjian Baru sudah Final.

1.5. Pembagian perjanjian lama
Urutan dan pengelompokan kitab-kitab dalam Septuaginta berbeda yang terdapat dalam kanon Yamnia. Urutan dan pengelompokan itu tidak dibuat menurut sejarah terjadinya dan penerimaan sebagai kanonik, tetapi menurut jenis kesusasteraan dan isinya.
Berikut ini dapat dilihat secara lengkap urutan dan pengelompokan kitab-kitab Perjanjian Lama menurut tradisi Kristen (Gereja Katolik)
A.    Kelompok Pentateukh
Termasuk kelompok ini adalah : Kejadian (Genesis); Keluaran (Eksodus); Imamat (Lavesitikus); Bilangan (Numeri); Ulangan (Deuteronomium).
B.     Kelompok kitab-kitab Sejarah
Termasuk dalam kelompok ini adalah : Yosua; Hakim-hakim; Rut; 1,2 Samuel; 1,2 Raja-raja; 1,2 Tawarikh; Ezra; Nehemia; Ester; Tobit; Yudith; 1,2 Makabe.
Kitab-kitab sejarah pada dasarnya menceritakan apa yang lampau yakni karya Allah kepada bangasa Israel dan reaksi atau bagaimana bangsa Israel menghayati panggilannya.
C.     Kelompok kitab-kitab Kebijaksanaan dan Nyanyian
Temaasuk dalam kelompok ini adalah : Ayub; Mazmur; Amsal; Pengkotbah; Kidung Agung; Kebijaksanaan Salomo; Yesus bib Sirakh.
Kitab-kitab ini pada dasarnya merefleksikan hidup ini, yakni bagaiman menghayati hidup secara benar. Jadi kitab-kitab ini melihat ke arah yang sekarang, mengajar kita bagaiman menghayati hidup ini, sehingga sering pula disebut kita didaktis. Hampir sebagian besar kitab-kitab ini berbentuk puisi.
D.    Kelompok kitab-kitab Kenabian
Kelompok ini meliputi : Yesaya; Yeremia; Ratapan; Barukh; Yehezkiel; Daniel; Hosea; Yoel; Amos; Obaja; Yunus; Mikha; Habakuk; Zefanya; Hagai; Zakharia; Maleakhi; Nahum.
Kitab-kitab Kenabian berbicara tentang karya Allha dimasa yang akan datang berdasarkan kenyataan dan pengalaman yang sekarang dan karya Allah di masa lampau. Pada umumnya kitab-kitab ini berbentuk puisi.

1.6. Prose Terbentuknya Perjanjian Lama
Kitab Suci Perjanjian Lama terbentuk melalui proses yang sangat panjang. Sejarah penyelamtan Allah yang dimulai dengan pilihan Allah terhadap Abraham terjadi pada abad 19/18 SM. Asal usul Perjanjian Lama, tradisi-tradisi yang terbentuk di sekitar para bapa bangsa, bermula dari Abraham, manusia yang dipanggil Allah dan yang menerima janji-janji Ilahi untuknya dan keturunannya. Namun Musalah sang pemimpin dan pemberi hukum yang pada abad ke 13 SM menghimpun sekelompok suku-suku pelarian menjadi suatu bangsa, yang mengawali gerakan religius besar-besaran. Gerakan inilah yang akhirnya menghasilkan tulisan-tulisan yang ternyata merupakan anugerah Allah kepada umat manusia.
a.       Pentateukh atau Taurat Musa yang mengisahkan awal mula dunia, manusia, sampai terbentuknya bangsa Israel menjadi suatu bangsa di bawah pimpinan Musa sebenarnya mulai ditulis pada abad 10 SM oleh tradisi Y dan kemudian diikuti oleh tradisi-tradisi lain. Pentateukh terbentuk sebagaimana yang kita miliki sekarang sekitar abad 6 atau 5 SM.
b.      Tulisan-tulisan kenabian mulai dengan nabi Amos dan Hosea pada abad 8 SM dan ditutup oleh Yoel dan Zakharia (bab 9-14) pada abad ke  SM.
c.       Kitab-kitab sejarah meliputi kurun waktu mulai dengan Yosua sampai 1 Makabe yang ditulis awal abad Pertama Sebelum Masehi
d.      Abad ke 5 SM merupakan masa yang sangat subur untuk sastra kebijaksanaan (misalnya Ayub), tetapi gerakan dan tulisan-tulisan kebijaksanaan sudah mulai pada zaman Salomo sampai abad pertama SM
Hal-hal di uraikan di atas menunjukkan terbentuknya tulisan-tulisan Perjanjian Lama sungguh melewati suatu proses yang sangat panjang.
Harus disadari bahwa sabagian besar tulisan-tulisan Perjanjian Lama bukanlah karya satu orang melainkan karya banyak orang yang berkembang selama berabad-abad. Semua yang ikut ambil bagian dalam proses penulisan ini memperoleh inpirasi. Namun kebanyak dari mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka digerakan oleh Allah. Memang dalam pengantar ini kita akan memberikan perhatian khusus dari sudut “manusia” yang memandang tulisan-tulisan Perjanjian Lama sebagai endapan kekayaan tradisi suatu bangsa yang berkembang selama berabad-abad. Perjanjian Lama sangat terikat dengan suatu bangsa, yaitu bangsa Israel.
Sebagian besar Perjanjian Lama didasarkan pada tradisi lisan : Pentateukh sampai kitab Samuel dilandaskan pada banyak tradisi yang berkaitan terutama dengan para bapa bangsa, Musa, Yosua, Hakim-hakim, Samuel, dan Daud.



Hagai, Zakharia1-8, Trito Yesaya (56-66)

5
Pentateukh selesai
Rut, Tobit
Yesaya 34-35; 24-27.
Maleakhi, Obaja, Yunus
Amsal
Ayub
4

Tawarikh, Ezra, Nehemia
Yoel, Zakharia 9-14
Mazmur selesai’ Kidung Agung
3



Pengkotbah
2

2 Makabe
Ester
Barukh
Daniel
Sirakh
1
1 Makabe
Yudit


Kebijaksanaan








KEGIATAN BELAJAR 2
GEOGRAFI TANAH PERJANJIAN

1.      Keadaan Tanah dan Pernyataan Diri Allah
Allah telah mewahyukan diri-Nya melalui sejarah bangsa Israel yang berdiam disuatu negeri yang diberikan-Nya sebagai sautu hadiah. Bahasa wahyu Allah dalam banyak hal ditentukan oleh geografinya. Untuk mengerti lebih baik pernyatan diri Allah yang diungkapkan dalam Alkitab, kita perlu mengenal keadaan tanah tempat asal bangsa Israel berdiam. Di bawah ini kita akan melihat beberapa pokok yang berhubungan dengan geografi, terutama yang berhubungan dengan bahasa Wahyu.
2.      Palestina-Tanah Perjanjian
Tradisi Kristen menyebut tanah perjanjian dengan nama Palesstina. Nama ini sebenarnya berasal dari ahli ilmu bumi purba dan modern. Tetapi Kitab Suci sendiri tidak pernah menyebu tanah perjanjian dengan naama itu. Nama yang diberikan Kitab Suci untuk menyebut tanah perjanjian adalah :
1.      Kanaan. Nama ini berasal dari nama Anak Ham, cucu Nuh (Kej 10:15-18) kemudian menjadi sebutan bagi bangsa dan tanahnya (Bil 13:29; Yos 5:1). Sebutan lain adalah : Negeri orang Kanaan (Kel 3:8; 6:3; Ul 1:7)
2.      Negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya (Kel 3:8)
3.      Negeri yang dijanjikan Tuhan (Ul 6:18; 8:1)
3.      Ditengah Bulan Sabit yang Subur
Palestina sebenarnya hanya satu bagian kecil dari suatu daerah yang secara geografis dapat disebut sebagai satu kesatuan yang meliputi lembah sungai Tigris, Efrat, Litani, dan Yordan. Apabila ditarik garis dari Tigris sampai ke Yordan bentuknya menyerupai Bulan Sabit. Termasuk daerah bulan sabit yang subur adalah lembah sungai Nil. Pengetahuan mengenai geografi daerah bulan sabit yang subur ini penting apabila kita membicarakan pangilan Abraham, pengungsian ke Mesir, penduduka Palestina dan pembuangan Babel.
Dari catatan tersebut diatas kita dapat melihat bahwa Palestina terletak di ujung daerah bulan sabit yang subur dan diantara dua daerah subur yang luas, yakni lembah sungai Efrat dan Tigris dan Lembah sungai Nil. Perjalanan sejarah Israel dalam banyak hal ditentukan oleh letak terutama karena terletak di dua lembah yang subur dan luas itu akan muncul kerajaan-kerajaan yang kuat dan kaya.
4.      Batas-Batas tanah Perjanjian.
Batas tanah perjanjian sangat sukar ditentukan. Hal ini disebabkan oleh perubahan-perubahan yang dialami oleh Israel dalam perjalanan yang cukup panjang.
Batas timur kemungkinan sungai Yordan, batas Barat Laut Tengah, batas Selatan disebut Wadi Mesir dan padang gurun Negeb (Bil 13). Batas utara tidak jelas, biasanya disebut dari Dan sampai Betsyeba. Tanah perjanjian sebenarnya tidak luas, kurang lebih 13.000 Kilometer persegi. Jarak paling jauh antara Utara dan Selatan: 235-300 Km dan Timur Barat (Lebar) antara 60-80 Km. maka Palestina lebih kecil dari pulau Bali misalnya.
5.      Geografi Fisik
1.      Daerah pantai dengan daratan sangat sempit. Bagian selatan daerah ini lama dikuasai oleh orang Filistin, sedangkan bagian utaranya kecuali Yafa tidak ada pelabuhan alamiah. Perjanjian Lama jarang menyebut daerah pantai sebagai tempat pernyataan diri Allah.
2.      Daerah pegunungan :
1.      Di sebelah Utara terletak pegunungan Hermon yang puncak tertingginya menjulang 2759 m diatas permukaan laut dan selalu ditutupi salju.
2.      Di daerah Selatan (Yehuda) daerahnya berbukit-bukit dan bergunung. Daerah ini kering sekali dan mendekati gurun. Bagian paling Selatan, Negeb, merupakan gurun pasir belaka
Sejarah Israel di tanah perjanjia berkisar terutama di daerah pegunungan, karena di sinilah suku-suku Israel berdiam. Gunung dan pegunungan dalam sejarah agama memainkan peranan yang besar. Kesaksian mengenai gunung dan peranannya yang dimainkan dalam bahasa Iman israel terdapat cukup banyak dalam Kitan Suci, misalnya Mzm 121:1-2; 125:1-2.
3.      Daerah Galilea dan Samaria lebih rata, sehingga daerah itu tidak terlalu kering.
4.      Daerah dataran rendah dan lembah sungai Yordan. Di ujung selatan negeri Palestina terdapat Laut Mati dengan lembah disekitarnya. Ini merupakan bagian bumi paling bawah yaitu 384 m dibawah permukaan air laut. Disebut Laut mati karena :
a.       Tidak berhubungan dengan laut luas
b.      Kadar garamnya sangat tinggi sehingga tidak ada ikan yang mampu hidup didalamnya
c.       Hawanya sangat panas, sehingga penguapannya sangat tinggi. Aliran air dari sungai Yordan dan air hujan dari pegunungan di sekitarnya tidak menjadi soal, karena segera menguap.
Di Palestina tidak banyak sungai, satu-satunya sungai yang sungguh penting ialah sungai Yordan. Sungai ini melintasi seluruh negeri dari sebelah utara sampai ujung selatan. Sungai Yordan bersumber di pegunungan Hermon dan bermuara ke Laut Mati. Sungai ini berlingkar-lingkar mengalir dalam sebuah lembah tebing dan arusnya agak deras. Karena tempatnya itu airnya dahulu tidak dapat dimanfaatkan untuk iragasi. Sungai Yordan membentuk dua danau. Danau Huleh di utara agak kecil; sungai dari danau itu mendapat namanya Yordan. Lalu ada danau Galilea, yang disebut juga danau Kinesaret, Genesaret, dan Tiberias. Danau ini sejak dahulu menghasilkan cukup banyak ikan, sehingga penduduk disekitarnya menjadi nelayan.
6.      Iklim
Palestina pada umumnya beriklim rata-rata antara 2-37derajat Celcius. Nazaret (0-41 derajat C). di pegunungan dan dataran tinggi seperti di Yerusalem di musim dingin benar-benar dingin. Sebaliknya di lembah Yordan, Khususnya Laut Mati, hawanya panas sekali. Hujan pada umunya sangat sedikit yaitu berkisar 56 hari dalam satu tahun. Musim panas (Juli-September) sangat kering, karena tidak turun hujan. Hujan awal yang turun pada bulan Oktober sampai Nopember dan hujan akhir yang turun dalam bukan Maret-April sangat penting dan menentukan keberhasilan tanaman (bdk Ul 11:14). Kesuburan Palestina tergantung dari hujan (Ul 11:10-12), dalam teks tersebut diperlihatkan bahwa kesuburan Palestina semata-mata dari hujan. Dengan sendirinya mereka melihat Tuhan sebagai pemelihara tanah karena hujan tidk dibuat oleh manusia. Musim kering yang panjang kerap menimpa Palestina, sehingga menggagalkan panen dan menimbulkan kelaparan (Kej 12:10; Rut 1:1; 1 Raj 17:1). Hebatnya malapetaka dan penderitaan yang diakibatkan oleh kekeringan itu dapat kita baca dalam doa yang terdapat dalam Yoel 1:19-20..
7.      Flora dan Fauna
Tanaman yang paling banyak adalah anggur, zaitun, buah ara dan gandum, sedangkan hewani yang paling banyak adalah domba dan kambing.
1.      Zaitun ditanam hampir diseluruh Palestina, daunnya yang selalu hijau menjadi lambang tenaga yang hidup dan sedang bertumbuh (bdk Mzm 128:3). Di samping itu juga pohon ini menjadi lambang orang-orang benar (Mzm 53:10) dan kebijaksanaan (Sir 24:14.19)
2.      Anggur termasuk tanaman pokok tanah Palestina dan menjadi lambang kekayaan. Mlambangkan Israel. Air buah anggur menyejukkan hati Allah dan manusia. Anggur adalah lambang cinta dan kebun anggur adalah lambang mempelai wanita (bdk Kidung Agung).
3.      Buah ara. Buah ini kerap disebut bersama dengan buah anggur. Buah ara oleh Nabi Hosea sebagai lambang Israel (Hos 9:10). Pohon ara banyak dijumpai di Palestina dan disenangi karena memberikan keteduhan. Ia tumbuh malah di tanah berbatu-batu, asal punya sediit kelembapan.
4.      Gandum. Selain anggur dan minyak, gandum merupakan sumber utama pangan di Palestina. Gandum ditaburkan di tanah-tanah pada bulan Nopember-Desember dan ditua dalam bulan Mei-Juni. Gandummerupakan bahan untuk membuat roti selain jelai.
5.      Domba dan Kambing berkelimpahan di padang dan meja-meja makan. Domba juga dipakai untuk kurban keselamatan (Im 3:1-17), yaitu buah pinggang dan umbau hati yang dipandang sebagai tempat hidup dan perasaan dibakar untuk Tuhan. Domba biasanya berwarna putih dan memiliki domba yang banyak adalah tanda kekayaan (1 Sam 16). Domba termasuk biantang yang disayangi. Berbicara tentang domba dan kambing tidak dapat dipisahkan dari gembalanya. Hubungan antara gembala dan domba dengan sangat indah dilukiskan dalam Mazmur 23. Dari sebab itu dalam Kitab Suci gembala kerap kali dipakai dalam lambang Tuhan (Mzm 23; Yeh 34) dan para pemimpin, sedangkan domba adalah lambang Israel dan yang dipimpin.
6.      Keledai meupakan sarana angkutan dan termasuk binatang piaraan yang sangat disayangi (1 Sam 9).
7.      Kuda termasuk binatang yang mahal yang digunakan untuk menarik kereta perang.
8.      Beruang dan singa digunkan sebagai lambang kekesaran musuh dan pemimpin bangsa yang jahat (bdk Am 1:2; Hos 5:34).
9.      Anjing biasanya dipakai oleh gembala untuk melindungi domba. Akan tetapi anjing termasuk binatang yang tidak diperlakukan dengan baik dan pada umumnya digunakan sebagai kata penghinaan (bdk 1 Sam 17:43)
10.  Babi bagi orang Israel adalah gambaran kenajisan dan karena itu tidak boleh dimakan atau dipersembahkan sebagai kurban (Im 11:7). Pekerjaan memelihara babi dipandang sebagai pekerjaan hina, sebab dikaitkan dengan dunia kafir.
Mengenai jenis binatang yang lain dapat dibaca di Im 11:1-47 dan Ul 14:3-20.
8.      Penduduk
Penduduk Palestina tidak terlalu padat dan hidup dikampung-kampung yang biasanya dekat dengan sumber air atau di atas bukit-bukit. Penduduk yang terbesar ada di Yerusalem dan Samaria. Setiap suku dapat dikatakan hidup mengikuti iramanya sendiri-sendiri terikat pada tempat dan terpisah dari yang lain.
9.      Mengapa Tuhan memilih Palestina.
Dari catatan diatas kiranya dapat dilihat bahwa Palestina bukanlah negeri yang besar dan kaya raya, meskipun dalam perjalanan sejarahnya mengalami zaman-zaman yang makmur. Palestina adalah negeri yang kecil dan tidak kaya, Israel hampir tidak memainkan peranan penting dalam sejarah politik dunia. Sebaliknya Israel menjadi mangsa kekuasan-kekuasan besar. Pertanyaan yang kerap dikemukakan ialah mengapa Tuhan memilih Palestina?
Jalan Allah memang tidak terduga (bdk Rom 11:33). Ia kerap memilih yang lemah dan miskin untuk membuat malu yang kuat dan yang kaya. Tuhan memilih Palestina barangkali untuk menunjukkan kepada bangsa-bangsa lain bahawa Dia adalah Tuhan sejarah, yakni Allah yang mengatasi segala kekuasaan di dunia ini. Tuhan telah memilih Palestina mungkin juga untuk mendidik umat-Nya mengarahkan pandangannya ke atas di tengah-tengah segala kesukaran yang mereka alami. Tanahnya yang bergunung-gunung dapat lebih mudah melindungi mereka dari serangan luar.



KEGIATAN BELAJAR 3
GARIS BESAR SEJARAH ISRAEL
1.      Pengantar
Untuk mengetahui Alkitab dengan lebih mendalam, maka kita perlu mengetahui juga latar belakang sejarah Israel dan pengalaman iman umatIsrael. Allah telah menyatakan diri-Nya dan berbicara langsung kepada umat-Nya. Memahami latar belakang Israel akan dapat dapat membantu kita untuk mengerti maksud Kitab Suci ditulis, karena Kitab Suci ditulis dalam latar belakang sejarah tertentu.
Sumber utama yang perlu untuk mempelajari sejarah Israel ialah Perjanjian Lama yang telah berbicara tentang pengalaman iman umat Israel melalui peristiwa-peristiwa sejarah yang telah mereka alami. Selain itu kita juga diperkaya oleh dokumen-dokumen sejarah Timur Tengah Purba dan penemuan-penemuan arkheologis.
Sejarah Israel terbagi dalam 5 periode, sebagai berikut:
a.       Periode awal mula (mulai dari panggilan Abraham samapai dengan Zaman para Hakim 1800/1750-1030 SM)
b.      Periode kerajaan (mulai dari berdirinya kerajaan sampai dengan keruntuhan kerajaan Yuda, 1030-586 SM).
c.       Periode pembuangan (yakni periode pembuangan di Babel atau Babilon, 586-538 SM).
d.      Periode sesudah pembuangan atau periode pembaharuan (mulai dari kembalinya orang buangan di Babel ke Palestina sampai dengan berakhirnya kekuaraan Persia, 538-332 SM).
e.       Periode Yudaisme (mulai dari Alexander Agung sampai dengan akhir Perjanjian Lama, 332-62/50 SM)
2.      Periode-peiode sejarah Israel
2.1. Periode Awal Mula (2000/1750-1030 SM)
Periode ini meliputi seluruh jaman ketika Israel masih berada dalam tahap-tahap pembentukan menjadi suatu bangsa yakni mulai dari panggilan Abraham sampai dengan para Hakim. Periode ini dapat dibagi dalam beberapa tahap.
a.       Tahap Bapa-bapa Bangsa (2000/1750-1600 SM)
Tahap bapa-bapa bangsa yaitu Abraham, Ishak, dan Yakub ini dikisahkan dalam Kitab Suci (Kej 12:36).
Israel mengenal bapa-bapa bangsa mereka yaitu Abraham, Ishak, dan Yakub (Kej 12:36). Mereka termasuk kelompok besar suku dan keluarga yang antara tahun 200-1500 SM berpindah dari Mesopotamia ke wilayah-wilayah sebelah barat seperti Siria dan Kanaan. Abraham, Ishak dan Yakub termasuk suku-suku semi nomad, yaitu suku-suku pengembara. Menurut pendapat para ahli, Abraham sekeluarga meninggalkan Mesopotamia sekitar tahun 1800/1750 SM dan menetap di negeri Kanaan. Dari segi sejarah alasan-alasan sosio ekonomis yang mendorong suku dan keluarga untuk berpindah. Akan tetapi menurut Kitab Suci Abraham yang berasal dari Ur, Mesopotamia itu dipanggil Tuhan untuk meninggalkan negerinya dan pergi ke suatu negeri yang akan ditunjukkan Tuhan kepadanya. Namanya akan masyur dan dia akan menjadi berkat bagi segala bangsa di bumi (Kej 12:1-3). Abraham menanggapi panggilan Allah itu dan sejak saat itu mulailah suatu proses pengenalan akan Allah, selangkah demi selangkah. Pegangan kuat yang diberikan Allah kepada Abraham adalah tanah air dan keturunan.
Meskipun menurut sejarah Abraham dan keluarganya berpindah tempat karena alasan-alasan sosial ekonomis, namun menurut Kej 12, kepindahan Abraham semata-mata karena kehendak atau panggilan Tuhan. Para penulis Kitab Suci bermaksud menyatakan karya Allah yang nyata, meskipun tidak kelihatan, sehingga pembaca dapat melihat atau mendengar Allah dan karya-Nya. Kalau kisah Abraham dimengerti dalam latar belakang ini, menjadi jelas bahwa karya Allah justru tampak di sini : perpindahan Abraham dan keluarganya yang didorong alasan sosial ekonomis ternyata adalah awal sejarah penyelamatan. Dalam pengertian ini, yang penting bukanya bahwa Abraham dan keluarganya berpindah tempat tinggal melainkan terutama mereka dituntun oleh Allah memasuki tanah Kanaan.
Agama para Bapa Bangsa
Sesuai dengan kebiasaan di kalangan suku seminomad pada zaman itu, agama Abraham, Ishak dan Yakub serta keturunanya ditandai oleh hubungan erat dan personal dengan Allah mereka. Allah dipandang sebagai Tuhan dan Pelindung mereka. Mereka bukan monoteis dalam arti modern, tetapi dalam praktek keagamaan mereka mengarahkan seluruh perhatian dan kebaktian kepada Tuhan Pelindung keluarga dan suku mereka. Kepala keluarga mewakili keluarga dan suku dalam hubungan dengan Allah, terutama melalui ibadah persembahan kurban. Nama umum Tuhan adalah EL(=Allah). Keturunan mereka menaruh kepercayaan keturunannya, dan memberikan janji-janji kepadanya.
Kisah-kisah mengenai Abraham dan Ishak berpusat pada wilayah Kanaan Tengah, daerah Sikhem dan Betel.
Perkembangan Kitab Suci pada periode ini
Dari seluruh periode ini tidak ada suatu bagian pun dalam bentuk tulisan yang tersimpan dalam Kitab Suci. Namun kita sunggu dapat berbicara mengenai Kitab Suci pada periode ini, karena kisah yang sekarang tersimpan dalam Kej 12-36 memang berasal dari periode bapa Bangsa, dan diteruskan secara lisan turun tmurun sampai masa kerajan Israel. Penerusan kisah-kisah itu terjadi pada saat di mana mereka berkumpul dalam keluarga atau pada waktu ibadah. Tentu saja tidak semua hal dikisahkan, mereka memilih bagian-bagian yang relevan bagi keturunan.
Oleh karena kisah tersebut disampaikan secara lisan berabad-abad, tidak mengherankan kalau cerita yang beredar pada abad ke 10 SM cukup berbeda jika dibandingkan dengan cerita asli yang beredar pada abad 18 SM.
b.      Tahap Keturunan di Mesir dan Keluar dari Mesir : Lahirnya Umat Allah (1600-1225 SM).
Kisah tahap ini dalam Kitab Suci diceritakan dalam Kej 37-50, Kel 1-20, dan kitab Bilangan. Tokoh utama dalam tahap ini adalah Yusuf, Musa (dan Harun).
Menurut Kej 37-50 keturunan Yakub berpindah ke Mesir karena kelaparan yang menimpa Kanaan. Di sana salah seorang keturunannya yang bernama Yusuf menjadi orang kedua sesudah Firaun. Yusuf tampil sebagai penyelamat saudara-saudaranya. Keturunan Yakub pergi ke Mesir ini terjadi pada waktu Mesir dikuasai oleh bangsa Hiksos yang mengizinkan suku-suku Semit untuk tinggal di Mesir. Penguasa Hiksos ini menguasai Mesir sejak 1725-1525 SM. Bangsa Hiksos ini berasal dari wilayah Siriah-Palestina. Dalam keadaan seperti itu tidak mustahil seorang Ibrani dari Palestina, mislnya Yususf dapat mencapai kedudukan yang tinggi di Mesir serta memberikan perlindungan dan jamin kepada sanak saudaranya. Sekitar tahun 1575 SM bangsa Hiksos xdi usir dari Mesir oleh raja asli Mesir. Bersama bangas Hiksos yang pergi juga beberapa suku Semit (tidak mustahil termasuk sejumlah keturunan Yakub) karena ikut diusir. Dalam Kitab Keluaran ada petunjuk tentang pengusiran dan juga tentang pelarian. Sementara itu dalam kitab Bilangan ada daftar nama yang dilewati Bani Israel, yang sebagian menunjuk jalan sulit lewati padang gurun (Sinai dan Selatan), dn sebagian lain menunjuk jalan yang resmi dan mudah lewat utara. Mungkin pengusiran dan jalan lewat utara adalah sisa tradisi dari kelompok yang ikut diusir bersama dengan orang Hiksos.
Pada periode berikutnya, orang Semit ini menetap di Palestina Selatan. Kelompok Semit yang lain juga termasuk keturunan Yakub masih tinggal di Mesir. Mereka lah yang dijadikan budak oleh Faraun, terutama pada masa Faraun (Raja) Ramses II (1304-1238 SM), nasib mereka semakin memburuk (Kel 1) sehingga mereka putus harapan. Keadaan putus harapan inilah yang diungkapkan kepada Allah Abraham, Ishak dan Yakub (Kel 2:23-25).
Dalam keadaan itulah tampil Musa (nama Mesir) yang menurut Kitab Suci menerima pendidikan dan tinggal di Mesir, di panggil Allah di gunung Sinai untuk membebaskan kawan-kawannya dari perbudakan Mesir. Pada kesempatan itu diwwahyukan nama Allah yang baru, yakni YAHWEH (Kel 3). Nama Yahweh berasal dari kata kerja Ibrani hayah, yang berarti ada, tetapi dengan nada berada, hadir secara aktif. Dengan pertolongan Yahweh, Musa berasil melarikan diri dengan sejumlah bekas budak keturunan Yakub. Cukup sulit menentukan kelompok mana yang ikut dalam pelarian di bawah pimpinan Musa, kemungkinan suku Efraim, Mansye dan Lewi. Tidak lama sesudah melarikan diri, seluruh kelompok itu masuk kedalam perangkap tanpa jalan keluar, didepan mereka terbentang laut Teberau, di belakang mereka tentara Mesir. Keputusan dan pembebasan itu dikisahkan dalam Kel 14. Hanya saja kisah penyebrangan penyebrangan ini sekarang sudah dalam bentuk yang berlapis-lapis. Menurut cerita yang paling tua, misalnya bagian tengah ayat 21 dan awal ayat 25 ujung Laut Teberau itu dikeringkan menjadi semacam rawa-rawa oleh angin keras dari timur dalam kombinasi dengan pasang surut, sehingga pada pagi hari mereka dapat menyebrngi laut dan bebas dari para pengejar mereka. Oleh Musa dan bangsa Israel hal itu diartikan sebagai karya Yahweh yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir (bdk Kel 14:31).
Tentang lamanya Israel di Mesirtidak dapat dipastikan. Menurut Kel 12:40 Israel di Mesir 430 tahun, menurut Kej 15:13, 400 tahun. Sedangkan Kej 15:16. Selama empat keturunan artinya 4 kali 40 atau 160 tahun.
Dari laut Teberau bangsa Israel di bawah pimpinan Musa pergi ke Gunung Sinai. Di situ mereka dikarunai suatu pengalaman religius yang sangat mendalam oleh Allah. Yahwe menyatakan kehendak-Nya untuk mengadakan perjanjian dengan suatu bangsa, yaitu bangsa Israel yang baru saja dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Bangsa Israel mnjadi bangsa kesayangan-Nya. Perjanjian itu terjadi dengan perantara Musa. Dengan ini lahirkan bangsa Israel menjadi umat pilihan Alllah (Kel 19:24). Isi perjanjian itu sendiri dapat dibaca dalam Kel 19.
Menurut Kitab Suci lama pengembaraan Israel di gurun adalah 40 tahun atau satu generasi. Sebagian masa ini mereka tinggal di sekitar Oasis Kadesy-Barnea, lebih kurang 90 km di sebalah selatan kota Bersyeba. Dalam cerita dikemukakan kesulitan yang timbul bagi bangsa yang sedang dalam perjalanan ini, yaitu kekurangan air dan makanan. Tahap ini berakhir ketika bangsa Israel tiba di Moab.
Perkembangan Kitab Suci
Selain sejumlah kisah tentang para Bapa Bangsa yang diteruskan turun temurun secara lisan, dalam periode ini mucul sejumlah cerita tentang perbudakan di Mesir, Musa, pembebasan dari Mesir dan sejumlah peristiwa Sinai yang juga secara lisan diteruskan. Bisa jadi dalam waktu yang tidak terlalu lama kisah pembebasan dari Mesir mendapat tempat dalam naskah ibadah yang dipakai dalam pesta tahunan Paskah yang memperingati pembebasan tersebut.
Mungkin sekali 10 perintah Allah (sebagai bagian dari suatu naskah perjanjian) dalam rumus yang pendek (“Janganlah” + kata kerja seperti kita temukan dalam Kel 20:13-15) dan sejumlah peraturan yang sekarang tersimpan dalam Kel 20:22-23:19 sudah mulai dituliskan. Di samping itu ada beberapa peraturan yang sekarang tersimpan dalam Kel 20:22-23:19.
c.       Pendudukan Kanaan dan Pembentukan 12 Suku Israel (1225-1030 Sm)
Kisah pendudukan atau perebutan tanah Kanaan dan pembentukan 12 suku Israel ini dikisahkan dalam Kitab Yosua dan Hakim-hakim.
Sesudah Musa wafat, kepemimpinannya ganti oleh Yosua. Pada waktu itu mereka sudah sampai di Moab. Di bawah pimpinan Yosua, bangsa Israel masuk kedalam wilayah Kanaan. Mereka berhasil duduki daerah pegunungan di Palestina Tengah. Dari sana kadang-kadang mereka menyerang beberapa kota Kanaan. Waktu itu sebagian orang Kanaan mendiami wilayah bagian barat Palestina dan lembah subur Galilea Selatan. Wilayah Kanaan lainya tidak begitu padat penduduknya, sehingga mudah direbut oleh kelompok Yusua. Pad waktu Yosua masuk ternyata sudah ada sejumlah suku Semit lain di Palestina Selatan dan Utara. Sebagian dari meeka adalah kelompok yang meninggalkan Mesir sebelumnya. Akan tetapi juga ada yang datanga dari Mesopotamia Utara dan menetap di Palestina. Mereka ini tidak pernah pergi ke Mesir.
Sekitar tahun 1200 SM, Yosua dapat mengumpulkan sejumlah wakil dari suku-suku Semit di kota Sikhem dan membentuk suatu persukutuan politik atas dasar religius. Untuk itu suku-suku tadi bersedia menerima agama kelompok Yosua, yakni menganut Yahwe yang membebaskan Bani Israel dari Mesir dan mengadakan perjanjian dengan mereka di gunung Sinai. Di Sikhem itulah perjanjian Sinai diperbaharui, artinya diperluas sehingga mencakup kelompok-kelompok baru (bdk Yos 24).
Sekitar tahun 1200 SM, di Palestina juga ada bangsa Filistin yang menempati barat daya Palestina. Dengan demikian, sekitar tahun 1200 SM, pendudukan di Palestina dapat digamabar sebagai berikut:
1.      Orang Filistin menempati wilayah barat daya
2.      Orang Kanaan tinggal dalam beberpa wilayah, terutama wilayah arat dan di Galilea Selatan.
3.      Orang Israel yang merupakan persekutauan suku Semit terbesar di pegunungan Yehuda, Palestina Tengah, Galilea Utara dan wilayah-wilyah kosong di antara penduduk Kanaan.
Perkembangan sebagai bangsa dan penguasaan tanah
1.      Kelompok Yosua sesungguhnya hanya terdiri dari beberapa ribu orang dari suku Efraim, Manasye dan Lewi. Kelompok ini menjadi inti dan lama kelamaan berafiliasi dengan suku Semit yang lain, seperti Benyamin dan Yehuda. Perkembangan ini terjadi selama dua abad (1200-1000 SM). Lama-kelamaan orang mulai mengenal sebagai orang Israel, bukan hanya sebagai orang suku Benyamin atau orang Yehuda. Suku-suku Semit itu akhirnya menjadi satu persekutuan dari 12 suku. Hal ini terjadi terutama pada masa Daud.
2.      Kelompok Yosua memasuki Palestina sekitar tahun 1255 se. MAS menetap di Palestina Tengah dan mereka mulai mengambil alih pertanian sebagai mata pencaharian yang baru. Perluasan tanah terjadi secara damai dengan menduduki sedikit demi sedikit wilayah yang sebelumnya hampir tanpa penghuni, yaitu daerah pegunugan. Disamping cara damai ada juga perluasan yang terjadi dengan kekuatan militer.  Perluasan tanah akan terjadi pada masa kerajaan, terlebih pada masa Daud dan Salomo.
Periode Hakim-hakim
Pada periode ini, keadaan Palestina sama sekali tidak stabil. Kel 12 suku Israel hidup di desa-desa kecil, miskin dan lemah. Di situ mereka menetap dan mulai hidup sebagai petani. Banyak gangguan dan kesulitan yang mereka alami dari orang-orang Kanaan dan suku lain (terutama Filistin). Mereka belum mempunyai kota-kota yang kuat sebagai perlindungan. Di samping itu kesatuan politik dan militer antar suku juga belum ada, masing-masing suku dipimpin oleh pemimpin yang dalam Kitab Suci disebut Hakim-hakim. Mereka adalah orang-orang yang membereskan segala sesuatu baik hubungan dengan musuh melalui fungsi sebagai pemimpin militer, maupun hubungan dengan suku-suku Israel sendiri, bahkan juga dalam kaitan dengan masalah keagamaan. Hakim-hakim yang terkenal antara lain : Gideon, Debora, Barak, Yefta dan Simon. Kekuasaan dan karya mereka umumnya terbatas pada satu atau beberapa suku saja. Meskipun demikian, persekutuan yang diadakan Yosua di Sikhem terus bertambah erat selama periode yang kacau ini. Selanjutnya, sedikit demi sedikit muncul suatu kesatuan yang lebih luas atas dasar agama yang sama.
Perkembangan Kitab Suci
Kelompok Yosua membawa sejumlah cerita yang diwariskan kepada mereka ke Kanaan, khususnya cerita mengenai leluhur (Abraham Ishak, Yakub dan anak-anaknya), mengenai pembebasan dari Mesir dan perjanjian Sinai. Pengalaman-pengalaman perebutan wilayah di Kanaan menjadi bahan cerita yang baru. Setiap suku membawa serta sejumlah cerita mengenai leluhur dan mengenai perebutan tanah Kanaan. Demikianlah sedikit demi sedikit muncul suatu kisah yang tidak hanya menyimpan kenangan akan masa lampau, tetapi juga mencerminkan kesatuan bangsa Israel sampai pada masa para Hakim.
Sampai periode ini sudah ada koleksi cerita lisan dari dua tahap sebelumnya yang diteruskan secara turun temurun. Di samping itu ditambahkan pula cerita lisan tentang perebutan tanah Kanaan dan perbuatan masyur Hakim-hakim.
Sejumlah hukum yang sekarang tersimpan dalam kitab Keluaran dan Ulangan, yakni hukum yang mengatur hidup di desa-desa dan masalah yang berhubungan dengan hidup baru petani berasal dari periode Hakim-hakim ini. Di samping itu pada masa ini juga ditentukan peraturan-peraturan dan hukum mengenai kewajiban religius dan mengenai kehidupan sosio-ekonomis, yang mula-mula secara lisan sebelum akhirnya dibukukan.

2.2. Periode Kerajaan (103-586 SM)
Bagi sejarah Israel periode ini adalah yang paling kaya, karena dalam periode ini israel tampil sebagai bangsa yang terlibat dalam sejarah dunia. Periode ini juga ditandai dengan perutusan nabi-nabi besar yang dengan tajam melihat dan mengamati tanda-tanda jaman dan menafsirkannya dalam terang iman. Periode ini dalam Kitab Suci dikisahkan dalam kitab-kitab : 1,2 Samuel, 1,2 Raja-raja dan 1,2 Tawarikh.
a.       Peralihan dan sistem Hakim-hakim ke sistem kerajaan (1030-1010 SM)
Pada akhir peiode Hakim-hakim tampil seorang tokoh yaitu Samuel. Ia adlah hakim terakhir dan terbesar. Samuel pulalah yang mempersiapkan dan mendampingi peralihan dan sistem hakim-hakim ke sistem kerajaan. Menurut tradisi ia berkarya sebagai petugas ibadah (Imam) di Silo, sebagai nabi dan pemimpin suku-suku (hakim) dalm perang melawan Filistin. Melawan bangsa Filistin ini Israel tidak berdaya, karena kesatuan dan militernya kurang kuat.
Keadaan ini mendorong suku-suku Israel untuk memikirkan dan menerima pemerintahan dalam bentuk yang baru , yaitu kerajaan. Pada mulanya ada banyak perlawanan terhadap sistem baru ini atas dasar religius yang berpandangan bahwa raja adalah Yahwe sendiri. Mengubah struktur pemerintahan dipandang sebagai tanda kurang percaya kepada kepemimpinan Tuhan. Namun ancaman Filistin menuntun Samuel dan mendorong Israel untuk memulai sistem baru, yaitu kerajaan. Raja pertama adalah Saul (1030-1010 SM). Kemenangan permulaan Saul atas bangsa Amon dan Filistin agak mengurangi tekanan. Akan tetapi karena sistemnya berbeda sekali dengan jaman para Hakim, peralihan ini tidak mudah. Maka di bawah Saul sebelum semua suku sungguh-sungguh menerima dia sebagai raja, terutama di Palestina Utara dan Selatan. Praktis kekuasaan raja Saul adalah Palestina Tengah.
b.      Jama satu kerajaan : Daud dan Salomo (1010-931 SM).
Perselisihan antara Saul dan Samuel dan antara Saul dan Daud mewarnai akhir masa pemerintahan Saul. Daud adalah seorang perwira Daud yang istimewa. Namun menurut Kitab Suci Saul sangat membenci Daud.
Sekitar tahun 1010 SM Saul dikalahkan orang Filistin, bahkan Saul dan puteranya yang bernama Yonatan tewas dalam peperangan itu. Daud langsung menjadi raja di Hebron dan menjadi raja atas suku Yehuda. Di Utara, orang mengangkat Isyobeset putera Saul menjadi raja, tetapi keadaan ini hanya berlangsung 7 tahun, kemudian Isyoboset dibunuh dan Daud menjadi raja seluruh suku Israel.
Dengan cara yang mahir Daud membentuk kerajaan besar. Seluruh wilayah Palestina (termasuk daerah Filistin) dipersatukan menjadi kerajaan inti, sedangkan negara-negara sekitar (Aram, Amon, Moab, Edom) ditaklukkan. Luas wilayah kekuasaan Daud mulai dari Teluk Araba sampai kota Hemos dan dari sungai Efrat sampaai laut Tengah. Kerajaan seluas itu dapat terjadi karena pada saat itu kekuasaan Mesir sangat mundur, sedangkan Asyur belum bangkit. Di samping itu Daud tidak hanya berhasil dalam bidang militer, tetapi juga dalam bidang religius. Ia menjadikan Yerusalem (wilayah yang tidak termasuk daerah salah satu suku) sebagai Ibu kota dan menempatkan Tabut Perjanjian di Yerusalem. Dengan demikian Yerusalem menjadi pusat politik sekaligus agama. Dengan cara itu juga Daud memperkuat posisi agama Yahwisme sebagai agama nasional dan melawan segala kecenderungan sinkretisme dan agama kesuburan Kanaan.
Periode terakhir pemerintahan Daud ditandai oleh berbagai kesulitan yang berasal dari lingkungan keluarga Daud sendiri. Hal ini dikisahkan dalam 2 Sam 9-1 Raj 2. Pemberontakan Absalon (2 Sam 15-19) dan Seba (2 Sam 20) memperlihatkan bahwa kesatuan kerajaan pada periode Daud masih agak labil dan mudah digoncangkan. Hal ini terjadi karena beberapa suku utara sulit bersatu dengan suku besar Yehuda.
Menurut Kitab Suci, Daud termasuk salah satu tokoh Perjanjian Lama yang paling terkenal, dialah yang akhirnya selalu menjadi pedoman untuk raja-raja yang lain. Bahkan Mesiaspun dinubuatkan berasal dari keturunan Daud. Kelemahan Daud yang lain adalah karena cintanya kepada Betsyeba begitu besar, sehingga ia tega membunuh suaminya. Namun Daud adalah juga orang yang tahu mendengarkan suara Tuhan. Dia bertobat.
Melalaui pertarungan yang sengit di antara anak-anak Daud, akhirnya Salomo yang lahir dari Betsyeba dan mendapat dukungan dari nabi Natan menjadi penggantinya. Salomo tidak mewarisi bakat ayahnya di bidang militer, akan tetapi dalam bidang kebudayaan ia menjadi raja terbesar dalam seluruh sejarah bangsa Israel. Kerajaan besar yang menjadi warisan ayahnya dipertahankan dengan perjanjian-perjanjian politik, yang lazimnya diperkuat oleh perkawinan dengan puteri kerajaan yang bersangkutan. Salomo mengatur kerajaan initi menjadi 12 propinsi. Pengaturan ini melawan dan mendobrak kekuasaan serta wilayah suku yang tradisional, sebab dengan sistem baru ini yang menggunakan sistem pegawai dan bukan pemimpin-pemimpin suku, titik berat kekuasaan semakin pindah dari daerah ke ibu kota.
Yerusalem dibangun menjadi kota yang paling megah, dan ia mendirikan Bait Allah yang menjadi pusat religius umat Israel. Usaha pembangunan dan gaya hidup mewah di istana raja menela biaya yang amat besar (bdk 1 Raj 4:21-28). Untuk menutupi biaya tinggi itu ia membebankan pajak tinggi dan kerja paksa kepada rakyat, di samping upeti dari negara-negara tetangga.
Dalam mengurus negara, Salomo dibantu staf yang terdidik di suatu sekolah khusus di Yerusalem. Sekolah pegawai atau sekolah kebijaksanaan itu akan berpengaruh besar dalam perkembangan intelektual dan sastra di Israel pada abad-abad selanjutnya.
Begitulah dalam waktu beberapa puluh tahun saja, Israel berkembang dari suatu persekutuan suku-suku tani menjadi suatu kerajaan yang besar, kaya dan modern. Akibat dibidang agama timbul banyak goncangan dan kesulitan karena banyak pegangan tradisional rupanya tidak sesuai dengan gaya hidup baru. Salomo menunjukkan ikatannya dengan Yahweh melalui kenisah atau Bait Allah yang dibangunnya, akan tetapi, ia mulai menimbulkan banyak pertanyaan ketika di Yerusalem juga dibangun kuil-kuil untuk ibadat dewa-dewi dari isteri-isteri asingnya. Dengan demikian, muncul sinkretisme yang mengancam Yahwisme sejak Israel mulai menjadi bangsa yang menetap.
Perkembangan Kitab Suci pada periode ini :
1.      Muncul teolog yang disebut Yahwist (disebut tradisi Yahwist atau disingkat Y/J). disebut Yahwist, karena menyebut Allah dengan sebutan Yahweh.
Pada masa ini muncul seorang atau beberapa teolog yang mengumpul cerita mengenai sejarah keselamatan nenek moyang, mulai dari awal mula dunia, manusia jatuh dalam dosa, dari Abraham sampai dengan wafatnya Musa dari tradisi lisan yang ada. Dari banyak cerita yang dipilih bagian-bagian yang dipandang relevan untuk situasi bangsa Israel abad 10. Cerita itu meliputi : penciptaan manusia, manusia jatuh dalam dosa dan akibatnya, Abraham, yakub, Yususf, pembebasan dari Mesir, Sinai dan perjalanan di gurun.
2.      Riwayat penggati Daud (2 Sam 9-20; 1 Raj 1-2). Banyak ahli memandang bab tersebut ditulis oleh saksi mata pada masa pemerintahan Salomo untuk menjelaskan bagaimana Salomo dapat mengganti ayahnya secara sah, walaupun ia bukan anak sulung.
3.      Mazmur. Sejak Israel sebagai kelompok mulai mengadakan ibadah dan merayakan pesta religius, terciptalah lagu-lagu rohani yang mengungkapkan pujian, keluhan, permohonan dan kepercayaan mereka. Kumpulan lagu-lagu itulah yang sekarang terhimpun dalam Kitab Mazmur. Hanya saja kita sulit untuk menentukan Mazmur mana saja yang ditulis pada masa Daud dan Salomo;
4.      Kumpulan Hukum. Dengan dibentuknya kerajaan, maka diperlukan peraturan yang kuat dan ketat atau undang-undang. Agakanya hukum-hukum yang merupakan penerapan konkret dari peraturan perjanjian dalam hidup sehari-hari dikumpulkan pada periode Daud-Salomo ini.
c.       Jaman Dua Kerajaan : Israel dan Yehuda (931-586 SM)
1.      Pecahnya Kerajaan
Setalah Salomo wafat, anaknya yang bernama Rahabeam menggantikannya. Oleh suku-suku Israel di Palestina Utara dan  Tengah, raja baru itu diminta untuk meringankan beban pajak dan kerja paksa yang dulu ditetapkan oleh raja Salomo. Permintaan itu ditolak oleh Rahabeam. Sebagai rekasi atas penolakan itu, maka suku-suku Israel bagian tengah dan utara memisahkan diri dari kerajaan Rahabeam dan mengangkat Yerobeam sebagai raja. Dengan demikian sejak tahun 931 kerajaan Israel terpecah menjadi dua bagian.
Meskipun sejak masa Hakim-hakim persatuan suku-suku israel berkembang, namun persatuan itu belum mempersatukan seluruh suku dalam arti yang sesungguhnya. Hanya karena kelahiran militer dan politik raja Daud dan Salomolah kesatuan itu dapat diusahkan. Itulah sebabnya ketika terjadi perselisihan, suku-suku itu kembali terpecah

KERAJAAN SELATAN
KERAJAAN UTARA
Nama
Kerajaan Yuda/Yehuda
Kerajaan Israel
Ibu Kota
Yerusalem
Samaria
Wilayah
Suku Yehuda dan Sebagian Benyamin kecil dan miskin
10 Suku yang lain
Lebih besar dan kaya
Pemerintahan
Pemerintahan stabil (1 Wangsa: yaitu dinasti Daud)
Pemerintahan Labil (9 Wangsa berturut-turut)
Pengaruh Kanaan
Pengaruh unsur-unsur Kanaan tidak begitu besar
Pengaruh unsur-unsur Kanaan (kebudayaan dan agama) kuat
Pusat Perhatian Religius
Sion dan perjanjian Yahwe dengan Daud (2 Sam 7)
Tradisi Perjanjian Sinai
Tempat Ibadat
Bait Allah di Yerusalem
Betel dan Dan
Akhir Pemerintahan
586 SM dibuang ke Babilon (dan kembali)
721 SM dibuang ke Asyur. (dan tidak kembali)
Nabi-nabi yang berkarya
Yesaya, Mikha, Nahum, Habakuk, Yeremia dsb
Elia, Elisa, Amos, Hosea

Selama periode 2 abad hubungan kedua kerajaan itu kerap kali sulit: ada perang dingin dan perang sunguh-sungguh. Kadang-kadang Kitab Suci berbicara tentang keadaan damai, tetapi hampir selalu Kerajaan Utara menguasai Kerajaan Selatan.
2.      Kerajaan Israel
Raja Yerobeam mencoba membentuk suatu negara yang kuat yang dapat bertahan melawam ancaman dari Yerusalem. Dalam waktu singkat banyak hal yang harus diurus, seperti ibu kota kerajaan, pegawai kerajaan, militer dan sebagainya, sehingga pada periode ini kerajaan utara dalam keadaan sulit.
Untuk menghindari rakyat beribadat ke Yerusalem, maka Yerobeam mendirikan tempat suci di Betel dan Dan. Masing-masing tempat ibadat dilengkapi dengan patung lembu emas sebagai tahta bagi Yahwe, sama seperti Yerusalem kedua patung kerub di atas Tabut Perjanjian sebagai tahta Yahweh. Hanya saja patung lembu emas itu menyebabkan terjadinya sinkretisme atau bahkan baalisme (penyembahan dewa Baal), karena Baal lazim digambarkan sebagai lembu jantan. Dalam kenyataan memang akhirnya kerajaan utara acap kali jatuh pada penyembahan berhala.
Beberapa raja yang penting di kerajaan utara ialah: (1) Omri, dialah yang membangun Samaria menjadi ibu kota Israel; (2) Ahab, raja ini menjerumuskan Israel kepada penyembahan berhala yaitu kepada dewa Baal; (3) Yerobeam II, pada masa raja ini, Israel mengalami kemakmuran ekonomi. Kemakmuran ekonomi ini hanya dinikmati kalangan atas, sementara rakyat menderita. Dengan demikian masa ditandai oleh penyalahgunaan kekuasaan dan ketidakadilan. Bidang keagamaan ditandai dengan ibadat yang kosong dan penuh penyembahan berhala.
Akhir kerajaan Utara pada awalnya ditandai oleh perebutan kekuasaan. Di samping itu Kerajaan Asyur di Mesopotamia menjadi ancaman nyata bagi kerajaan Israel. Pada tahun 731 SM kerajaan Israel jatuh ke tangan Asyur. Kemudian pada tahun 724 SM, kerajaan Israel memberontak melawan Asyur dengan tidak mau membayar upeti dan akhirnya pada tahun 721 SM kerajaan Israel dihancurkan oleh Asyur dan sebagian rakyatnya Khususnya masyarakat lapisan atas dibuang ke Mesopotamia. Sebaliknya raja Asyur mendatangi orang-orang dari Mesopotamia untuk tinggal di kota-kota Samaria. Dari pencampuran penduduk inilah di kemudian hari orang Samaria dianggap tidak asli Yahudi lagi dan juga dianggap sebagai kaum ibadah. Mereka inilah selanjutnya disebut orang-orang Samaria. Bahkan pada Zaman Yesus orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (Yoh 4:9).
Pada jaman ini tampil pula nabi-nabi, antara lain:
a.       Elia : Nabi ini berkarya pada masa pemerintahan Ahab (875-853) di mana pada saat ini penyembahan berhala kepada Baal begitu meraja rela, maka Allah menguts Elia untuk mencoba dengan sekuat tenaga membela kemurnian agama israe, bahwa penyembahan hanya kepada Yahwe saja.
Nabi Elia menyatakan bahwa :
-          Yahwelah Allah Israel, juga di bidang kesuburan, bukan Baal (1 Raj 17-28)
-          Yahwelah yang berkuasa atas hidup dan mati, bukan Baal (2 Raj 1)
-          Raja Israel tidak boleh memerintah dengan gaya Kanaan (1 Rak 21) yaitu menjadi raja dengan kekuasaan sewenang-wenang.
b.      Elisa : melanjutkan karya Elia, di samping itu nabi ini juga terlibat dalam keputusan-keputusan penting (2 Raj 2-10)
c.       Amos : Nabi ini muncul sekitar tahun 760 SM. Pada Zaman ini, Israel mengalami kemakmuran, tetapi sekaligus muncul koropsi, penyalahgunaan kekuasaan dan ketidak adilan serta ibadat yang tanpa isi. Nabi dengan sekuat tenaga mencoba membela keadilan dan mengecam segala bentuk ketidak adilan serta ibadat yang kosong. Dengan jelas dan tajam Amos memperlihatkan segala kecurangan dan kemunafikan dalam hidup sosial dan religius, khusnya golongan atas. Amos bertugas sebagai nabi tidak lama, mungkin hanya tiga bulan.
d.      Hosea : nabi cinta kasih. Nabi ini berkarya sekitar tahun 758 SM. Pada jaman ini, Israel sama sekali tidak mengenal Allahnya. Israel telah mengejar dan menemukan kekaxsih lain yaitu Baal. Maka nabi mewartakan bahwa Yahzwe adalah Allah yang setia.
Perkembangan Kitab Suci pada masa ini
a.       Munculnya tradisi Elohist
Tradisi ini disebut Elohist, karena menyebut Tuhan dengan sebutan Elohim (Allah), dan disingkat E. tradisi ini mencoba merenungkan dan menuliskan peristiwa bapa-bapa bangsa dan tradisi Israel ke Mesir dan keluar dari Mesir.
b.      Elisa dan Elisa dua tokoh yang sangat menonjol pada abad ke 9 SM. Pewartaan mereka tidak tersimpan, tetapi kisah dan legenda mereka tersimpan dalam suatu cerita yang kini sebagian cerita itu dapat ditemukan diakhir 1 Raj dan awal 2 Raj.
Pewartaan para nabi “penulis” yaitu Amos dan Hosea, sudah sebagian mulai dituliskan para muridnya. Hanya saja sulit ditentukan pewartaan nabi itu ditulis untuk pertama kalinya.
c.       Kumpulan Hukum: Ulangan
Di kerajaan Utara perhatian terhadap tradisi Sinai sangat kuat, sehingga dihasilkan kumpulan catatan perjanjian dan hukum. Kumpulan ini dilandaskan pada upacara pembaharuan perjanjian berkala di Sikhem dan dikembangkan di suku-suku Utara. Kumpulan ini pada tahun 722 dibawa ke Yerusalem dan mendapat bentuk yang definitip pada jaman raja Hizkia (726-687 SM). Kumpulan itu kurang lebih sama dengan Ul 5-28 sekarang.
d.       Mazmur
Pada periode inipun disusun sejumlah Mazmur, baik di kerajaan Utara maupun Selatan
3.      Kerajaan Yehuda
a.       Sebelum keruntuhan Kerajaan Israel
Kerajaan yuda meliputi dua suku (Yehuda dan Benyamin), dari segi tanah kerajaan Yuda mendapat bagian yang kurang subur, akan tetapi kerajaan ini hidup dekat Bait Allah. Hal ini merupakan faktor penting dalam mempertahankan iman mereka kepada Tuhan Penyelamat. Meskipun Yuda sering jatuh pada penyembahan berhala (khususnya pada pemerintahan Rehabeam dan Atalya), namun beberapa kali Yuda mendapat raja-raja yang saleh (antara lain : Asa, Yosafat, Yosia). Yehuda juga mengalami kemakmuran, khususnya pada masa pemerintahan Uzia (767-740 SM) dan Yotam (740-734 SM).
Sejak abad ke 8 SM kekuasaan Asyur mulai menanjak dan menunjukkan tanda-tanda yang sangat membahayakan bagi kerajaan-kerajaan disekitarnya. Hal ini terjadi mulai pemerintahan Tiglat Pileser III (745-727 SM). Tahun 740 dia mengadakan ekspansi ke barat dan menghancurkan kerajaan-kerajaan disitu sampai ke perbatasan Israel. Tahun 734 dia sekali lagi berekspansi ke barat untuk mengalahkan kerajaan-kerajaan yang berbatasan dengan laut tengah. Melihat ancaman besar ini raja Israel dan raja Aram bersepakat untuk mengadakan koalisi untuk melawan Asyur dan mengajak Ahas raja Yehuda untuk masuk dalam koalisi tersebut. Undangan ini ditolak oleh Ahas. Maka majulah dua raja itu untuk memerangi Ahas. Karena sadar dia tidak kuat melawan dua raja itu, Ahas minta bantuan Asyur. Permintaan itu dengan sukarela diterima, bukan karena dia bermaksud baik untuk menolong, tetapi sudah termasuk rencana untuk memerangi kedua raja itu. Ahas harus membayar mahal pertolongan Asyur ini, karena Yehuda menjadi taklukan dan harus membayar uprti.
Pada periode ini muncul dua nabi di Yehuda, yaitu nabi Yesaya (740-700 SM) dan nabi Mikha (745-697 SM). Kedua nabi ini diutus Allah untuk mewartakan sikap tobat terhadap Allah. Dari pewartaan mereka menjadi jelas, bahwa hidup keagamaan serta keadilan sosial kerap kali amat menyedihkan. Yesaya, nabi yang berasal dari kalangan atas ini sangat menekan kekudusan Yahweh, dosa Israel dan sikap iman. Sedangkan Mikha menuntut kasih setia Israel terhadap Yahwe sebagai sikap yang dituntut dalam perjanjian. Ia juga mengecam kejahatan dan ketidakadilan sosial yang menghancurkan hubungan baik antara semua anggota bangsa terpilih. Nabi mengecam kalangan/lapisan atas yang menindas rakyat kecil atau lapisan bawah. Atas nama Tuhan nabi Mikha menyampaikan protes yang sangat tajam dan ia meramalkan hukuman yang amat berat.
b.      Sejarah runtuhnya Kerajaan Yuda/Yehuda.
Sejarah Timur Tengah setelah Tiglet Pileser III berkuasa semakin panas. Raja Hizkia harus membayar mahal atas kesalahan ayahnya. Raja yang saleh ini terus menerus berusaha untuk melepaskan diri dari pengaruh Asyur, tetapi makin lama makin sulit karena pengganti-penggati Tiglet Pileser III termasuk raja-raja yang kuat. Percobaan untuk memberontak pada tahun 705 harus dibayar mahal. Sebagian kerajaan dihancurkan oleh raja Asyur, Sargon II. Yerusalem luput dari kehancuran hanya setelah Hizkia membayar upeti yang besar. Setelah kematian pengaruh kekafiran di bawah.
Perkemabangan Kitab Suci pada masa ini.
-          Pewartaan Nabi: Yesaya, Mikha, Nahum, Habakuk oleh murid-muridnya mulai ditulis.
-          Penyatuan tradisi Y dan E, dengan berpedoman pada tradisi Y. kerajaan Utara dihancurkan pad tahun 721 SM. Pada waktu itu sekumpulan naskah dari tradisi E dibawa lari ke Selatan. Kemudian pada masa raja Hizkia, seorang redaktur menyatukan tradisi Y dan E menjadi satu kisah YE. Dalam menyusul naskah baru itu radaktur menggunakan tradisi Y sebagai pedoman, sedamgkan E hanya digunakan untuk melengkapi tradisi Y.
-          Tradisi Deuteronomist (kelompok cendekiawan) mulai menyusun karya raksasa tentang sejarah bangsa Israel sejak jaman Musa sampai raja Yosia. Sebagai tolok ukur untuk menilai semua tokoh dan peristiwa dipergunakan naskah Ul 5-28. Itulah sebabnya kelompok ini disebut kelompok deuteronomis (Deuteronomium adalah nama latin dari kitab Ulangan). Kelompok ini juga melengkapi kitab Ulangan bab 1-4 dan 29-34 sebagai pendahuluan dari kitab kitab sejarah yang dalam Kitab Suci terdiri dari kitab-kitab Yosua, Hakim-hakim, 1,2 Samuel dan 1,2 Raja-raja dalam edisi yang pertama. Penyusunan kitab-kitab ini akan diteruskan pada waktu pembungan Babel.
-          Mazmur, Amsal dan kisah Yusuf. Ada beberapa Mazmur yang berasal dari periode ini. Para guru kebijaksanaan mulai mengumpulkan Amsal dan pepatah yang kini tersimpan dalam kitab Amsal. Karya lain adalah saduran kembali kisah Yusuf yang sekarang terdapat dalam Kej 37-50 dengan menyatukan karya Y dan E.

2.3. Periode Pembuangan (586-538 SM)
a.       Situasi Yehuda
Periode ini merupakan titik sejarah Israel. Secarah lahiriah Israel kembali ke titik awal sejarahnya, yakni perhambaan. Tetapi secarah batiniah diperbaharui degan belajar menemukan hal-hal batin dari imannya terutama berjumpa kembali dengan Tuhan dan rencana keselamatan.
Kemalangan yang menimpa kerajaan Yehuda pada tahun 589-586 SM sungguh-sungguh mengubah keadaan. Yerusalem dan semua kota lain di Yehuda dihancurkan oleh Nebukadnezar, raja Babel. Lapisan atas bangsa Yehuda dibuang ke Babel, yang tinggal hanya kaum kecil dan miskin.
Secara yuridis Yehuda digabungkan dengan propinsi Samaria. Pad awal periode ini keadaan yehuda sangat menyedihkan. Kehidupan agak membaik setelah beberapa lama, terutama setelah beberapa orang buangan berhasil meloloskan diri ke Mesir, kemudia kembali ke Yehuda dan mengatur kehidupan baru. Hanya karena jumlah mereka sangat kecil, maka pembangunan yang dilakukan menjadi sangat lamban dan kurang berarti.
b.      Kehidupan orang buangan di Babel.
Orang-orang Yehuda mengalami dua kali pembungan, yaitu pada tahun 597 dan 586 SM. Seluruh jumlah orang buangan antara 20.000 sampai 30.000 orang, yang termasuk golongan atas (pegawai, militer, imam, tukang). Kedua pembuangan itu membawa akibat buruk yang sangat hebat bagi bangsa Yehuda. Pembuangan itu dimaksudkan untuk melumpuhkan suatu bangsa, sehingga tidak dapat memberontak lagi.
Rupanya, para buangan dari Yehuda tidak diperlakukan sebagai tahanan perang yang dikurung. Mereka diperbolehkan mengatur hidupnya sendiri di wilayah diberikan kepadanya, khususnya dalam kehidupan agama dan hidup sehari-hari. Mereka hanya tidk diberikan kebebasan dalam bidang politik. Mereka bekerja sebagai tukang, pedagang, petani, bahkan ada sebagai pegawai, sehingga secara sosio ekonomis mereka cukup berhasil. Maka tidak mengherankan sesudah beberapa puluh tahun, beberapa orang buangan berhasil memperoleh kedudukan yang cukup kuat dan terpandang di Babel. Pada tahun 561 SM Raja Yoyakim termasuk kelompok orang buangan pertama (tahun 597 SM) direhabilisasi. Rehabilisasi ini juga menyatakan kebijakan manusiawi penguasa Babel terhadap orang Yehuda.
Banyak orang Yehuda di pembuangan dengan cepat menyesuaikan diri dengan situasi Babel. Namun sebagian besar tetap menolak berasimilisasi dengan penduduk setempat karena ingin tetap mempertahankan keaslian dan kekhasannya sebagai orang Yehuda. Mereka inilah yang selalu merindukan untuk kembali ke tanah air.
c.       Kehidupan Religius
Pembangunan ke Babel ini secara religius sungguh menghilangkan tiga pegangan sebagai pemenuhan janji-janji Allah, yaitu :
1.      Mereka dibuang dari tanah airnya. Hal ini merupakan pengalaman yang bertolak belakang dengan pengalaman pemenuhan janji kepada bapa-bapa bangsa mengenai tanah.
2.      Tidak ada lagi keturunan Daud yang menjadi raja di Yerusalem. Ini bertentangan degan nubuat Natan yang terdapat dalam 2 Sam 7
3.      Bait Allah tempat kediaman Yahwe ditengah umat hancur. Ini berarti Yahwe meninggalkan umat-Nya
Maka muncullah sikap-sikap sebagai berikut :
1.      Penghancuran Yehuda dipandang sebagai hukuman yang ditimpakan oleh dewa-dewi asli Kanaan, yaitu Baal, karena bangsa Israel telah merebut tanah miliknya. Kelompok ini cenderung untuk kembali berbakti kepada Baal.
2.      Pandangan lain adalah bahwa Yahweh telah dikalahkan oleh dea Babel. Pandangan ini didasarkan pada pandangan bahwa jika terjadi perang, maka yang berperang bukan hanya tentara tetapi juga para dewa-dewi dan alah masing-masing negara. Karena Israel kala melawan Babel, maka mereka menganggap Yahweh telah kalah melawan dewa-dewi Babel. Sikap seperti ini terdapat dalam diri orang yang tinggal di wilayah Yehuda yang dikuasai Babel.
3.      Sikap ketiga adalah kelompok terbesar yang mengartikan pembuangan tahun 586 SM sebagai kata terakhir dalam dialog antara Yahwe dengan bangsa terpilih. Tahun 721 SM adalah kehancuran kerajaan Israel sebagai tanda peringatan terakhir dari Yahweh supaya Israel bertobata dan setia pada perjanjian-Nya. Nyatanya Israel tidak setia dan mengingkari perjanjiannya dengan Yahweh. Karena itu mereka dihukum. Kini mereka ditolak oleh Yahweh dan dibuang. Akibatnya mereka berada dalam keadaan putus asa. Di tengah segala keputusaan itulah tampil tokoh-tokoh yang memberi harapan akan masa depan yang lebih baik.
Ketiga sikap diatas cukup menjadi alasan yang menyebabkan kehancuran bangsa Israel sebagai bangsa. Keistimewaan sebagai bangsa yang menyembah Yahweh, mulai luntur. Pada hal ciri khas ini sangat penting, supaya sebagai bansa tidak hancur dan hilang seperti yang terjadi pada bangsa: Edom, Moab, Amon dsb. Dalam situasi seperti itulah Allah mengutus Yehezkiel untuk membuka mata orang-orang Yehuda dan menyadarkan mereka bahwa mereka sudah tidak setia kepada Yahweh, Allah yang mengikat perjanjian dengan mereka.
d.      Tokoh-tokoh yang tampil adalah :
1.      Nabi Yehezkiel. Nabi ini mewartakan karya keselamatan Allah yang akan datang. Tuhan adalah Allah yang tidak menghendaki kematian orang berdosa, tetapi supaya bertobat dan hidup. Nabi ini juga mewartakan bahwa dialog Yahwe dengan umat-Nya belum berakhir, dan karena itu masih ada masa depan. Harapan akan masa depan inilah menjadi alasan mengapa bangsa Yehuda tidak punah sebagai bangsa. Nabi ini amat berjasa bagi pembaharuan dan penyucian umat Yehuda yang tebuang.
2.      Nabi Deutero Yesaya. Nabi ini tidak diketahui namanya, tetapi pewartaannya disatukan dengan Kitab Yesaya yang sekarang kita temukan dalam Yes 40-55, maka disebut Yesaya kedua (Deutero Yesaya). Nabi ini mewartakan penghniburan dan pengharapan besar. Tuhan akan membebaskan umat-nya dari perhambaan di Babel. Israel akan mengalami keluaran baru. Masa hukuman akan segerah berakhir, masa keselamatan sudah diambang pintu. Tuhan akan menyatakan dir-Nya sebagai raja segala rajadan Tuhan segala tuhan bangsa. Pewartaannya yang paling terkenal adalah tentang Hamba tuhan yang menderita (Yes 52:13-53:12).
3.      Sejarahwan Deoteronomist. Mereka adalah sekelompok orang awam yang saleh dan beribadat. Disebut Deuteronomist karena teologinya dijiwai oleh kotbah-kotbah yang terdapat dalam kitab Ulangan, khususnya 5-28. Mereka inilah yang merampung tulisannya tentang sejarah Israel yang telah dimulainya. Dalam tulisannya itu mereka mencoba menjawab pertanyaan mengapa Israel dibuang. Menurut mereka ad tiga sebab, yaitu: Pertama. Karena Israel telah meninggalkan Tuhan dan meyembah dewa-dewi; Kedua. Israel tidak mau mendengarkan seruan Tuhan yang disampaikan para Nabi; Ketiga. Yerusalem kota Allah telah menjdai bejat, karena penuh dengan penyembahan berhala. Sejarahwan inilah yang menuliskan kitab-kitab sejarah: Yosua, Hakim-hakim, 1,2 Samuel dan 1,2 Raja-raja.
4.      Para Imam. Mereka merfleksikan sejarah awal Israel dalam konteks sejarah dunia dan dari sudut iman. Israel di pembuangan adalah Israel yang kehilangan identitasnya sebagai bangsa, karena mereka telah kehilangan identitasnya sebagai bangsa, karena mereka telah kehilangan raja, tanah dan bait suci. Untuk itu Israel memrlukan identitas baru. Identitas mereka, menurut para imam adalah sunat. Sunat sebagai tanda perjanjian dengan Allah. Di samping sunat tanda lain adalah sabat. Sabat adalah hari istirhat yang telah dikuduskan Allah sejak penciptaan.
e.       Perkembangan Kitab Suci.
1.      Kisah sejarah Deuteronomist yang sudah dikerjakan pada masa pemerintahaan pemerintahan raja Yosia, selama pembuangan dilengkapi dengan informasi menganai raja Yosia dan sesudahnya serta akhir Kerajaan Yuda dn pembuangan ke Babel.
2.      Kitab Ratapan. Kitab ini disusun tidak lama setelah kehancuran Yerusalem.
3.      Nabi-nabi. Tulisan-tulisan tentang pewartaan para nabi sebelum pembuangan dibawa ke pambuangan dan dilengkapi, oleh karena itu pada akhir masa pembuangan kitab Nabi: Amos, Hosea, Mikha, Yesaya (1-39), Nahum, Zefanya, Yeremia, Habakuk sudah mempunyai bentuk yang hampir final.
4.      Mazmur. Sekurang-kurangnya ada satu Mazmur yang ditulis pada masa ini yaitu Mazmur 137
5.      Tulisan Para Imam (Priesterkodeks). Pada masa ini disusun karya besar yang melengkapi Tradisi Y dan E. Bahkan menurut para ahli tradisi P inilah yang menggabungkan tradisi-tradisi yang akhirnya menjadi Pentateukh seperti yang sekarang kita miliki. Tradisi P sendiri memiliki cerita, misalnya kisah penciptaan Kej 1:1-2:4a, akan tetapi yang paling banyak adalah hukum.

2.4.Periode Pembangunan/Sesudah Pembuangan (538-332 SM)
a.       Kembali dari Pembuangan dan masalah-masalahnya.
Sekitar tahun550 SM muncul kekuatan baru dari Persia dan dengan cepat memperluas wilayah kerajaannya. Pada tahun 539, raja Koresy dari Persia mengalahkan Babel, sehingga Babel menjadi daerah jajahannya. Kebijakan Koresy ialah memberi otonomi seluas-luanya dalam dalam hal kebudayaan dan agama kepada bangsa jajahannya. Pada tahun 538 SM, ia mengeluarkan izin resmi bagi orang-orang Yehudi untuk kembali ke Palestina dan membangun kembali Bait Allah yang telah hancur (bdk 2 Tw 36:22-23).
Ternyata izin yang diberikan raja Koresy kepada orang buangan untuk pulang ke Yehuda tidak digunakan oleh semua. Ada kelompok yang memanfaatkan izin ini untuk kembali ke Yehuda, tetapi ada juga yang tidak mau pulang karena keadaan sosial ekonomis mereka di Babel sudah baik.
Kelompok pertama yang pulang terdiri dari orang-orang yang tidak begitu berhasil dan tidak dapat maju diwilayah pembuangan. Kelompok lakin pulang karena sangat dipengaruhi oleh pewartaan Yeremia, Yehezkiel dan terutama Deutero Yesaya mengenai masa keselamatan yang akan datang sesudah pembuangan di Babel.
Hal-hal penting yang terjadi setelah orang buangan kembali adalah sebagai berikut :
1.      Kesukaran dan Krisis
Orang-orang Israel yang baru pulang dari pembuangan sesungguhnya memiliki semangat yang besar. Tetapi mereka menjadi agak putus asa dan kecewa, karena banyak menghadapi kesulitan dan tantangan. Keadaan di Yehuda tidak seperti yang mereka bayangkan. Segala-galanya rusak, penduduk hanya sedikit dan miskin. Nabi Trito Yesaya mencoba memberikan pengharapan dan keberanian kepada orang-orang yang kembali dari pembuangan.
2.      Pembangunan Bait Suci
Mereka yang kembali dari pembuangan mencoba membangun Bait Suci. Pekerjaan ini tidak berjalan lancar. Hal ini disebabkan adanya pertentangan kepentingan antara orang yang kembali dari pembuangan dengan yang tidak dibuang. Orang yang tidak ikut pembuangan lebih memikirkan kepentingan mereka sendiri daripada membangun Bait Suci. Disamping itu juga ada pahlawan dari orang-orang Samaria yang ingin ikut membangun Bait Suci. Orang-orang Samaria dianggap tidak asli Yahudi lagi maka dilarang ikut serta membangun Bait Suci, akibatnya terjadi perlawanan. Dengan dukungan Nabi Hagai dan Zakharia dan dengan susah payah dan akhgirnya Bait Suci dapat dibangun kembali dan diselesaikan pada tahun 515 SM.

3.      Adanya perselisihan.
Sejak awal sudah timbul perselisihan antara kelompok orang yang pulang dari pembuangan dengan kelompok orang yang tidak dibuang serta dengan orang-orang Samaria. Orang-orang yang kembali dari pembuangan itu ternyata memili penghayatan riligius yang berbeda dengan mereka yang tetap tinggal dan lebih-lebih dengan orang Samaria. Kelompok orang yang pulang dari pembuangan itu memandang diri sebagai “sisa Israel”, yaitu kelanjutan sah dari bangsa terpilih yang lama. Hanya mereka yang boleh membangun kembali Kenisah. Kedua kelompomk lain (yang tidak dibuang dan orang Samaria) dipandang hina dan tidak pantas untuk tugas luhur: itulah sebabnya di kemudian hari orang-orang Samaria membangun kanisah mereka sendiri di atas gunung Gerizim pad abad 4 SM.
b.      Pembaharuan Ezra dan Nehemia
Pada tahun 515 SM Bait Suci sudah ditahbiskan. Situasi daerah Yehuda tetap menyedihkan. Ibu kota tidak memuliki tembok perlindungan, penduduk tidak merasa aman. Mereka sering diganggu oleh orang-orang Samarai dan bangsa –bangsa tetangga. Untuk membereskan keadaan maka Nehemia minta diangkat menjadi Gubernur di Yerusalem. Ia adalah seorang Yahudi yang bekerja sebagai pejabat tinggi di istana Persia. Berkat kedudukannya yang tinggi inilah ia dapat melaksanakan tugas dengan baik sehingga Yehuda menjadi aman, tidak ada gangguan lagi. Hal ini berlangsung pada tahun 445-433 SM. Keberhasilan dibidang keamanan, sehingga pada tahun 43 SM Nehemia kembali lagi bersama seorang ahli kitab bernama Ezra. Dengan bantuan Ezra pembaharuan agama dapat dijalankan. Ezra menjadikan hukum Musa (Taurat Musa) sebagai hukum sipil untuk semua orang Yahudi yang dilakukan pada hari raya pondok daun. Dengan ini lahirlah Yudaisme. Istilah Yudaisme atau agama Yahudi pertama-tama dijumpai dalam 2 Mak 2:21. Yudaisme adalah suatu agama baru yang lahir dari pangkuan Israel. Pusat hidup Yudaisme ialah Taurat Musa dan Ibadat yang berpusat di Bait Allah. Mereka menekankan ciri-ciri mereka dalam tanda-tanda lahiriah seperti sunat, ketaatan pada peraturan hari Sabat, peraturan mengenai makanan, puasa dan waktu-waktu doa. Ciri-ciri itu menjadi bangsa Yahudi di Yehuda sangat berbeda dibandingkan dengan semua bangsa lain.
c.       Perkembangan Kitab Suci
1.      Hukum Taurat atau Pentateukh
Kitab Ulangan yang aslinya menjadi satu dengan kitab sejarah karya Deuteronomist, akhirnya digabungkan dengan empat kitab yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat dan Bilangan. Dengan demikian kelima kitab ini telah memperoleh bentuknya yang definitif.
2.      Kitab-kitab sejarah karya Deuteronomist (Yosua, Hakim-hakim, 1,2 Samuel, dan 1,2 Raja-raja). Juga sudah final
3.      Nabi-nabi
Penulisan dan pengumpulan para nabi yang dimulai pada masa sebelum dan semasa pembuangan masih terus dilanjutkan, bahkan sebagian besar kitab-kitab para nabi hanpir final.
4.      Kitab Sastra Kebijaksanaan yang telah selesai pada masa ini antara lain:
-          Amsal telah mendapat bentuknya yang definitip
-          Kidung Agung yang berisi lagu-lagu cinta ditulis dalam bahasa puisi yang indah
-          Kitab Ayub merupakan kitab yang isi dan mutu sastranya sangat tinggi, sehingga dipandang sebagai salah satu karya terbaik sastra universal
-          Kitab Pengkotbah merupakan semacam buku pegangan bagi pembinaan sikap kritis di kalangan kaum muda
5.      Mazmur. Sudah dikatakan bahwa ibadah di kenisah yang baru diatur dengan sangat ketat. Salah satu akibatnya ialah mulai ditetapkan apa yang boleh digunakan dalam ibadat, termasuk lagu atau Mazmur. Dari ratusan mazmur yang tersusun mulai tahun 1200-300 SM terpilih 150 Mazmur yang diterima sebagai kumpulan resmi, seperti yang kita pilih.

6.      Kitab Tawarikh, Ezra dan Nehemia
Sekitar tahun 400 SM, seorang Lewi yang disebut Ahli Tarikh menyusun karya besar mengenai sejarah Daud sampai zaman Ezra dan Nehemia. Keseluruhan kisah ini didahului daftar silsilah dari Adam sampai Daud. Dengan memanfaatkan Pentateukh dan kitab sejarah sebagai sumber utama, penulis menyusun karya ini sebagai suatu buku renungan, bukan pertama-tama buku sejarah. Dua pokok yang diperhatikan buku ini adalah:
-           Kenisah di Yerusalem adalah satu-satunya tempat ibdat yang sah
-          Suku bangsa Daud telah dipilih Tuhan sebagai satu-satunya suku bangsa yang sah untuk memerintah umat-Nya.

2.5. Periode Yudaisme (332-62/50 SM)
a.       Tampilnya Alexander Agung
Sesuatu yang baru terjadi dengan munculnya Alexander Agung sebagai raja Makedonia pada tahun 334 SM. Ia mampu mengalahkan seluruh dunia Timur Tengah. Yudaisme dapat dikatakan memasuki politik yang baru. Kekuasaan dari Timur berakhir dan mulai sekarang digantikan oleh kekuasaan dari Barat. Kekuasaan ini dengan kebudayaan yang tinggi dan pandangan hidupnya yang berbeda secara bertahap mulai berubah wajah  Timur Tengah, karena pada masa ini muncul pengaruh kebudayaan Yunani. Raja Alexander Agung meninggal pada tahun 323 SM pada waktu berusia 32 tahun tanpa meninggalkan pewaris kerajaan. Oleh sebab itu, kerajaan raksasa itu dibagi-bagi di antara para panglimanya yang kaut. Dari tahun 323-200 SM Yehuda berada dibawah penguasa Ptolomeus dari Mesir. Raja-raja Ptolomeus pada mulanya bersukai hati-hati dan bijaksan terhadap Yahudi. Yehuda tetap dibiarkan menikmati otonomi terbatas, di bawah pimpinan imam agung.
b.      Penindasan Agama oleh Antiokhus IV Epifanes dan Pemberontakan Makabe
Kendati Alexander Agung sudah meninggal, helenisme berkembang terus sampai kira-kira seperempat abad sesudahnya. Bahasa Yunani mulai dipakai di mana-mana. Kebudayaan helenis dengan keunggulan dalam bidang ikmu dan  seni membuat bangsa-bangsa Timur Tengah terpesona, termasuk lapisan atau bangsa Yahudi, sehingga tidak heran kalangan atas bangsa Yahudi menikuti budaya helenis.
Pada tahun 200 SM Raja Antiokhus III mengalahkan raja Ptolomeus V dan mencaplok Palestian. Selama 25 tahun pertama pemerintahan raja ini tetap memberikan otonomi terbatas kepad Yehuda, di bawah pimpinan imam agung. Hanya saja sejak tampilnya Alexande Agung henenisme terus berkembang. Bahasa Yunani mulai dipakai di mana-mana. Kebudayaan helenis dengan keunggulan dalam bidang ilmu dan seni membuat bangsa-bangsa di Timur Tengah terpesona. Tidak terkecuali Bangsa Yahudi, khususnya kalangan atas.
Politik pengyunanian mencapai puncaknya pada masa Antiokhus IV Epifanes menjdai raja. Ia naik tahta pada tahun 175 SM dan memerintah sampai dengan tahun 164 SM. Raja ini ingin mempersarukan kerajaannya dengan mewajibkan agama dan budaya yang sama, yaitu agama dan kebudayaan Yunani. Di Yehuda raja ini mengangkat imam agung yang mampu membayar tinggi kepadanya. Akibatnya pada masa ini muncul beberapa imam agung yang sebenarnya adalah orang-orang yang meninggalkan agama Yahudi, hanya karena dia mampu membayar mahal. Pengyunanian ini di Yehuda mendapat dukungan dari kalangan atas. Pada tahun 168 SM ia mendirikan mezbah bagi mahadewa Zeus di Bait Allah. Tahun berikutnya, kebaktian kepad dewa-dewi dan paraktek agama Yahudi dilarang. Pada waktu itu meletuslah pemberontakan yang dipimpin oleh imam Matatias, yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Yudas (166-160). Yudas diberi julukan Makabe karena tindakannya yang keras (dari kata Aram maqqaka yang berarti palu). Yudas Makabe didukung oleh ribuan petani yang setia kepada agama Yahudi. Pada tahun 164 SM ia dapar memaksa raja Antiokhus V (yang baru saja naik tahta menggantikan ayahnya) untuk menyetujuai pengambilalihan Yerusalem oleh orang-orang Yahudi yang setia, sehingga kanisah dapat ditahirkan kembali.
Perang melawan penindasan agama ini berlangsung sampai tahun 142, di bawah pimpinan Yudas dan kedua saudaranya yaitu Yonatan (160-143 SM) dan Simon (142-134). Sedikit demi sedikit saudarnya Makabe memperoleh kedudukan yang semakin kuat. Pada tahun 142 kemerdekaan Yehuda diakui oleh Raja Siria dan keturunan Simon Makabe menjdai pemimpin di bidang religius.
c.       Munculnya  Partai-partai Politik Keagamaan.
Pada abad ke 2 SM muncul tiga golongan dalam bangsa Yahudi, yaitu Faris, Saduki dan Esensi.
-          Faris berarti “terpisah”. Kelompok ini terdiri dari orang-orang awam yang berpegang mutlak pada Taurat dan tafsiran-tafsiran Kitab Suci yang dilakukan oleh para ahli Taurat sejak zaman Ezra.
-          Saduki, nama ini berasal dati nama diri Zadok, imam agung pada zaman Daud. Kelompok Saduki terdiri dari para imam kelas atas dan keluarga bangsawan dan kaya. Dalam hal agama mereka memegang teguh hanya pada Hukum Taurat yang tertulis.
-          Eseni merupakan kelompok yang berasal dari kaum imam yang sekitar tahun 150 SM mengundurkan diri dari kehidupan masyarakat ke daerah tepi Laut Mati, tempat yang sepi.
Pada dasarnya, dapat dikatakan bahwa yang membedakan kelompok yang sat dengan kelompol yang lain ialah sikap mereka terhadap Hukum Taurat. Sebagian besar peraturan dan hukum yang ada dalam taurat berasal dari masa lampau, sehingga banyak yang tidak cocok dengan kehidupan abad ke 2. Kelompok Saduki tidak mau mengakui kenyataan ini, mereka tetap berpegang teguh pada Taurat sebagaimana tertulis. Mereka menolak segala macam tafsiran yang mencoba menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Kelompok Ezeni melarikan diri dari masyarakat dan hidup di Qurman, suatu tempat sunyi di padang gurun Laut Mati. Hidup mereka mirip dengan hidup para leluhur. Hanya kelompok Farisi yang terbuka terhadap tuntutan zaman. Melalui penafsiran khusus, mereka menyesuaikan Taurat dengan situasi dan tuntutan yang baru. Mereka melakukan karena yakin bahwa Allah bermksud agar Taurat berlaku untuk segala zaman.



d.      Perkembangan Kitab Suci pada periode ini.
1.      Daniel, Ester dan Yudit
Penganiayaan yang dilakukan Antiokhus IV Epifanes terhadap bangsa Yahudi dan perang Makabe yang merupakan reaksi atas pemaksaan agama menjadi latar belakang penulisan ketiga kitab tersebut. Kitab-kitab itu ditulis dengan tujuan untuk menghibur dan memperkuat semangat perjuangan bagi Allah dan bagi tradisi nenek moyang.
2.      Tobit
Bangsa Yahudi sesudah pembuangan adalah bangsa yang hidup di diaspora. Untuk menolong dan membangkitakan semangat mereka dalam menghayati imannya di diaspora dituliskan kitab Tobit. Kitab ini mengajarkan bahwa ada penderitaan orang saleh, namun akan ada ganjaran jika ia setia kepada Allah.
3.      1,2 Makabe
Dua kitab ini tidak berhubungan satu dengan yang lain. Di dalamnya digambarkan latar belakang sejarah abad ke 2 SM dan perjuangan saudara-saudara Makabe melawan penindasan agama. 1 Mak menekankan peranan penting saudara-saudara Makabe, sedangkan 2 Mak meluhurkan karya agung Allah dalam seluruh perjuangan bangsa Yahudi.
4.      Yesus bin Sirakh dan Kebijaksanaan Salomo
Sebelum tahun 200 SM pengaruh helenis sudah terasa. Itulah sebabnya seorang bijaksana menuliskan kitab Sirakh dan Kebijaksanaan Salomo untuk membendung pengaruh helenisme. Putra Sirakh menyusun buku yang merangkum unsur-unsur berharga dari Taurat, kitab-kitab sejarah dan kitab para nabi untuk melindungi kawan-kawan sebangsa dari bujukan filsafat dan budaya helenis. Sekitar abad pertengahan abad pertama sebelum Masehi, seorang menulis buku kebijaksanaan, yang kemudian diberi nama Kebijaksanaan Salomo.
5.      Tobit dan Barukh
Pada abad 2 SM ditulis satu novel pendek mengenai seorang Israel yang saleh bernama Tobit, yang sesudah tahun 721 SM ia dibuang ke Asyur. Pada abad yang sama diterbitkan suatu buku kecil di bawah nama Barukh, sekertaris nabi Yeremia.
Pada abad-abad terakhir periode Perjajian Lama, para penulis senang memakai nama tokoh besar yang hidup pada masa lampau sebagai nama samaran. Dapat disebut sebagai nama-nama seperti Yunus, Daniel, Tobit, Salomo, Barukh, Henokh, Abraham. Dengan menggunakan nama-nama besar itu, penulis memberikan wibawa yang sangat besar pula pada tulisan.
Dari segi kanonisasi dapat dikatakan bahwa pada akhir periode Perjanjian Lama, menurut keyakinan orang Yahudi di Palestina, yang dianggap Kitab Suci adalah :
-          Taurat
-          Kitab nabi-nabi
-          Kitab Sejarah Deuteronomis
-          Dan beberapa tulisan terutama kitan Mazmur

Tidak ada komentar: